fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, June 18, 2004

Presenter penyuruh

Stasiun televisi jumlahnya makin banyak. Tapi sajian acaranya nyaris seragam, baik topik maupun gaya presenternya. Hanya nama dan waktu tayang aja yang berbeda. Sekali sebuah stasiun tv menayangkan acara tertentu dan sukses, ramai-ramai stasiun lain mengekor. Walaupun acara itu buruk dari sisi kualitas, rupanya yang penting bagi mereka adalah modal kembali.

Kalau kita amati presenter di televisi, mereka suka memerintah kita sebagai pemirsa. Tidak percaya? Amati mereka saat sebuah session akan berakhir dan digantikan slot iklan. Mereka dengan senyum yang dipaksakan selalu menyuruh kita untuk tetap memelototi layar televisi. Jangan kemana-mana, tetaplah bersama kami, stay tune, dan tonton terus (nama acara) adalah beberapa contoh perintah yang sering diucapkan.

Maksudnya agar pemirsa tertarik untuk tetap menonton acara yang sedang dibawakan. Namun alih-alih tetap menonton, pemirsa pasti pindah chanel lain. Logikanya orang pasti tidak suka dipaksa atau disuruh-suruh. Apalagi pemirsa dengan gampang bisa pindah ke lain chanel. Gratis lagi.

Bukan hanya pemirsa yang dirugikan tapi juga pengiklan. Setiap slot untuk tayang iklan, presenter selalu mengatakan: "setelah selingan berikut ini". Bisa dibayangkan bagaimana kerja tim kreatif saat mendesain iklan. Dengan kerja keras tim kreatif tersebut bermaksud menginformasikan produk clientnya. Dan itu dianggap hanya sebagai selingan.

Ya selingan. Bagi para presenter, iklan dianggap hanya sesuatu yang tidak penting, tidak perlu dan hanya pengisi waktu luang. Hasil ide ide kreatif para kreatoriklan seolah sia-sia. Sudah kadang-kadang ditinggal penonton, dianggap tak penting lagi oleh presenter. Kasian nian para kreator iklan. Padahal tanpa iklan sebuah acara tak akan bisa tayang.

Bahkan ada salah satu stasiun tv, presenternya ketika mengawali acaranya tak pernah menyapa pemirsa. Dengan berteriak, langsung nyerocos tentang sebuah peristiwa. Rupanya sang presenter tidak paham dimana dia sedang berkomunikasi. Selalu berteriak seperti sedang berada di tanah lapang terbuka dan tak ada pengeras suara.

Sebuah contoh komunikasi yang buruk. Celakanya hal itu tak pernah disadari para pemirsa. Semua itu dianggap biasa. Juga dari pihak biro iklan, tim kreatif dan pemilik produknya, sejauh ini tak pernah mempermasalahkannya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home