fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, July 29, 2004

harga dan nilai (bagi temannya wani)

Pagi ini aku terima pesan kedunguanmu. Entah sampai kapan aku sanggup menahan kesabaranku untuk tidak membunuhmu. Sebenarnya lebih baik aku tidak usah membacanya saja, hanya akan menambah luka isi kepala.

Baru beberapa waktu lalu, kau berbuat seperti itu. Selalu hanya menyalahkanku, walau kesalahan belum tentu ada padaku. Dan aku memaafkanmu. Kini kau melupakan ingatanmu tentang kejadian itu. Kau ulangi tindakan jahatmu, mencari kambing hitam yang bukan milikmu. Kau tidak menyadari, ini semua berasal dari kesalahan awalmu.

Karena kau dungu, kau masih tidak percaya itu. Tindakan-tindakanmu untuk menunjukkan kekuasaanmu, itu menurutku yang paling dungu. Dan karena aku tidak seperti kau, aku tahu tujuan dibalik tindakanmu. Tanpa kemauanku, secara tak sadar tersemai bibit kebencian di lubuk hatiku. Aku diam, tapi kau menganggap aku menghormatimu. Kau keliru, aku tak suka tindakanmu.

Tidak hanya aku, semua yang tahu perangaimu, akan memvonis seperti itu. Kecuali orang-oramg yang ingin menghancurkan kekuasaanmu. Dan kau tak pernah tahu, kau rasakan mereka mendukungmu, padahal menggerogotimu sampai ke tulang-tulangmu.

Aku bukan tak mau mengingatkanmu, karena kau dungu kau tak pernah bisa membaca lingkunganmu. Apakah aku mesti mensuapi, mengeja, kata demi kata ke otakmu? Kalau harus begitu, kau tak berbeda dengan keponakanku yang masih lucu.

Kau adalah bos, juragan yang hanya selalu menghitung untung. Bicara harga-harga, tak pernah bicara nilai-nilai. Semua masalah seolah bisa kau selesaikan dengan sejumlah rupiah. Bahkan jika bisa, kau ingin membeli orang-orang untuk menumpahkan rasa marah.

Jangan bicara harga-harga, bicaralah nilai-nilai, kau masih ingat pesan gurumu waktu itu? Atau memang kau tidak pernah mendengar, karena kau sibuk memikirkan isi perutmu?. Sampai-sampai sekarang pun kau tak mengerti nilai-nilai itu. Kata guru waktu itu, harga bisa dinilai (dengan ringgit misalnya), tapi nilai tak bisa dihargai. Seberapa kontainer rupiah yang akan kau keluarkan untuk menghargai nilai kejujuran, kebaikan, persahabatan?

Kau terbuai dengan kekuasaanmu hari ini, hingga kau membutakan matamu dari sekitarmu, mengingkari nuranimu yang mulai beku. Bahkan kini nurani itu letih, menahan beban berat perangai hitammu, tak ada cahaya sedikitpun disana.

Sebenarnya langkahmu masih berada di tangga terendah, kau lebih suka bikin ulah. Kau sudah merasa di puncak prestasi. Atau memang visimu hanya sampai disitu? Aku tak perlu jawabmu, cukup kau simpan di sisi pinggir kiri otak kananmu.

Maaf, aku terpaksa membalas pesanmu, karena kalau tidak, akan sangat menyumbat aliran darah otakku. Seperti seorang yang akan melahirkan, sakit....tapi bayi tetap harus dikeluarkan, kalau tidak akan sangat berbahaya baik bagi ibu maupun anaknya.

Salam bintang-bintang

0 Comments:

Post a Comment

<< Home