fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, July 20, 2004

mimpi

Mimpi, sebuah obsesi-obsesi. Keinginan mendasar, murni dari lubuk hati. Tak pernah dipengaruhi apapun diluar diri, lingkungan yang bisa melupakan diri, mematikan mimpi. Kini mimpi itu telah menjadi seorang gadis cantik alami. Matanya memancarkan cahaya panas yang membangkitkan semangat meraih, memiliki. Setiap mata memandangi, menelanjangi dan ingin menikmati.

Kulangkahkan kaki memulai, dengan pasti, sepasti munculnya esok pagi, menggapai mimpi. Keinginan asali yang selama ini tertutupi karena kerja rodi. Kumemandang kedepan, jalan mendaki, licin, terjal membentang. Tapi aku tak kan pernah berhenti sebelum mimpi teraih dalam genggaman tangan yang takkan terlepas lagi. Ku menoleh kebelakang, tapi kutak ingin kembali. Kembali berada dalam buaian harapan-harapan indah melenakan seperti selama ini.

Dan hanya mimpi itu yang membuatku masih bertahan disini. Mengikuti rutinitas sehari-hari sejak pagi. Menyusuri kemacetan jalanan, panas terik menukik, membakar tubuh-tubuh yang sangar, menikmati ruap keringat yang menyengat, yang keluar meluruhkan semangat-semangat sesaat. Dan mesti berulang lagi besok pagi, setiap hari, tanpa henti sampai sadar diri.

Tapi hari-hari tak selamanya tiada ceria. Terutama saat ketemu wani, aldi, abi, vany, sari, tapi tidak untuk meity, apalagi wiwik wijanarti. Hari menjadi indah, seindah petuah-petuah raihan, "tanya ibu dan ayah" yang terdengar dari komputer wani. Wani yang selalu teriak memekak, tapi banyak pacar-pacar barunya, dicomot dari mana saja, yang penting tidak sunda kata orang tuanya.

Sangat kusadari, betapa untuk sampai ke puncak mimpi, tak bisa hanya berdiam diri, berkutat di tempat gelap pekat, lorong sempit, lembab dan tidak tahu arah jalan keluar. Tak hanya alam benda-benda dan suasana yang menghalangi. Rintangan terbesar datang dari sikap diri sendiri. Perilaku yang selalu menunda sampai esok pagi, melupakan sisa waktu hari ini dan tak bersiap untuk melompat lebih cepat.

Puncak sukses dimulai dari saat ini, diraih satu senti demi satu senti. Asal ada keyakinan diri, kita pasti bisa melewati, serumit, sesulit apapun kita bisa berkelit. Pantang menyerah kalah dan tak pernah pasrah pada nasib. Mimpi itu milik kita, asal kita mau mengejar total, memburu tak kenal waktu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home