fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, August 24, 2004

penilaian karya

Sepintas, mendengar istilah itu, angan sebagian orang akan terlempar pada waktu-waktu zaman orde baru. Setiap program, slogan dan sesuatu yang berhubungan dengan banyak orang selalu memakai istilah atau kata-kata lampau. Maksudnya agar terkesan megah, serius dan keren.

Masih lekat diingatan kita, istilah-istilah kuno beraoroma kearoganan itu. Diantara banyak yang paling fenomenal sampai sekarang: golongan karya, program panca krida kabinet, gedung sasana krida, manggalawanabakti, museum satria mandala, Ekaprasetya panca karsa dan masih banyak lagi. Semua terkesan serius dan top. Tapi kenyataanya justru kebalikannya.

Kini terkuak sudah, orde baru yang suka menggunakan nama-nama dan istilah zaman "sansekerta" itu adalah sebuah kebohongan belaka. Dan Dampaknya sampai kini masih terasa. Perbedaan ide-ide diberangus. Kemakmuran (materi) dicapai untuk segelintir orang. Dan penderitaan itu akan terus berlangsung sampai ada penjungkirbalikan kebohongan itu menjadi suatu keniscayaan kenyataan yang mensejahterakan.

Penilaian karya adalah istilah yang sama yang dipakai zaman orde baru yang terbukti kosong dan rapuh. Apakah "pencetus/pengguna istilah ini mempunyai ide-ide dan program yang sama dengan para "decision maker" sekeliling Soeharto? Atau apakah "rakyat" disini akan melahirkan "reformasi"?

Semua tergantung kalian-kalian.

Mencermati apa yang berjalan sampai saat ini, rasanya apakah sama dengan apa yang berjalan di era orde baru? Saya tidak tahu, ini sangat relatip. Dan sangat berbeda antar orang per orang. yang jelas penggunaan istilah itu memang mencerminkan keusangan ide-ide. Terdengar sopan, nyaman di telinga. Tapi tidak funki dan tidak happy dirasakan.

Ada banyak pilihan untuk menyebut istilah penilaian karya yang mirip maknanya. Satu diantaranya : Evaluasi Kerja atau lainnya yang memberi kesan fresh dan funky. Tidak mengekor istilah-istilah "penguasa" yang telah terbukti gagal.

Zaman sudah bergulir menuju generasi jempol (istilah yg dipakai enda nasution untuk menyebut fenomena sms), tapi ide-ide usang masih dipertahankan. Kita bukan penemu, tapi sudah saatnya kita menjadi inovator (footnote email mas yayan).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home