fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, July 05, 2004

riang anak anak

Kenaikan kelas bagi guru adalah adalah kesempatan menyenangkan. Dengan berkedok "perpisahan", pihak sekolahan menarik sejumlah uang dari orang tua murid. Memang semua kegiatan dan pengeluaran uang dilaporkan dengan lengkap. Namun sebagian besar uang itu dibagi-bagikan untuk para guru yang mengajar. Terutama wali kelas, selebihnya adalah untuk guru lain yang terlibat pada kelas yang bersangkutan. Guru agama, bahasa inggris, Al Quran dan olahraga misalnya.

Lebih parah lagi, pada saat hari h kenaikan kelas, para orang tua seolah ingin berlomba untuk memberikan kenang-kenangan atau sekedar ucapan terimakasih kepada wali kelas. Bisa berwujud barang, bisa juga amplop. Memang itu bukan suap. Karena tak ada kamus tidak naik kelas untuk zaman sekarang ini. Asal iuran bulanan beres, nilai mata pelajaran tak diperhitungkan lagi.

Bisik-bisik yang terdengar dari orang tua murid, terutama ibu-ibu tersirat rasa khawatir juga, seandainya tidak memberi ucapan terimakasih. Kasihan pada anaknya, bisa -bisa dicuekin nantinya. Sehingga anaknya kurang bisa mengerti pelajaran yang diajarkan. Dengan begitu para guru ada kesempatan untuk "mengharuskan" murid yang "bodoh" itu untuk mengikuti les mata pelajaran yang dianggap kurang. Dan pengajarnya masih itu itu lagi.

Guru, dalam benak banyak orang adalah sosok yang mulia. Pendidik generasi bangsa. Digelari pahlawan tanpa tanda jasa. Apalagi guru-guru yang berada di tempat-tempat terujung dari pusat keramaian atau yang di hutan hutan. Nasibnya mengenaskan. Sudah gajinya kecil, sering telat menerimanya. Dan pihak yang berwenang tahu itu. Tampaknya mereka prihatin, ya cukup prihatin, dan kemudian melupakan.

Namun tak semua guru-guru mengharukan kehidupannya. Contohnya ya guru-guru SD dimana tetangga saya mencoba memperoleh pencerahan itu. Kehidupan para gurunya nyaman. Terima gaji tepat waktu. Dan hari hari kenaikan kelas seperti sekarang ini adalah waktu yang menyenangkan.

Hal itu semua tidak menjadi masalah untuk orang tua yang punya uang banyak. Bagaimana dengan orang tua yang uangnya untuk makan siang saja kurang?

Keadaan seperti itu diperparah dengan adanya projek pengadaan buku. Mulai dari buku tulis, buku gambar, buku pejaran, baju seragam dan segala hal yang memungkinkan murid tidak bisa beli di tempat lain. Bahkan transport antar jemput untuk ke sekolah tiap hari pun diharuskan untuk memakai bus yang telah ditentukan oleh sekolah. Dan semua itu tentunya dengan harga lebih mahal dari harga normal.

Pendidikan memang mahal. Ditambah dengan ulah sebagian para guru tersebut, pendidikan semakin jauh dari jangkauan anak-anak, terutama anak-anak pinggiran. Semakin banyak anak yang tidak bisa belajar, semakin terpuruk lah kehidupan mereka mendatang.

Apakah memang para guru seburuk itu? Mungkin ya, bisa juga tidak. Bisa jadi ini adalah ulah para para pemilik bisnis sekolahan. Pebisnis sekolahan tentunya bukan pendidik. Mereka hanya menginginkan uangnya cepat kembali dan berlipat sebanyak keinginannya. Dan guru hanya melaksanakan peraturan.

Rutinitas setiap akhir tahun pelajaran yang menyita perhatian. Baik untuk anak, orang tua dan guru. Orang tua sibuk mencari uang dan sekolahan baru, guru sibuk menghitung-hitung jumlah yang akan didapat dan anak-anak sibuk merayakan liburan dengan riang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home