Selengkapnya!

fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, January 26, 2006

Taman yang membebaskan

Orang-orang mengangap dirinya nyaris tak punya cela. Temannya bahkan mencandai hidupnya tak ada tantangan lagi. "Rupawan parasnya, cerdas otaknya dan banyak hartanya". Sebagian besar perempuan menginginkan jadi kekasihnya. Banyak tempat pelesiran di ceruk benua telah di datanginya. Nyaris semua keinginan duniawinya bisa terpenuhi. Tapi tak ada yang tahu persis kehidupannya yang sebenarnya.

Seperti pada malam itu. Tito mondar-mandir menatap bayangannya yang sempurna di lantai kamarnya. Ia menuju jendela, menggenggam dingin teralis baja. Matanya menatap ke langit yang tak kuat lagi menahan beban. Titik-titik air mulai menyapu wajahya. Ia membiarkan air hujan membahasi tubuhnya.

Suara adzan yang membentur desau angin terdengar lemah. Tito menunduk. Hari terakhir buka puasa tahun ini terlewatkan. Sudah lama memang ia tak pernah mengalami buka puasa. Tapi malam ini terasa beda. Dia sendirian di rumah besar itu. Ayahnya lebih suka menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan.

Dia menatap bingkai foto yang berwarna kecoklatan. Foto ketika ia dan kedua orang tuanya berada di sebuah taman. Ia merindukan dipanggul ayahnya, melihat bunga-bunga, duduk-duduk di bawah pohon-pohon berakar tunjang. Tito suka memakai akar-akar yang menjuntai itu untuk berayun. Persis seperti monyet-monyet yang gelantungan di hutan belantara Kalimantan. Tak pernah ia takut jatuh. Ada rumput hijau tebal yang siap menangkap tubuhnya. Saat beranjak dewasa, keindahan itu memudar pelan-pelan. Sekarang semua musnah, tinggal kenangan.

Dan puncaknya adalah pagi itu. Dari kamarnya terdengar percakapan orang tuanya yang mula-mula hanya obrolan biasa. Lama-lama suara-suara itu mengeras. Tito tak begitu memperhatikan. Percekcokan seperti itu sudah sering terjadi setiap pagi. Tapi pertengkaran itu menghebat menjadi caci maki.

"Braak...
Sebuah benda mebentur lantai.

"Sudah gila kamu! "Menjijikkan. Pergi saja dengan perempuan sialan itu!"
"Hayo, mau mu apa? Menceraikan aku, hayo kalau berani!

Bukk..!
Plakk...!
"Diam!. Belum puas kamu menghamburkan uang-uang itu. Dasar perempuan belatung!"! Kamu tak berhak mengatur aku.

Plakk...
Brugggggggggg...

Bunyi itu mengesankan sesuatu yang berat jatuh. Kepala ibunya membentur tembok. Pembuluh darah di otaknya pecah. Ia koma dan tak pernah siuman, selamanya.

Sejak itu ia membenci pagi.

Setahun ini ayahnya memintanya mengurus perkebunan karet yang berhektar-hektar di Kalimantan. Bukan hanya pekerjaan yang membuat ia enggan. Tapi rutinitas harian yang mengharuskan bangun pagi dan bertemu orang-orang yang tak punya muka. Orang-orang yang tiap hari mencari mukanya yang hilang entah kemana. Terutama sekretarisnya.

Yang membuatnya muak, perempuan itu selalu menggodanya. Dari caranya berdandan dan bertutur, Tito tahu betul perempuan itu menginginkan uangnya belaka. Ia tidak menyukainya. Kalau mau, ia bisa memilih perempuan-perempuan di tempat clubbingnya.

Menjadi pimpinan puncak perusahaan pun tak membuatnya nyaman. Tiap minggu harus mengecek keadaan di lapangan dan urusan lain yang membuatnya makin tak betah. Tito memang tak menyukai bidang perkebunan yang telah dirintis ayahnya.

**

Ruangan kamar itu menjadi sempit. Baju-baju kotor teronggok di sudut. Buku, bantal, dvd berserak diatas kasur. Bi Yem yang selama ini mengurusnya pulang kampung minggu lalu. Mungkin sekarang ia sedang berhandai-handai di tengah-tengah keluarga besarnya. Menceritakan jakarta yang bak lampu petromax yang selalu mengundang daya tarik kunang-kunang. Tentang rumah yang besar-besar tapi miskin anggota keluarga. Tentang tempat-tempat nyaman, tapi banyak orang sibuk tak punya waktu. Tentang orang-orang pintar yang tak berperasaan?

Kepergian bi Yem mengusamkan kaca-kaca jendela. Debu tipis menyelimutinya.. Daun-daun kering berserak di teras. Entah ini malam takbiran keberapa yang ia lewatkan. Seingatnya, baru sekali ayahnya mengajak ke masjid. Dan ia ingin mengulang mnikmatnya malam takbiran. Memakai baju takwa dan sarung batik. Tak ketinggalan peci hitam pemberian kakeknya yang kini di surga.

Suara-suara takbir malam ini tak lagi sanggup menyejukkan dirinya. Suara takbir yang dibarengi dengan tetabuhan itu seolah mengajaknya berjoget. Ia lalu teringat malam-malam di tempat clubbingnya. Ketika berdansa, menenggak Dry wine, Vermouth, Cocktail wine, Cordial hingga Spirits. Perempuan-perempuan setengah telanjang yang mengelilinginya dalam keremangan. Hentakan musik yang makin keras menjelang dinihari. Orang-orang yang berjingkrak makin bersemangat.

Akankah ia akan mengulang petualangan malamnya?

Tito mendesah. Ia menuju ke rak koleksi dvd nya. Dia memunguti barang-barang itu lalu memasukkannya ke dalam kardus. Semua film bf dijadikan satu dalam plastik sampah. Tangannya menyusupke laci, mencari bong lalu menginjaknya. Poster-poster di dinding dirampas. Kemeja-kemeja yang kini kebesaran, koleksi dasinya yang jumlahnya melebihi hari dalam setahun ia kumpulkan jadi satu. . Ia mengangjutnya ke pekarangan belakang lalu ia membakarnya.

Di tengah guyuran hujan, dia melangkah keluar. Di seberang jalan tampak taksi parkir. Dia melambaikan tangan memanggil salah satunya.

"Malam pak. Tolong antarkan saya", Tito memecah beku.

"Saya perempuan. Kemana?

"Oh maaf. Ibu ternyata. Kemana saja.” Matanya mengusap-usap rambutnya yang basah.

"Panggil saja Maria."

Tito masuk duduk di kursi depan. Mereka berdua meluncur menyusuri jalanan. Udara yang menyembur dari ac mobil nyaris membekukan tubuhnya. Jalanan jakarta dini hari di malam takbiranitu benar-benar sunyi. Satu dua taksi yang lewat. Kendaraan lain tak ada.

Tepat di bundaran yang ada patung pahlawan, sayup-sayup ia mendengar suara canda ria anak-anak dan kecipak air. Makin dekat, terlihat jelas, anak-anak itu telanjang. Mereka mandi dalam kolam air mancur yang airnya kehijauan. Dalam keremangan lampu jalan, tubuh tubuh coklat itu makin mengkilat-kilat.

"Sudah lama menjadi sopir taksi?
"Sejak suamiku meninggal. Lima tahun lalu." Maria tetap menatap kedepan.
"Tidak pernah merasa jenuh dengan rutinitas itu?"
"Dulu saya seperti mereka, orang-orang yang terjebak pada rutinitas. Mereka terbelenggu persepsi-persepsi yang dianggapnya benar. Lahir, sekolah, menikah lalu mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya sampai tak tahu kapan harus berhenti. Mereka mengira semua itu bisa membahagiakan. Mereka seperti orang-orang yang tak punya kehendak pribadi.

Maria bersemangat menceritakan pengalman hidupnya. Ia pernah menikah dan mempunyai dua anak. Tapi perkawinan itu tak lama. Suami dan kedua anaknya meninggal dalam kecelakaan di tol ketika menjemput dirinya ke bandara. Waktu itu Maria pulang dari Taiwan sebagai TKI. Maria kehilangan orang-orang yang dicintainya. Perisitwa itu ayng membuat ia tak ingin memiliki apa-apa lagi.

"Bukankah semakin tak punya apa-apa, semakin tak kan pernah merasa kehilangan?, tanyanya yang tak meminta jawaban.

Seminggu dua kali, setelah narik taksi, Maria menjadi seorang guru. Dia mengumpulkan anak-anak jalanan yang tak mendapat kesempatan belajar di sekolah formal. Tanah kosong di bawah jembatan layang yang diapit dua jalan raya itu dijadikan sekolahan. Di kanan kirinya berbatas pagar kawat. Tiang-tiang penyangga jembatan itu terbungkus mural hasil cipta anak-anak didiknya. Tak ada gambar garuda pancasila. Yang ada poster Iwan Fals yang sedang berteriak mengepalkan tangan. Di bagian tengah sengaja di cat hitam, dipakai sebagai papan tulis. Sering ketika hujan, kelas itu terendam banjir. Sebelum pelajaran mulai, anak-anak membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di kursi-kursi.

Kelas diadakan sore hari. Ketika anak-anak berhenti bekerja. Mereka menjadi pengamen, penjual koran, pengasong makanan yang diambilnya dari ibu-ibu yang tinggal di deketnya. Karena mereka tak mandi, bermacam bau meruap bercampur dengan debu yang terbawa angin. Tapi semangat anak-anak itu melemah. Karena ibu guru Maria selalu memberikan pesannya: keajaiban akan datang ketika kita menginginkanya.

Anak-anak itu tak pakai baju seragam dan tak bersepatu. Buku tulisnya hanya satu. Dan pensil nya pun hanya satu. Buku pelajarannya dari buku bekas, orang-orang yang menyumbangkan. Tak ada tiang bendera. Lonceng tanda pelajaran berasal dari potongan sisa rel yang digantung. Cara menyembunyikannya hanya dengan memukul nya memakai potongan bambu.

"Bersama anak-anak, hidup saya menjadi lebih berarti. Aku tak punya uang untuk memfasilitasi mereka. Tapi saya masih punya sisa tenaga.

Tito khusuk mendengarkan. Ada kehidupan lain yang baru saja ia tahu.

"Sampai kapan kau akan melakukan itu?"

"Entah. Begitu banyak anak-anak dan orang tua yang tak beruntung. Mereka harus diselamatkan."

"Apa yang kau dapatkan dari semua itu?"

"Tak penting benar, bagaimana saya merasakan itu semua. Yang lebih penting Saya bisa menjalankan peran kita. Kita sedang berada di tengah-tengah perjalanan. Waktu kita hanya sedikit. Aku harus memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk berbuat baik.”

“Kita harus menjalankan perintah Tuhan"

"Perintah yang mana?"

"Situasi dan kondisi yang melanda kita setiap hari, itulah perintah Tuhan. Seperti yang baru saja aku ceritakan.

"Jadi orang-orang yang rajin ke tempat ibadah itu?"

"Tak perlu membahas orang lain. Lebih baik mulai dari diri sendiri."

“Waktu saya habis, Saya harus pulang. Pagi-pagi saya harus memberikan pelayanan”.

Tito memutuskan ikut pergi ke gereja esoknya.

Perasaan takut membayanginya. Bagaimana andai ketahuan dirinya yang muslim masuk ke gereja?. Jangan-jangan dikira penyelundup yang akan menghancurkan gereja-gereja pada malam takbiran. Tapi bisa Maria meyakinkan. Itu hanya permainan perasaannya saja.

Sebuah Gedung, tak ada papan nama. Hanya ada tulisan dari kuningan berwarna emas menempel di tembok: Wisma Agung. Ternyata gereja itu berada dalam sebuah Wisma di lantai dua. Waktu itu tahun 1988, ketika kerusuhan terjadi, gereja itu menjadi sasaran amarah orang-orang yang rasis. Dan Gereja itu hancur, rata dengan tanah.

**
Tito menyerahkan semua tabungan dan barang-barang yang kini dianggapnya beban. Ia meninggalkan pekerjaan yang dianggapnya telah mengkerdilkan dirinya. Ia sadar bekerja adalah cari duit, cari muka, cari pengaruh dan cari status. Tak hanya itu, ia merasa semua kepemilikannya itu telah membuat dirinya menjadi budak. Karena semua pikiran dan tenaganya diarahkan untuk selalu mengumpulkan uang lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Tito melenggang ke jalan. Ia pergi, berkeliaran mencari kebebasan dan kebahagiaan di setiap ruasnya. Kini ia sadar, hidup adalah sebuah pengembaraan yang tak pernah mengenal kata pulang.


Selengkapnya!

Tuesday, November 22, 2005

perasaan perempuan

Seorang wartawan. Dia melihat suatu peristiwa kebakaran dahsyat di depan matanya. Apakah akan terus mengabadikan peristiwa hebat itu? Sementara ada banyak ibu-ibu yang meraung-raung minta tolong untuk menyelamatkan bayi-bayinya?

Mana yang harus didahulukan? Pekerjaan, karena moment itu tak mungkin terulang? Atau mengesampingkan tugasnya sebagai jurnalis dan mengedepankan kemanusiaannya dengan memberikan pertolongan?

Memang tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu.

Hari ini saya sedih banget, membaca blog milik temanku. Dia menceritakan kekecewaanya karena teroris Azahari tertangkap. Bisa jadi kemungkian ada bom meledak berkurang. Akibatnya akan susah mencari berita "breaking news" yang bersambung-sambung.

Dan itu menyebabkan pengakses situsnya turun. Kalau sudah turun, tentu pemasang iklan sebagai andalan modal akan berpikir ulang untuk memasang banner. Kalau tak ada klien tak ada pemasukan. Dan kalau tak ada pemasukan... kalau dan seterusnya.

Aneh, dia hanya berpikir kematian azahari hanya berkaitan dengan pageviews. Tak ada yang lain.

Dia menulis tanpa beban, ringan seperti menenteng bulu angsa di telapak tangan. Dan kesedihan yang diceritakan itu menurutnya unik. Bisa jadi benar, karena aku yakin pasti hanya sedikit orang yang berperasaan sama seperti itu. Buktinya ketika aku tunjukkan ke teman yang lain, teman itu geleng-geleng kepala. Bahkan ada yang men"cap" tidak punya hati nurani. "Bodoh!", komentar teman lain.

Pemilik blog itu adalah seorang perempuan. Islam. Berjilbab. Dan tentu saja beriman. Tapi aku tidak tahu seberapa karung dia telah memperoleh iman. Untuk urusan pekerjaan memang dia super top. Dedikasinya sangat tinggi, tak ada bandingannya diantara teman-temannya. Tentu saja prestasinya itu membuat dia cepat menduduki jabatan tinggi.

Ide-idenya selalu klop dengan bosnya. Dan begitu juga sebaliknya. Apapun yang dikatakan bosnya, dia selalu ok. Dia Mendukung seratus persen tanpa bantahan ataupun argumen apapun. Totalitas yang sempurna.

Tapi apakah memang untuk mencapai tujuan harus dengan berharap orang lain menderita? Entahlah, semoga saja tetap ada berita "besar" yang tidak perlu memenderitakan seseorang.


Selengkapnya!

Monday, November 21, 2005

laskar pelangi

Keajaiban itu akan datang kalau kau menginginkannya. Mungkin begitu inti novel laskar pelangi andrea hirata. Membaca novel ini aku seperti menceburkan diri ke laut. Semua basah oleh semangat yang digelorakan andrea melalui tokoh-tokohnya. Mulai detik ini aku punya kesadaran baru. Di hatiku yang paling dalam telah kuterakan: aku harus menjadi penulis hebat.

Andrea mengaku tak punya background sastra. Tapi novel pertamanya begitu memukau. Tak hanya materi ceritanya yang original, alur ceritanya pun sanggup memaksa pembaca untuk terus membaca lembar demi lembar sampai halaman terakhir. Aku menyelesaikan hanya dalam waktu 1 hari saja (529 halaman).

Novel ini menceritakan sebuah kisah yang sederhana dan klasik. Semangat untuk menggapai cita-cita tanpa kompromi. Masalah-masalah yang dihadapi tokohnya begitu tak terduga, menerobos dan original. Lintang, harus mengayuh 80 km untuk mencapai sekolah miskin mirip gudang kopra. A kiong yang beragama kong hu cu masuk sekolah muhamadiyah. Trapani, laki-laki tampan yang tak bisa berpisah dengan ibunya. Sahara, satu-satunya anak perempuan di kelas itu sebelum flo pindah dari sekolah elit.

Setiap habis hujan mereka biasa memanjat pohon tua disamping gedung sekolahnya untuk menikmati indahnya pelangi. Diatas pohon filicium itulah kesebelas anak itu berikrar untuk membentuk sebuah persahabatan: laskar pelangi.

Sepak terjang laskar pelangi dengan fasilitas yang sederhana bisa mendobrak keadaan menjadi sebaliknya. Selama 15 tahun selalu kalah dalam loba karnaval dan uji kecerdasan membuat laskar pelangi bangkit. Dan dengan usaha habis-habisan akhirnya Lintang bisa memenangkan uji kecerdasan di tingkat kabupaten. Juga ekspresi seni gagasan Mahar sanggup mengalahkan SD favorit kaya yang selama ini menjadi pemenang.

Andrea, penulisnya yang lahir di belitong sangat berbeda dengan pendahulunya dalam penulisannya. Generasi sebelumnya biasanya memakai kata-kata yang mendayu-dayu, panjang-panjang dan bersayap, andrea dengan cerdas memakai kata-kata yang lugas, jujur dan mempesona. Ada yang bilang karya andrea ini bisa dikelompokkan dalam genre "sastra riset".

Memang, dari awal sampai akhir novel, andrea begitu detail dalam mendeskripsikan tingkah laku tokoh dan tempat kejadiannya. Juga anama-nama latin tanaman dan hewan bertebaran disetiap bab. Selain mengobarkan semangat, novel ini lucu dan mengharukan.

Dalam wawancara dengan koran pikiran rakyat, andrea akan membuat trilogi. Buku keduanya Edensor adalah sebuah lanjutan dari masa-masa perjuangan saya bersama teman-teman saya yang termarginalkan. Buku ketiga tentang patriarki dalam budaya orang Melayu. Bagaimana seorang wanita Melayu melawan budaya patriarki dengan cara yang unik.

Hebat...!


Selengkapnya!

Saturday, November 19, 2005

kutbah dari masjid

Jumat, orang islam berhenti dari semua kegiatan apapun ketika hampir jam 12.00. Aku memakai baju lebih rapi dari biasanya untuk ke masjid. Aku sengaja berangkat lebih awal, takut tak kebagian tempat . Tampak diluar sudah berderet orang-orang berjalan ke satu titik, semua laki-laki. Banyak dari mereka yang memakai "daster" putih. Ada yang kepalanya diikat kain, udheng-udheng mirip aa gym. Ada yang tak mencukur jenggotnya sampai lebat.

Orang berbaris menuju shaf-shaf yang belum terisi. Waktu shalat sudah masuk. Orang-orang duduk diam. Senyap. Muadzin berdiri tegak, tangannya memegang mik lalu mengumandangkan adzan. Dilanjutkan dengan khutbah dari khatib. Ceramah hari ini seperti minggu-minggu lalu. Di awal selalu menggunakan bahasa Arab. Hari ini bahasa Arab yang digunakan panjang banget. Aku tidak tahu apa artinya. Apakah itu semacam kata pembuka, doa atau memang sudah seharusnya begitu. Baru setelah itu memakai bahasa Indonesia.

Di sebuah kampung di jateng, pernah sepanjang khutbah malah memakai bahasa Arab semua. Di tengah-tengah khutbah, khatib tunjuk jari keatas. Akhirnya aku tau, itu maksudnya doa dan peserta shalat harus mengamininya.

Kalau aku perhatikan, terlalu banyak perbedaan dalam sholat. Ada yang niat sholatnya diucapkan keras, yang lain cukup dalam hati. Ada yang memakai basmalah. Ada yang langsung ke ayat Alhamdullihah...... Setelah mengangkat tangan ada yang sedekapenya lurus, tapi aku melihat sampingku sikunya lebih ditaruh di sisi kirinya. Ketika tahiyat dan jari menunjuk, ada yang lurus tunjukannya, ada pula yang bergoyang-goyang.

Yang lebih ekstrim, (khutbah yang di sampaikan khatib) tak kalah banyaknya. Salah satunya extrimis yang memahami ayat sepotong-sepotong.
Dan aku sependapat dengannya. Tapi aku tidak tahu benar atau salah pendapatku itu. Karena kebenaran sangat tergantung tempat dan waktu. Dulu pejuang kemerdekaan indonesia disebut belanda kaum ekstrimis dan harus dimusnahkan. Juga jaman orde baru banyak orang-orang diculik dan dibunuh. Sekarang bisa jadi kebalikannya.

Masih kata pak khatib, perbedaan itu wajar, karena nabi menyuruh untuk melakukan shalat seperti nabi shalat. Dan wajar saja jika lalu orang melihat dari arah yang berbeda-beda. Hasilnya seperti yang baru saja kusaksikan.


Selengkapnya!

Wednesday, November 16, 2005

syawalan abu-abu

Kemarin ada undangan dari kantor untuk merayakan halal bihalal. (Aku lebih suka menyebutnya Syawalan.) Tertera dalam undangan, acara dimulai pukul 18.30 di bebek bali senayan. Tapi jam segitu orang-orang masih sibuk sholat magrib di kantor. Ada yang baru buka puasa dengan indomie rebus.

Selanjutnya masih saling tunggu. Mobil untuk menuju kesana kurang, karena mobil yang disediakan hanya tiga. Sisanya numpang di kendaraan teman yang kebetulan bermobil ke kantor. Terpaksa satu mobil kijang ada yang bersepuluh orang. Jalanan cukup macet, waktu peak jam pulang kantor.

Sampai di bebek bali, aku dan teman-teman semobil datang paling awal kedua. Di depan pintu masuk, ada seorang ex karyawan sudah menunggu. Beramai-ramai kami menaiki tangga menuju lantai dua. Ruangannya memanjang. Di panggung, selain ada peralatan band, bertengger sepeda motor antik. Di samping kiri sudah tertata hidangan yang menggugah selera. Di meja paling ujung warna-warna minuman dalam gelas tampak coklat, merah, hijau dan bening berjajar rapi. Tiang-tiang berselimut kain kotak-kotak dan ukiran kas bali. Uap air dari Ac terasa dingin, ruangan masih lengang.

Ada dua ruangan. Ruangan dalam ber ac yang ada tanda larangan merokok dan ruangan luar yang beratap langit. Hanya sedikit kursi yang di sediakan di tempat ini.

Tak lama, teman-teman dari divisi lain datang berkelompok-kelompok. Dan seterusnya mereka mencari meja-meja kosong dan duduk dengan teman-teman sedivisinya. Terutama para perempuan. Kecuali hanya beberapa orang saja. Makin banyak orang yang tak aku kenal. Orang-orang baru yang memang tak pernah dikenalkan. Mungkin karena dari divisi yang berbeda dan menempati ruang yang berbeda pula. Atau bisa jadi aku yang kurang gaul.

Acara pertama diisi oleh pak direktur utama. Suara speakernya sangat jelek, tak terdengar sampai kebelakang. Ditambah riuhnya anak-anak yang bercengkerama karena jarang ngumpul. Aku tak mendengar dengan jelas. Intinya minta maaf, harus kerja lebih keras lagi karena tantangan lebih berat.

Lalu sambutan dilanjutkan oleh seorang yang mewakili karyawan. Untuk yang ini aku mengabaikan, toh tak penting kan. Perutku sudah tak sabar ingin segera mendapatkan mangsa.

Mendadak, orang-orang menyerbu makanan yang telah disiapkan. Aku terlambat masuk barisan yang sudah panjang. Aku berbalik langsung mengambil buah dan kue-kue kecil yang masih sepi. Juga air putih dan sup krim jagung. Lalu balik lagi mengambil sate. Nyam..nyam..nyam... Ternyata ada yang mengambil porsi lebih banyak dariku. Sepiring penuh nasi dan setumpuk lauk komplitnya.

Acara makan berakhir pukul 09.00. Kami langsung pulang. Tak ada acara salam-salaman. Entah karena keburu pulang atau pembawa acara kelupaan mengagendakan. Acara syawalan berubah menjadi hanya acara makan bersama saja.


Selengkapnya!

shalat standar

Sudah dua hari ini aku sengaja shalat ke masjid raya PI. Karena kantor tak menyediakan mushola. Kalau terpaksa shalat, berada diantara deretan meja-meja kosong. Atau di ruang server, dibelakang kursi salah satu karyawan. Ada mushola yang berada di basement 1. Didalamnya hanya ada kipas angin, dan luasnya sekitar sepuluh meter2.

Aku ternyata masih beruntung. Orang islam di AS harus shalat di tikungan-tikungan tangga, di sela-sela ruang-ruang sempit kuliah. Sangat jarang yang menyediakan fasilitas shalat. Di Paris memakai jilbab saja dilarang. Bolehnya hanya kalau berada di masjid atau rumah. Selain itu tak ada kebebasan waktu untuk shalat seperti di jakarta. Hmm .. aku belum juga memaksimalkan keberuntunganku itu.

Di dalam masjid berlantai marmer mengkilat itu, berjalan pemuda yang tangannya panjang sebelah. Tangan kirinya lebih kecil dan pendek daripada tangan kanannya. Aku sering melihat dia shalat di masjid raya PI. Pakaiannya sangat sederhana. Kontras jika dibandingkan dengan para musafir yang rata-rata bermobil.

Kulitnya hitam dan kasar. Dia datang selalu lebih awal sehingga selalu menempati shaf pertama. Ketika dia mengangkat tangan, lengan kirinya tidak terangkat keatas, tapi malah menyamping. Menyenggol orang yang berada disamping kirinya.

Kalau dia rukuk atau sujud, hanya dengan satu tangan. Tangan kirinya tak sanggup menopang tubuhnya yang hanya kecil. Suatu waktu aku shalat berdampingan dengan dia. Setelah selesai shalat dan bersalaman. Aku memandang dan dia membalas dengan senyum.

Aku bertanya, "Tiap hari sholat disini?"

"Setahun ini, Aku kerja di sini". Dia menjawab sambil membetulkan celananya panjangnya yang digulung.

"Oh, selalu shalat berjamaah?"

"Pasti".

"Hebat".

"Itu belum apa-apa mas " Masih standar. Itu baru sebatas kewajiban." Kita belum berhak meminta kepada Tuhan.

"Jadi?

"Untuk meminta kepada Tuhan, ya kita harus melakukan lebih dari standar. Misalnya shalat hajat, tahajud. Puasa senin kamis dan puasa lain. Tapi jangan melupakan juga shalat sosial.

"Ya, ya, ya. Aku mengangguk.

Termangu.


Selengkapnya!

Saturday, November 12, 2005

pertaruhan terbesar

Menyeberang jalan lebih berbahaya daripada naik gunung. Kalimat itu aku baca dari majalah intisari, ketika aku masih sekolah dasar. Aku ingat betul, betapa aku sangat tak percaya. Aku masih tinggal di kampung yang nyaman waktu itu. Mobil jarang, apalagi kemacetan.

Dua bulan ini, terasa benar-benar nyata pernyataan itu. Menyeberang jalan menjadi sesuatu yang aku enggan melakukannya. Tak hanya berbahaya, tapi juga mengerikan. Karena aku harus kerja naik angkot.

Seperti pagi ini. Turun dari angkot aku bersiap menyeberang. Benar-benar siap-siap memperkirakan kapan waktu yang tepat aku harus mulai mengangkat kaki. Aku memperhatikan ke arah datangnya mobil dan motor.

Jalan didepanku dibagi menjadi dua jalur. Masing-masing jalur ada dua lajur. Dua lajur menuju ke arah pim dan sebaliknya. Untuk para pengendara tentu saja ini bagus. Kemacetan berkurang karena kendaraan yang melewati kolong tak terhalang lampu merah.

Tempat aku menyeberang kira-kira dua ratus meter dari perempatan lampu merah. Tepat di sebuah belokan.

Senin memang hari yang sibuk. Sudah bermenit-menit aku berada di pinggir jalan, kendaraan tak surut. Mobil berjalann beriringan, karena tak bisa menyalip. Dua lajur jalan yang dipisahkan dengan tanda strip-strip itu penuh. Tak ada kesempatan untuk berpindah lajur.

Ketika iring-iringan mobil nyaris habis. Lampu hijau tampaknya sudah menyala kembali. Jeda waktu nyala lampu merah dan hijau hanya beberapa menit. Mendadak motor-motor meluncur berada di barisan paling depan saling berebut untuk lebih cepat. Suara mesin memekakkan telinga, uap putih mengaburkan pandangan di seberang jalan. Aku tetap diam, menunggu. Kali ini aku hanya menatap bayanganku yang memendek.

Aku lihat jam, pukul 09.30. Satu jam sudah aku telat. Dan setiap senin, banyak pekerjaan yang mesti kelar. Aku harus lebih memberanikan diri, kalau tidak waktu telatku makin panjang. Ketika saat yang tepat yang aku perkirakan itu tiba, di depanku lewat sebuah gerobak bakso dan nasi goreng dan bajai beriringan. Aku tak bisa memotong jalan salah satunya.

Tiba-tiba kepalaku jadi gatal. Debu dari asap knalpot yang hitam menempek pada kulit yang lembab oleh keringat. Tanpa aku sadari sudah sekitar sepuluh orang berderet di samping kiriku. Rupanya perempuan-perempuan itu lebih takut dariku. Salah satu dari mereka ada seorang wanita hamil.

Aku jadi kepikiran, kenapa pengembang tidak membangun jembatan penyeberangan? Sudah nasib pedestrian jakarta yang malang. Disepanajng jalan, trotoar hanya dibangun untuk pelengkap saja. Dan pemerintah tak juga memperhatikan.

Hari makin siang. Jumlah kendaraan makin ramai dan makin kencang lajunya. Inilah saat yang tepat itu, aku dan perempuan-perempuan itu nekad lari terbirit-birit menyeberang. Suara klakson bersahut-sahutan, mobil meluncur tanpa mengurangi kecepatan. Anda salah satu penyeberang jalan itu tersandung batu, atau kakinya sendiri karena terburu-buru? Mudah-mudahan tak akan terjadi.


Selengkapnya!

Saturday, October 22, 2005

niat jahat

Ketika niat melintas lintas di hati, otak secara reflek mencari alasan pembenaran. Otak menyediakan beragam cara untuk mewujudkan. Setan mendengarnya. Dengan sigap langsung menelusup ke dalam urat darah seluruh tubuh mengobarkan semangat. Hasilnya hari ini aku tidak puasa.

Dahsyat. Setan yang mendengar tak pakai telinga, bicara tak pakai mulut, langsung menohok pusat jantung kita, membisik-bisikan kata-kata yang melenakan. "Bukankah masih ada besok pagi untuk berbuat baik. Sekali ini saja, Tuhan kan maha pemurah, pasti dia memaafkan kesalahanmu hari ini.

Dan aku pun tertarik. Menimbang-nimbang sebentar, walau keputusan akhir sudah ada. Kuatnya bisikan setan itu, merontokkan benteng pertahanan yang aku bangun.


Harapan-harapan kenikmatan yang dilambungkan setan, ternyata hanya sebentar saja. Setan bersuka cita berhasil mendapatkan teman baru. Teman bodoh yang mau dikelabui. Katanya sih teman-teman bodohnya itu nanti akan dimanfaatkan setan sebagai pijakan setan untuk meloncat ke surga.

Setan yang banyak dosa menempati lapisan neraka yang paling bawah. Neraka yang paling menyakitkan. Sehingga dia akan kesulitan untuk meloncat ke surga. Boro-boro meloncat, dia pasti lumat oleh panasnya neraka.

Tapi setan kadang lebih cerdas dari kita. Dia tak ingin selamanya berkubang dalam laahr panas, maka dia mencari teman. Bukan teman sebenarnya, tapi mungkin mirip budak. Teman-teman inilah yang ditumpuk sesuai kemapuan setan sampai tinggi, sehingga memudahkannya meloncat ke surga. Itu nanti ketika hari akhir tiba.

Hari ini aku telah menjadi pijakan setan. Aku dengan sadar ikut mengantarkan setan untuk menuju surga. Tapi aku masih punya kesempatan untuk melemparkan setan ke lapisan yang paling bawah lagi jika aku mau. Ini sesuai kesepakatan Tuhan dan setan dulu kala. Setan itu demokratis. Hanya mengajak orang-orang yang mau diajak. Tak pernah memaksa.

Mulai hari ini, aku susun kembali kekuatan untuk lepas dari sekedar mejadi pijakan setan. Lepas dari pengaruh lewat bisikan-bisikan yang tak pernah lengah.


Selengkapnya!

Tuesday, October 18, 2005

Voces Inocentes

Setingnya di El Savador, film ini menceritakan seorang ibu dengan tiga anak yang berusaha bertahan di daerah konflik. Suaminya pergi ke Amerika ketika hujan deras. Tanpa ada kata perpisahan dan lambaian tangan. Meskipun Chava (11) berusaha mengejar sampai jembatan kayu depan rumah sambil memanggil-manggil nama ayahnya.

Peristiwa itu terjadi tahun 1980 an ketika terjadi perang sipil. Pemerintah berusaha memadamkan pemberontakan yang berusaha mengambil alih kekuasaan. Nyaris tiap saat terjadi baku tembak. Di saat seperti itu Chava dan ketiga adiknya langsung masuk rumah, membalikkan kasur dan bersembunyi dibawahnya. Rumahnya yang berdinding papan dan beratap seng makin membisingkan peluru-peluru yang berseliweran menerobos jendela.

Si kecil, Ricardito, meraung-raung memanggil ibunya. Bersamaan dengan itu kaleng diatas meja terjatuh kena peluru. Isi kaleng buyar keluar dan salah satunya lipstik warna merah. Dengan lipstik itu Chava dan Maria mencorengi wajahnya untuk menghibur Ricardito. Ketiganya kelelahan lalu tertidur berpelukan ketika Kella, ibunya pulang dari kerja.

Korban tiap hari berjatuhan. Salah satunya adalah tetangga perempuannya, teman sepermainan. Juga penduduk sipil yang tak berdosa. Pada hari-hari tertentu tentara pemerintah yang tidak disukai penduduk menculik anak-anak diatas 11 tahun untuk dijadikan tentara.

Puncaknya, tentara pemerintah datang ke sekolahan Chava untuk mengambil anak-anak yang polos itu menjadi tentara. Lonceng dibunyikan, semua anak berkumpul di halaman. Seorang tentara menodongkan senjata ke kepala sekolah untuk membacakan nama-nama anak yang akan diambil untuk mengikuti latihan militer. Bocah-bocah yang masih berseragam itu tak punya pilihan lain, menuruti atau ditembak mati. Salah satu teman chava, Temo ngompol di celana.

Hari berlalu, saat itu Chava dan teman-temannya bermain di pinggir kali. Tanpa diduga Temo datang dengan seragam militer. Juga dia membawa senapan. Temo kini sudah berbeda, dia dengan sombongnya merendahkan Chava dan temannya. Chava hanya bisa diam, karena beberapa jkali Temo menembakkan senjatanya ke udara.

Secara diam-diam, tentara pemerintah akan mengadakan perekrutan ke rumah-rumah. Kabar ini diketahui teman Chava yang menjadi pejuang. Chava lalu menulis di kertas-kertas lalu membagikan ke setiap pintu. Ketika tentara pemerintah datang, tak ada anak-anak yang muncul. Mereka semua bersembuyi ke atas atap, terlentang menatap matahari.

Film drama banget yang disutradarai Luis Mandoki ini begitu menyentuh dan sangat layak tonton. Tak hanya laris di negerinya sendiri, film produksi 2005 ini telah memenangi banyak penghargaan:

  1. Menang Golden Space Needle Award kategori best Film pada Seattle International Film Festival
  2. Menang Stanley Kramer Award pada PGA Golden Laurel Awards
  3. Menang Glass Bear kategori Best Feature Film pada Berlin International Film Festival
  4. Nominator Golden Kinnaree Award kategori Best Film pada Bangkok International Film Festival
  5. Nominasi Silver Ariel kategori Best Sound, Best Editing, Best Direction, Best Cinematography , Best Art Direction , Best Actress
  6. Menang Silver Ariel kategori Best Supporting Actress, Best Special Effects , Best Make-Up pada Ariel Awards, Mexico


Selengkapnya!

Saturday, October 15, 2005

motivator tersembunyi

Kekecewaan, merasa diperlalukan tidak adil, benarkah salah satu motivator dahsyat untuk memaksimalkan kemampuan diri? Mari kita baca cerita-cerita disini.Pagi ini aku mendapatkan pesan via ym. Tak biasanya sepagi ini dia menyapa. Dengan bahasa yang "formal" dia pamit. "Mulai Akhir bulan, saya tidak disini, saya pamit". Hebat. Selamat ya, aku jawab taklahah bermaksud formal. Dari perbincangan singkat pagi itu, dia mendapat tempat yang lebih baik dibanding disini.

Dia memutuskan pergi ketika dua minggu lalu terjadi konflik, mungkin dia merasa dipojokan. Tugas-tugas yang diberikan dinilai tidak beres-beres oleh atasan. Perbantaian kata-kata lewat milis terjadi. Dan semua anggota ikut membacanya.

Kurang lebih sebulan yang lalu, si Xzzz juga pergi. Entah kenapa dia tidak pamit. Kabar yang terdengar dia cuti. Tapi aku tak percaya. Terakhir lewat ym dia curhat. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja posisi supervisornya diambil tanpa pemberitahuan.

Menurut dia, dia tidak tahu alasan itu. Dugaannya, mungkin karena dia sering tidak masuk. Bukan tidak disiplin, tapi karena sakit. Juga sering dia datang telat, sangat siang baru sampai ke kantor. Tapi masih menurut dia, semua pekerjaanya beres. Jadi bukan itu alasan kuatnya. Lalu apa?

Dari isu-isu yang beredar, katanya dia kurang bisa berkomunikasi dengan partner kerjanya. Bahkan buruk, pernah bentrok dengan desainer kanal yang dikelolanya. Tapi semua itu dibantahnya. "Wajar kan ada perbedaan ide, begitu jawabnya tenang.

Mirip dengan kasus itu menimpa teman lainnya. Namanya Yxx, hanya saja dia bergabung di tempat ini lebih dulu dibanding Xzzz. Dia diterima sebagai wartawan. Kinerjanya dinilai baik, sampai dia dipercaya sebagai penanggung jawab Rubrik. Lalu perusaan berkembang dan bikin anak perusahaan. Konflik bermula dari sini. Dia langsung dikasih job yang sama sekali berbeda dengan tugas-tugasnya sebagai wartawan. Juga tanpa pembicaraan lebih dulu. Tentu saja dia menolak.

"Saya kan wartawan, masak disiruh jadi uploader, tangkis dia.
"Kan dulu di Sk tak disebutkan secara khusus sebagai wartawan?, bantah seniornya.
" Kalau begitu, bisa saja dong saya nanti disuruh bikin kopi, begitu percakapan yang diceritakan kepadaku.

Endingnya tentu sudah bisa ditebak. Dia mengundurkan diri. Saat ini dia mengelola sebuah situ kajian budaya, novelis dan penulis lepas di beberapa media.

Satu satu temanku pergi.

Kekecewaan yang dialami, menggumpal menjadi sebuah "dendam" pembukitan diri. Dan mereka semua berhasil melewati dengan baik. Andai peristiwa-peristiwa itu tak ada, akankah mereka akan terlecut dan menjadi seperti sekarang?

Bisa saja ya. Bukankah banyak alasan/ cara yang membuat seseorang bersemangat tanpa terluka? Memang luka bisa disembuhkan, tapi bekasnya tetap ada.


Selengkapnya!