fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, June 15, 2004

Bisingnya bus kota

Jalan-jalan di seputar kebayoran mampang, fatmawati dan mayestik yang mengarah ke blok M minggu siang itu macet. Bukan hanya oleh kendaraan, tapi juga oleh orang-orang berjalan menyemut. Mereka kebanyakan membawa alat-alat musik. Mulai dari ecrek-ecrek, gitar , biola bahkan ada sekelompok anak muda yang membawa seperangkat band lengkap.

Kelompok lain yang turut menyesakkan jalanan itu adalah bocah-bocah dekil. Mereka membawa tape rekorder karaoke, menggendong anak kecil, dan ada juga yang membawa setumpuk amplop dalam genggamannya.

Di dalam bus, suara-suara nyanyian sumbang menggema diantara jejalan padat penumpang yang berdiri menggantung. Nyanyian yang sudah sering terdengar. Terasa membosankan. Karena lagu itu dinyanyikan dengan sekenanya dan terburu-buru, agar selesai sebelum lampu merah berganti menjadi hijau.

Pengamen silih berganti, yang satu turun yang lain naik. Dan ini sangat disadari oleh pengamen dengan meminta maaf kepada penumpang yang merasa terganggu. Selesai menyanyi mereka mengedarkan plastik, berharap banyak rupiah masuk dari setiap penumpang yang disodorinya. Begitu seterusnya sampai ujung jalan akhir perjalanan.

Belum lagi para pengasong yang turut memanfaatkan bus bus itu sebagai pasar. Persis seperti pengamen yang menjadikan bus-bus itu sebagai panggungnya. Mereka menjual beragam dagangan . Minuman ringan, alat-tulis, majalah, Koran dan mainan anak-anak. Hiruk pikuk ditengah panas dan bau keringat menyengat.

Harus dipersiapkan uang sekantong penuh seandainya ingin menuruti semua permintaan mereka itu. Begitu banyak orang yang meminta dan orang-orang yang menawarkan "amal jariyah", yang dananya akan dipakai untuk mendirikan masjid, menyantuni panti asuhan.

Niat dia yang semula mau nonton film diurungkan. Uang yang rencanya untuk beli tiket, dibagikan ke setiap orang yang menyodorkan plastik atau amplop kepadanya. Juga untuk membeli sebagian dagangan dari pengasong. Dia harus puas menikmati atraksi bising sepanjang perjalan.

Mereka selalu mengklaim sebagai seniman jalanan. Tak berbeda dengan seniman kesohor. Hanya saja mereka lebih riel dan total dalam menjalankan aksi seninya. Seni menyiasati hidup dan bertahan di Jakarta yang makin mengerikan.

Sampai kapan dia akan bertahan? Menurut Martin, salah satu pengamen, dia mengamen karena senang menyanyi dan menghibur orang. Di atas bus, dia merasa seperti bintang. Tapi dengan berbisik dia menambahkan, bahwa sebenarnya dia perlu makan untuk tetap eksis sambil melihat-lihat peluang yang bisa dilakukannya. Jadi menjadi pengamen bukan tujuan sebenarnya dia datang ke Jakarta.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home