fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, July 23, 2004

marginal

Di perumahan kawasan pinggiran metropolitan, ada keramaian bunyi-bunyian petasan. Sore sudah hampir tak kelihatan. Tinggal sinar matahari redup kuning kemerahan. Damai, mirip suasana kita sewaktu masih dalam kandungan. Banyak orang mondar-mandir di lapangan menyiapkan suatu hajatan besar. Rupanya ada keluarga betawi mengadakan pesta khitanan. Dan puncak acaranya layar tancap semalaman sedang disiapkan. Menarik meski berisik.

Berselang kemudian, para pedagang berdatangan. Ada paparan jajanan khas yang tak ditemui di mal misalnya saja kerak telor atau lepet ketan, kebanyakan makanan ringan buatan tangan. Mengingatkan kenangan kampung halaman sewaktu kelurahan mengadakan wayangan. Cuman disini tidak kelihatan ada perjudian. Orang-orang berdesakan menyaksikan, karena filmnya cukup lumayan: spiderman. Tokoh pahlawan khayalan rekaan Sam Raimi, orang paman sam.

Aku mengelilingi "stand" mulai dari ujung kanan. Dan kebanyakan penjualnya betawian. Terdengar dari ucapan-ucapan yang menurutku belepotan: "iye iye", "pan ude", "gue jabanin" dan lain-lain. Selesai film pertama, ada selingan musik dangdutan. Tapi tak satupun lagu betawi dinyanyikan. Ada sebagian yang berjoget, ada sebagian yang menikmati kudapan. Anak muda pada pacaran, mengasyikan.

Mengharukan, di lingkungan gemerlap metropolitan, orang betawi pinggiran menikmati tontonan di lapangan. Sangat kontras dengan keadaan disekitar, dimana gedung film bertebaran. Mereka tersingkirkan, tertelan kemajuan jaman. Tergusur dari tanah leluhur, menyingkir ke daerah lebih pinggir yang bebas banjir. Kenapa tak ada yang mempedulikan? Siapa yang mesti menyelamatkan? Pemerintah membiarkan.

Bukan tidak mungkin, dekade depan betawian sudah lenyap dari pandangan. Berganti dengan orang-orang urban, kaum pendatang dari pedalaman, ada yang dari seberang lautan. Berduyun-duyun tiap tahun, mengayun langkah menyemai mimpi. Meninggalkan halaman, handai taulan dan teman. Berpamitan, minta doa restu sebagai dukungan.

Tapi mimpi-mimpi tak selalu menjadi kenyataan, tak sedikit yang berubah menjadi bayangan. Bayangan yang kadang diluar khayalan. Lebih busuk, lebih menderita, lebih terpuruk, lebih sengsara. Dan orang-orang tetap tak pernah jera, melakukan apapun yang dia bisa, demi masa depan gelap yang tersisa. Namun tak semuanya. Selalu ada kesempatan, metropolitan masih menebar impian-impian menawan.

Layar baru saja diturunkan, orang-orang bergegas pulang. Menikmati malam liburan akhir pekan, menuju ke tempat peraduan, membawa mimpi yang masih tertahan. Lumayan sejenak melepas kejenuhan. Besok pagi entah apa yang akan dimakan! kekekkekekek (becanda man).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home