fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, August 30, 2004

tertipu?

Kuamati wajah tiap pagi sebelum pergi, tak ada yang tampak berubah. Siang hari, saat ke toilet, selalu mampir menyempatkan menatap cermin, wajah masih tampak sama. Tak ada perubahan. Namun ketika aku bertemu lagi dengan kawan lama, dia langsung kaget, saya sekarang tampak lebih kuyu, beda dengan tahun lalu.

Memang setelah aku pikir-pikir, wajah-wajah itu ternyata realnya selalu tidak sama. Buktinya kata temanku yang barusan tadi. Jangankan setahun yang lalu, wajah yang kita lihat sedetik yang lalu itu sudah berbeda dengan wajah yang aku lihat sekarang. Hanya saja mata yang tak bisa membedakan. Ternyata pandangan mata itu menipu. Apa yang tampak tak sesuai dengan realita.

Masih kurang percaya? Jaman dulu, orang menganggap bumi mengelilingi matahari, faktanya sebaliknya. Bumi dianggap datar, ternyata bulat. Yang masih fresh, ingat pelajaran pembiasan waktu sd? ketika pensil dimasukkanke dalam gelas, padangan mata memperlihatkan bahwa pensil itu tampak bengkok. Pada hal faktanya tidak bengkok.

Selain itu, kalau mata kita sanggup melihat kuman, bakteri, mungkin perut akan terasa mual, melihat kuman-kuman berterbangan di depan mata kita. Juga kuman-kuman yang ada di bibir-bibir gelas yang kita minum, ujung-ujung sendok yang barusan kita suapkan ke mulut. Seremmmmm.....untung mata kita menipu.(hehee hee)

Apakah hanya mata yang menipu? Bagaimana dengan indera pendengaran, penciuman, rasa dan lainnya apakah juga menipu?

Jadi apakah kita tak perlu mempercayai apa yang kita lihat, cium, dengar dan rasakan? Entahlah. Aku jadi tidak yakin dengan orang-orang di sekitarku. Jangan-jangan temanku yang tampaknya cakep itu sebenarnya adalah monster yang menakutkan?

Begitu juga suara-suara yang mereka selalu keluarkan itu hanyalah gonggongan, auman, erangan atau apapun yang belum pernah ada sebutannya? Dan bagaimana dengan rasa sedih, senang yang aku rasakan selama ini? Apakah itu juga hanya sebuah tipuan, karena aku blum bisa melihat yang senyatanya?

Jadi bagaimana sebaiknya menyikapi semua itu? Kayaknya perlu suatu pembelajaran dahsyat untuk sampai ke tahap untuk mengerti yang sejatinya. Tapi kemana? Sampai sekarang belum tahu jawabnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home