fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, July 09, 2004

muka yang hilang

Penjilat, antek mungkin terlalu kasar untuk menyebut mereka yang suka mencari muka. Kenapa orang-orang seperti itu disebut cari muka? Memang selama ini tidak punya muka? Atau mukanya hilang entah dimana? Tak ada penjelasan yang pasti.

Seandainya muka atau wajah seseorang bisa mewakili kepribadian, berarti orang yang selalu mencari muka adalah orang yang tidak punya kepribadian?.

Orang-orang yang mukanya hilang itu, badalah orang yang tidak percaya diri. Mereka tidak yakin dengan kemampuannya sendiri. Sehingga untuk mencapai tujuannya, mereka tidak menggunakan kemampuan yang dimilikinya, tetap memakai cara-cara lain yang tidak keren. Salah satunya ya menjilat, melacur dalam skala kecil, dan kalau perlu meremehkan diri- sendiri. Bahkan orang sanggup melecehkan dirinya sendiri untuk mencapai tujuannya. Celakanya cara-cara seperti cenderung disukai oleh kebanyakan bos.

Kenapa bos suka dipuji, dijilat? Pada dasarnya setiap orang tidak suka dikritik. Dengan kondisi yang seperti itu, maka dengan mudah seseorang akan terlena dengan pujian atau jilatan. Pujian memang melenakan, walaupun jelas-jelas pujian itu tidak tulus. Pujian yang dengan pamrih besar.

Pujian atau jilatan biasanya ditujukan bukan untuk teman, sahabat atau orang dekat. Pujian yang tidak tulus, adalah sangat berbahaya. Ada yang mengatakan jika ada orang yang memuji kita, orang itu mesti ditaburi pasir mulutnya, orang yang suka mengkiritk itulah teman kita yang sebenarnya.

Orang-orang seperti itu biasanya tidak disukai di lingkungan kerja. Contohnya seorang karyawan di sebuah kantor. Dia secara otomatis akan tersingkir dari komunitas utama. Dia biasanya cenderung mempunyai komunitas yang kecil, yaitu orang-orang yang sepaham dengannya. Dan mereka menyadari kalau tidak disuka. Tapi mereka bebal, tak mempedulikan.

Motivasi orang-orang yang punya tak muka itu biasanya adalah jabatan. Mereka Dianggapnya keren kalau berhasil naik pangkat dengan cara menjilat. Mereka over loyal pada atasan, cenderung ngawur. Apapun dilakukan untuk menyenangkan bos. Walaupun tindakannya salah.

Kasian sekali mereka sebenarnya. Tak ada kebebasan, tak ada ruang gerak. Selalu mencuri-curi waktu untuk menarik perhatian. Dan nasibnya selalu diujung tanduk. Sangat tergantung dengan atasan. Dan kekawatiran selalu melekat pada dirinya. Maklum suatu saat atasanya pindah, mampuslah dia.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home