fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, July 02, 2004

merah nyala api

Marah, suatu ekspresi ketika seseorang sudah pada tahap puncak ketidakinginan. Kadang sampai tak terkendali. Tapi sering juga seseorang marah hanya ingin menunjukkan bahwa dia berhak marah. Ini biasanya dilakukan oleh para juragan, bos tapi tidak oleh seorang leader. Ego sangat berperan disini. Orang yang tinggi kedudukan, uang dan pengikutnya, tinggi pula egonya. Sehingga dia lebih punya keinginan untuk marah lebih tinggi.

Tingkat kemarahan seseorang biasanya dipengaruhi oleh lingkungan dan tingkat pendidikan sebuah masyarakat. Mereka cenderung kurang bisa mengontrol dan mengendalikan perasaan. Seperti orang yang aku temui kemarin di atm bca. Dia marah karena gajinya terlambat diterima. Saya maklum, karena dia hanya pegawai kecil. Mungkin dia sangat perlu uang pagi itu.

Masyarakat yang ditempa di lingungan yang keras, lebih gampang naik darah dibanding daerah lainnya. (tau kan yang aku maksud, hehehe). Di metropolis ini, kecenderungan untuk bentrok satu sama lain lebih tinggi karena disini tempat berkumpul semua orang dari berbagai latar belakang budaya dan alam.

Kemarahan cenderung berdampak negatip baik bagi pelaku maupun objek yang dimarahinya. Dengan bermarah-marah, wajah tampak lebih jelek dan kusut. Karena jantung memompa darah dengan cepat sampai keatas, sehingga memerahkan wajah hingga lebih merah dari nyala api. Dan orang yang berwajah nyala api dalam dongeng biasanya digambarkan sebagai raksasa. Dan semua raksasa tak ada yang berperilaku baik.

Kemarahan adalah bentuk kepanikan, ketidakmampuan dalam menghandle masalah yang dihadapi. Bentuk lain dari pesimisme. Jadi kalau ada orang yang suka marah-marah, mungkin dia selalu panik dan tertekan takut akan sebuah kegagalan. Dan kalau marah itu keterusan, bisa bisa menjadi gangguan psikis dan fisik. Dan perlu penanganan serius.

Seperti kata Dr. Ernest H., seorang pakar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan, Amerika Serikat, menyatakan, seseorang yang mudah marah, selalu mengungkapkan kemarahannya dengan meledak-ledak, akan menderita hipertensi.

Masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa marah itu hanya buang energi semata. Kita masih sering melihat, seseorang bahkan merasa lebih bangga kalau bisa marah. Apalagi marah di tengah-tengah kepungan keramaian pengikutnya. Dia merasa paling berani dan jago. Lepas dia benar atau salah.

Kalau kemarahanya belum dimuntahkan rasanya dada ini sesak, kata teman saya yang pemarah suatu kali. Tak pernah dia memikirkan bagaimana dampak yang ditimbulkan bagi objek yang dimarahi. Semua orang pasti tidak suka dimarahi. Dan kemarahan itu hanya menyemai kebencian. Kebencian menumbuhkan dendam.

Apakah tidak ada cara yang lebih baik dalam mengekspresikan ketidakinginan, kekesalan atau kekecewaan?

Itu semua itu berpulang kepada individu masing-masing. Yang jelas jika kemarahan dilawan dengan kemarahan, hasilnya adalah sebuah kemanusiaan yang hilang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home