fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, June 21, 2004

Seberapa biasa?

Biasa. Artinya tak ada yang istimewa, tak ada yang unik. Dan yang pasti tidak menarik. Disini aku mau cerita tentang kebiasaan kebiasaan temenku yang tidak biasa bagi orang kebanyakan. Karena berteman cukup lama, jadi sudah demikian banyak kebiasaan dia yang kutahu. Setidaknya dari pandanganku yang subjektif.

Pagi sebelum berangkat, dia selalu menyiapkan apel merah di keranjang khususnya. Apel-apel itu dibagi bagikan di setiap tikungan atau lampu merah dimana Pak Ogah suka mengatur lalu lintas. Kenapa pilih apel? Apel kan lambang cinta. Aku ingin bilang bahwa aku tidak benci kepada mereka, begitu jawabannya.

Di dalam mobil, teleponnya berdering. Ternyata nomor yang memanggilnya tidak dia kenal. Dengan santai dia biarkan hp berdering-dering sampai berhenti. Kenapa tidak angkat? Dia pasti orang yang tidak aku kenal. Buat apa bicara dengan orang asing? Kok yakin dia orang asing? Pasti karena teman-temanku pasti ngasih tahu kalau hp/nomornya baru.

Masih blum waktunya makan siang, dia ingin mampir ke sebuah kedai makanan. Pesan bubur ayam satu mangkok. Emang blum sarapan tadi? Sudah. Sarapan apa tadi pagi? Ice cream. Kok sekarang sudah lapar lagi? Iya, karena emang ususku pendek, jadi harus sering-sering makan.

Sampai di kantor client, badannya gemetar, keluar keringat dingin. Mukanya makin agak pucat. Kenapa sakit? Grogi mau presentasi karena blum siap atau ? Tidak. Karena kantor clientnya ada di lantai 12. Rupanya dia ketakutan untuk naik lift. Tak bisa membayangkan seandainya lift macet dan terjebak didalamnya. Dengan paksa aku ajak dia naik dan memang tak terjadi apa-apa.

Sampai di rumah sudah malam. Kebetulan malam ini dia sendirian. Keluarganya pergi entah kemana. Tepat tengah malam, tampak ada bayangan seseorang yang mengendap-endap di teras. Ternyata pencuri. Karena ketakutan dia membiarkan orang tersebut mengambil sepedanya.

Hari ini banyak tugas yang harus dikerjakan. Capek sehingga enggan menyetir sendiri. Tapi karena dia tak mempunyai sopir, terpaksa dia harus menyetir sendiri. Di tengah persimpangan lampu merah dia bertanya kepada salah satu pengasong yang berjualan handuk. Bapak orang baik baik? Bisa nyetir? Mau gak jadi sopir saya? Berapa keuntungan yang diperoleh sehari? Akhirnya sejak itu dia mempunyai sopir pribadi.

Mungkin ini agak SARA. Dia mempunyai calon suami yang beragama lain. Karena cinta dia masuk , ikut agama suaminya. Perkawinannya biasa saja. Sampai disini agama tak menjadi konflik. Karena mungkin dia belum tahu mendalam tentang agama suaminya. Perkawinannya rukun, sampai suatu saat tahu bahwa agama suaminya membolehkan seorang suami memukul istri. Sejak itu dia memutuskan bercerai.

Dengan kebiasaan yang unik itu, mempengaruhi kinerjanya di perusahaan advertising. Sering datang telat. Tidak masuk itu biasa. Suatu ketika dapat surat dari direkturnya. Ceria dia. "Asyik gaji naik!". Setelah dibuka ternyata surat phk. Sejak itu aku gak sekantor dengan dia.

Dan masih banyak lagi.

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

basi man

6:34 PM  

Post a Comment

<< Home