fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, August 19, 2004

tujuhbelasan

Apa yang tersisa dari perayaan 17an? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepadaku, tidak ada. Hanya kesan biasa, yang tak perlu diungkapkan lagi karena sudah tidak menarik. Basi, rutinitas tahunan belaka.

Apalagi kalau mengingat perjuangan pahlawan. Perasaan sedih terasa menyayat ke relung perasaan yang paling dalam. Pahlawan yang rela mengorbankan apapun yang dipunya, termasuk nyawa. Beruntung pahlawan yang tak bisa menikmati arti kemerdekaan. Aku yakin mereka itu akan sangat kecewa dengan keadaan sekarang.

Semua bertolak belakang dengan apa yang diangankan. Bahkan untuk para pahlawan yang masih hidup pun, para veteran yang ikut perang langsung memerdekakan negeri ini, hidupnya tak lebih baik dari kaum papa. Bisa disaksikan bagaimana mereka menghabiskan masa tua dengan uang bayaran 22 ribu per bulan?

Mengenaskan! Seorang pejuang yang dibayar 22 ribu per bulan sebagai imbalan memerdekakan negeri, lepas dari penindasan dan kegelapan penjajah. Setiap tahun tak pernah ada peningkatan. Bahkan tak sedikit para veteran yang terpaksa jualan indomie untuk memepertahankan kehidupan keluarganya.

Tapi mereka pahlawan yang sebenarnya. Jiwa besarnya menerima itu semua. Dan mereka tak pernah menuntut apa apa. Mereka ikhlas tak mendapatkan penghargaan materi atau kehormatan. Pemerintah menghargai atau menghormati mereka dengan caranya sendiri, dengan selembar kertas. Ya selembar kertas yang tak berarti apa-apa. Tindakan sia-sia yang diulang tiap tahunnya.

Kenapa hanya itu yang dilakukannya? Pemerintah kemana aja? Tak perlulah diungkapkan dalam blog ini. Semua sudah tahu dan sadar, tapi hanya sebatas kesadaran yang sebentar, kemudian melupakan. Memang bangsa ini terlalu mudah melupakan sebuah peristiwa. Seperti kata Surya palloh, orang yang kemarin jadi penjahat, kini tampil bak pahlawan tanpa dosa.

Yang paling beruntung mungkin para narapidana, maling, perampok, pembunuh dan tukang bikin onar lainnya. Setiap tahun mereka mendapatkan remisi. Entah alasan apa mereka mendapatkan remisi, tak ada kriteria yang jelas. Karena walaupun mereka di penjara, namun orang-orang tertentu bisa lebih bebas daripada di komunitas masyarakat biasa. Dan aparat selalu memakluminya.

Yang agak beruntung juga, para penjual bendera, pohon pinang dan galah bambu yang bisa memberikan keuntungan, walau hanya sekedar buat menambah uang belanja. Dan Anak-anak cukup menikmati permainan balap karung, makan kerupuk dan bakiak race. Bermain dengan waktu yang lebih lama dan jika beruntung mendapatkan hadiah bingkisan.

Namun mereka tak mengerti bagaimana sebenarnya merdeka itu. Tapi biarkan saja mereka menikmati kemerdekaanya sebagai anak balita. Kelak mereka akan memaknai kemerdekaan dengan caranya sendiri.

Ngomong-ngomong apakah memang kita sudah merdeka? Merdeka dari apa? Bangsa asing, penjajah? Kita masih menjadi sasaran komoditas luar negeri. Masih sangat tergantung dengan produk dan image-image bangsa asing. Belum mandiri. Merdeka dari kegelapan? Belum juga. Masih banyak anak-anak belum mengerti huruf, bergelut dengan lumpur hitam kemiskinan. Jadi kita selama ini merdeka dari apa?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home