fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, May 24, 2004

Nirmala Bonet

Tragis, menyedihkan! Seorang anak manusia yang mencoba mencari uang di negeri orang disiksa dengan kejam. Simpati yang mendalam untuk Nirmala berdatangan, bahkan ada yang berbentuk uang.
Yang lain berupa doa semoga di hari kedepannya tak ada rintangan yang berarti dalam menapaki hari-harinya. Begitu kira-kira ungkapan komentar para pembaca yang yang berada di media online.

Pertama membaca berita tentang dia, perasaan sedih bercampur heran. Kenapa penyiksaan-penyiksaan seperti itu selalu berulang? Sudah berkurangkah sisi kemanusiaan yang dimilikimanusia, sehingga perbuatan biadap itu sanggup dilakukan?

Penyiksaan yang dialami Nirmala Bonet, adalah yang paling kejam yang pernah ada. Bisa dibayangkan saat dia menahan sakit saat dia di seterika punggung dan dadanya. Belum lagi benturan besi yang menimpa kepalanya, sehingga di kepalanya terjadi gumpalan darah yang harus dikeluarkan. Belum cukup puas, majikan Nirmala masih menyiksa dengan menyiram air panas ke tubuhnya. Luka-lukanya bahkan tak bisa disembuhkan seperti sebelumnya. Belum lagi luka psikis yang tak bisa hilang seumur hidupnya.

Nirmala sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadi pembantu di negeri orang. Bahkan tawaran untuk bekerja di Istana Tuanku Ampuan Negeri Sembilan, Tuanku Najihah Tunku Besar Burhanudin ditolaknya. Niatnya kini hanya ingin pulang ke Kupang untuk cepat menemui ibundanya.

Tapi Nirmala kini tidak marah dengan majikan yang menyiksanya. Dia malah meminta kepada keluarganya untuk tidak dendam kepada majikannya. Sikap bijak yang susah untuk dicontoh. Namun Nirmala sanggup memberikan itu. Walau Nirmala tidak dendam, hukum terus berjalan. Kini kasusnya telah dibawa ke pengadilan dan Majikan Nirmalah dituntut maksimal 80 tahun penjara kalau terbukti bersalah.

Kenapa Nirmala tidak lari? Apakah tidak ada kesempatan sama sekali? Menurut cerita Nirmala, saat itu kebetulan dia melihat satpam apartemen, dan meminta tolong untuk keluar dari ruangan itu. Dan itulah kesempatan pertam yang dia dapatkan. Selama enam bulan bekerja di apartemen yg terletak di jl tunku Ismail, Nirmala tidak bisa keluar rumah. Gerak geriknya selalu diawasi.

Siapa yang mesti disalahkan? Banyak analisa yang berbeda menyikapi persoalan ini. Tapi kebanyakan menyalahkan pjtki yang mengirimkan, juga pemerintah yang selalu lambat dalam menangani kasus-kasus seperti ini. Tampaknya pemerintah tidak serius menangani kasus -kasus penyiksaan tkw yang ada di luar negeri, tak ada pengawasan sama sekali. Salah satu buktinya RUU buruh migran yang sampai sekarang terbengkelai.

Semoga saja orang-orang yang terlibat dalam masalah ini bisa mengantisipasinya lebih baik. Nirmala gadis manis yang bernasib malang, semoga dia adalah tkw terakhir yang mengalami nasib buruk.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home