fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, July 20, 2004

rasa

kamu melihat antrian panjang, sekelompok kerumunan orang-orang yang sedang bergerak menuju ke satu tempat, entah kemana arah mereka berjalan. Kerumunan orang itu tampak berperilaku sama: bergegas. Seolah sedang memburu sesuatu dan takut waktu tak cukup mengejarnya. Kalau diperhatikan dengan seksama, ternyata mereka berbeda, mereka berkelompok-kelompok dalam model tertentu. Tidak jelas berdasarkan apa mereka mengelompokkan diri. Jenis kelamin, ras, agama, ataukah rupa nya. Oh ternyata mereka tidak mengelompokkan diri. Sengaja dikelompokan oleh sesuatu yang sangat pribadi: rasa.

Rasa suka yang sangat subjektif, tidak riil dan hanya yang bersangkutan sendiri yang bisa menjelaskan alasan masuk akalnya. Kerumunan berjalan itu sebentar-sebentar berhenti. Saling berbisik membicarakan sesuatu, hanya samar-samar terdengar. Apa yang didiskusikan? Suara-suara yang keluar dari setiap gerombolan itu, walaupun tidak jelas, aku yakin berbeda. Seperti suara desau angin kemarau yang sebentar-sebentar terdengar kemudian menghilang.

Apa yang saling dibicarakan gerombolan itu? Untuk apa saling mengetahhui? Untuk saling mencari kelemahannya? kenapa mereka tidak bersatu saja? Apakah mereka bermusuhan? Aku mencoba menebak-nebak. Dari salah seorang yang desersi, karena menolak pengelompokan itu, aku tahu ternyata mereka tidak saling membenci, tapi juga tidak saling suka. Entah apa sebutan benarnya. Musuh bukan, teman juga bukan.

Orang yang desersi itu sangat menentang pengelompokan. Perlawanan mencoloknya dilancarkan kepada gerombolan orang-orang yang bermata segaris. Gerombolan yang diyakini memiliki keuatan dan keuletan luar biasa. Dikagumi oleh semua gerombolan yang lain. Dan seandainya antar gerombolan itu bentrok, pasti kelompok orang-orang yang berambut lurus itu yang menang. Karena mereka biasa menggunakan cara-cara yang super licik dan tak beradab, tambah orang yang deserti itu panjang lebar.

Dia tidak bermaksud rasis.

Dari mulutnya keluar pernyataan yang sangat mengejutkan. Gerombolan bermata segaris itu yang menjadi idola, begitu disuka. Kenapa bisa? Apakah mereka memang benar-benar yang terbaik? Dari mana mereka menilai? Ternyata bukan, masih menurut dia, memang gerombolan orang bermata segaris itu yang paling mau diperlakukan dengan buruk. Bahkan mereka itu rela menjadi budak. Tapi mereka pintar, sangat sistematis dan terencana. Mereka menyadari bahwa untuk menuju tangga ke puncak, harus memulai langkah dari lantai pertama, kalau perlu lewat basement.

Kamu terbang dari satu gerombolan ke gerombolan lain untuk menilai. Karena hanya kamu yang berhak menentukan siapa yang paling depan di barisan panjang ini. Tapi rupanya kamu hanya seolah-olah saja menilai, berpura-pura mengamati dan merinci detail semua yang mereka miliki. Tapi tetap saja kamu memilih gerombolan bermata segaris, karena hanya suka belaka. Begitu sukanya kamu sampai berperilaku seperti mereka. Berbahasa dan berpikir seolah kamu telah menjadi bagian darinya.

Kini gerombolan orang bermata segaris sudah berada diujung paling depan, menyusul kelompok lain yang sudah berangkat duluan. Tentu kamu sangat tidak mudah untuk membuat gerombolan itu tetap berada didepan, karena banyak gerombolan yang lain yang akan menentangnya. Kecuali memang gerombolan orang-orang bermata segaris itu layak mendapat bintang, hanya waktu yang akan membuktikan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home