fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, April 02, 2004

Termanfaatkan

Terik matahari siang panas menyengat membakar kulit. Orang-orang susah bergming dari macetnya jalan. Suara-suara menderu, bising, asap mengepul memenuhi udara. Teriakan yel yel partai membahana. Gemuruh dan hiruk pikuk. Remaja, ibu -ibu bahakn anak-anak tumpah diatas jalan aspal hitam yang mengkilat. Kebanyakan mereka mengendarai bus. motor, sepeda bahkan gerobak dan becak. Semua memakai pakaian dan atribut sewarna. Hari terakhir kampanye partai yang dahsyat.

Suasana itu kontras dengan pos pojokan di sebuah jalan kecil. Tempat mbah aren berjualan rujak. Dia tidak mau ikut berkampanye, buat apa kita ini kayak orang bodoh saja, begitu kata dia. Kita diperlukan hanya kalau para pemimpin partai punya hajat. Kita disuap -suap dengan sembako uang yang tak seberapa agar mau memilih partai mereka. Kasian sekali ya merka yang hanya ikut-ikutan. Mereka hanya menikmati sesaat, tapi harus menderita setelahnya. Paling tidak lima tahun lagi baru bisa terbebsa. Itupun kalau penguasa berikutnya berbeda moral.

Mereka itu tidak menyadari bahwa mereka itu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan seseorang. Kalaupun mereka menang, mereka sudah tidak memerlukan pendukungnya lagi. Malahan bisa bisa dijadikan sapi perahan. Kenaikan harga-harga tak terkendali. Penguasa baru mungkin ingin mengembalikan modal yang telah dikeluarkan untuk membiayai promosinya. Penguasa itu sudah buta dan tuli dengan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

Buktinya mbah aren, dari saya kecil berjualan rujak di pojokan itu, sampai saua bekerja dan punya usaha sendiri masih tetap berjualan disitu. Tak ada yang berubah perkembangan usahanya. Bersiap dari pagi, berjualan sampai sore, hasilnya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Sampai sekarang nyaris tak ada kemajuan. Dan rasanya tak ada yang memperhatikan nasibnya. Apalagi para penguasa itu.

Penguasa kini sibuk dengan urusannya sendiri, urusan keluarganya , kelompoknya dan teman-temannya. Sampai tidak ada waktu terisa sedikitpun. Les bahasa spanyol, megngunting pita pada meresmikan suatu bangunan, atau sekedar bercuap cuap didepan media. Dan itu adalah kegiatan setiap harinya. Rutin, setiap bulan dan sepanjang tahun kekuasaanya. Tak pernah merasa ada beban rasa bersalah. Kalaupun dia bersalah toh dia tak pernah tersentuh hukum.

Tak ada hukum bagi penguasa. Hukum hanya untuk mbah aren dan orang kecil lainnya. Termasuk orang-orang yang dulu mendukungnya. Dan kini orang-orang itu tak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah, menunggu perubahan untuk 5 tahun kedepan. Lima tahun, hari yang panjang untuk dilewatkan dalam ketakberdayaan untuk melawan. Melawan penguasa yang otoriter.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home