fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, April 28, 2004

Ketulusan yang nyaris sempurna

Hari ini ada cerita yang tak terduga dari temenku. Dia kerja di sebuah panti sosial. Panti yang tidak hanya mengurusi anak jalanan tapi orang-orang tua papa dan orang sakit jiwa. Ya orang yang sakit jiwa dalam arti yang sebenarnya. Orang-orang yang lupa ingatan, tidak mengerti siapa dirinya dan orang lain. Ane teman saya itu sudah cukup lama bersama dengan mereka. Ane tidak mendapatkan gaji dari situ, tapi malah memberikan sumbangan sejumlah dana untuk tiap bulannya. Karena dia tahu dana yang masuk ke panti itu tak pernah cukup untuk mengelola sebuah panti yang berisi kurang lebih 50 orang.

Memang cukup kecil untuk ukuran sebuah panti. Tapi cukup berarti bagi sebagian para penghuninya. Bagi mereka yang sebelumnya hidup di jalanan, jarang makan dan mandi, kini keadaanya sudah cukup berubah. Ada kegiatan baru disini, belajar dan bermain bersama. Juga sekarang sudah ada kegiatan makan pagi dan mandi yang ditentukan jadwalnya. Ada keteraturan disini. Tentunya itu sangat menyenangkan bagi anak-anak yang selamam ini dipaksa mencari uang dengan mengamen.

Tapi tak semua penghuni panti senang, apalagi anak-anak yang masih belum mengerti perlunya pendidikan. Karena selama ini dia sudah bisa menghasilkan uang dari jalanan. Suatu pengalaman yang menarik, menurut Ane, ketika dia bercengkerama sambil belajar dengan mereka. Banyak celotehan yang mengejutkan dari anak-anak yang masih polos itu. Anak-anak itu memandang sesuatu sangat berbeda dibandingkan dengan anak kebanyakan yang tinggal di rumah.

Bagaimana Igor, salah satu penghuni melihat bahwa semua orang dewasa itu jahat. Lain dengan Bone yang menganggap jalanan dan di dalam bus adalah tempat main main mereka. Menyenangkan karena ketemu dengan orang yang selalu berbeda tiap saatnya. Dan dia bisa tidur dimana saja, tak harus selalu di tempat tidur, tapi dia nyaman dan tak pernah sakit.

Menurut Ane tugas mengajari anak-anak jalanan masih jauh lebih mudah dibanding dengan menghadari orang-orang yang sakit jiwa. Selain mereka sudah tidak mengerti bahasa, mereka tentu susah diatur. Dan ini perlu kesabaran yang sangat ekstra. Bisa dibayangkan bagaimana Ane menyuap mereka yang enggan makan, dan memandikan mereka-mereka. Suatu pengorbanan yang total, tulus dan nyaris sempurna.

Entah sampai kapan dia akan bersama-sama mereka. Menurut rencananya, bahkan dia akan membuka panti lagi seandainya proposal yang diajukan ke sebuah departemen disetujui.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home