fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, March 19, 2004

ego sampai di mana

kepergian DIA tak ada yang merasakan, mungkin juga karena dia tak mewartakan. Entah pengamatanku yang keliru atau memang begitu keadaan yang sebenarnya. Sempat terlintas di benak, kenapa mereka seolah melupakan. Ingatanku terpaksa aku balik ke waktu lampau, 3 tahun silam.

Pertemuanku dengan dia terjadi secara tak sengaja. Kebetulan waktu itu kami sama sama menuju ke tanah kelahiran, diajak kakaknya yang kebetulan temanku juga. Memandang dia saat pertama, tak ada yang aneh, semua tampak wajar. Seperti yang teman-teman lain yang berada dalam satu mobil.

Dalam perjalanan kami becanda, ngobrol, dan membahas topik topik yang tidak berat. Semua tampak ceria. Tapi DIA diam saja. Wajar mungkin karena merasa dia orang baru atau memang dia mempunyai pembawaan yang tenang dan tidak ┬┤bocor┬┤. Selama dalam perjalan, tak sepatah katapun terdengar dari DIA. Keunikan terjadi setelah perjalanan kurang lebih telah lewat 2 jam.

Didalam mobil dia menyalakan rokok dan mengisapnya. Bisa dibayangkan suasana di dalam mobil yang ber AC. Dan tindakannya itu tentu saja menuai protes dari kami yang tidak merokok!.

Tapi DIA cuek aja. Tidak berkomentar dan tidak pula membela diri atau menghentikan perbuatannya. Dari sini aku mulai memikirkan dan mengamati dia lebih teliti. Kenapa dia bisa bersikap cuek seperti itu? Apalagi dia menumpang, tak adakah rasa toleran terhadap kami kami? Kami berusaha sabar.

Saat sholat dzuhur tiba, dan kami mencari masjid di salah satu pinggir jalan. Ternyata dia ikut sholat berjamaah. Bertolak belakang dengan sikapnya yang tidak biasa di dalam mobil. Semakin unik ini orang, sanggup cepat mengubah perilaku dalam waktu relatif singkat.

Hmmm.. orang ini kayaknya tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Tapi memang setiap orang itu unik, tak ada yang sama, seperti wajah wajah mereka. Memang tak ada yang sama, walau kembar identik sekalipun.

Dan ternyata sampai hari ini pun, perilakunya nyaris tidak berubah. Dan perilaku itulah yang mengantarkan dia pergi dari tempat ini.

Dan tak dia kembali.

Entah, apakah dia memang sepatutnya harus pergi? Seandainya saja lebih bisa bersabar dan menyadari...
bahwa setiap orang itu unik, sama sekali berbeda dengan diri kita. kalau tidak kita siapa yang mesti memakluminya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home