fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, April 21, 2004

Preman kampung

Akhir akhir ini preman kampung seolah menterorku. Sesungguhnya mereka bukan preman yang sebenarnya. Menurutku mereka itu hanya orang-orang yang memanfaatkan kesempatan. Ketika ada orang baru yang mereka belum kenal, dia memperkenalkan sebagai peminpin ¨anak-anak¨ di wilayah ini. Dengan menetapkan segala peraturan yang dibuatnya. Intinya: minta uang.

Agak ngeri juga ketika suasana dihadapkan pada kelima preman kampung itu. Bukan sayang pada uang yang akan dikeluarkan. Cuman ada perasaan tidak nyaman ketika tiba-tiba dia meminta uang sejumlah tertentu. Seolah-olah mereka penguasa kecil di wilayah itu. Penguasa yang sebenarnya hanyalah rekaan dia sendiri. Dia megnklaim akan menjamin keamanan di wilayah yang dipegangnya. Padahal mereka sendiri lah maling-malingnya.

Kengerian itu lebih disebabkan seandainya tiba-tiba mereka langsung menggunakan kekerasan. Bukan kita tidak bisa menggunakan hal serupa, tapi selayaknya mungkin kita mesti memakai cara lain untuk menaklukkan mereka. Setidaknya mereka harus ngerti bahwa kita tuh bukan seperti anggapan mereka, dengan ketakutan mau menyerahkan sejumlah uang untuk preman dan teman-temannya.

Kenapa para preman itu sedemikian memaksakan perilakunya? Tak adakah ide lain untuk mencari uang yang lebih keren? Kayaknya tak pernah mereka sampai ke pemikiran seperti itu. Yang mereka pikirkan hanyalah apa yang ada di depan matanya. Tak lebih dari itu. Sesuatu hal yang kompleks. Tapi sudah selayaknya memberi pengertian baru atau memberikan perlawanan kepada mereka. Dan suatu saat mereka harus berhenti memalak. Padahal kita bertetangga.

Tapi tak semudah yang kita duga. Mereka tidak terbiasa dialog, diskusi dan berdebat. Apalagi menerima perbedaan-perbedaan ide. Sama sekali tidak mengerti. Mereka ingin selalu memaksakan kehendaknya. Tak ada negosiasi. Lebih kejam dari teroris.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home