fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, September 07, 2004

iklan yang menipu

Kini produsen dalam mengenalkan produknya kemasyarakat makin mendesak-desak. Bahkan cenderung memaksa! Terlihat makin derasnya iklan di tv, radio dan iklan outdoor yang tak tertata, semarwut, merusak pandangan.

Dan pagi itu Sabtu (4/9/2004) bertambah satu lagi model iklan outdoor yang unik. Sebuah produsen minyak rambut beriklan di setiap perempatan lampu merah. Caranya cukup baru: dua orang yang membawa poster berjalan berlalu lalang pada setiap perempatan jalan ketika lampu lalulintas sedang berwarna merah. Di depan para pengendara dua orang berjalan berlawanan dari samping pinggir jalan ke pinggir seberangnya. Dan peristiwa itu berlangsung selama lampu belum berwarna hijau.

Otomatis, semua pengendara dipaksa untuk membaca poster yang dibawanya. Pandangan kedepan jadi terhalang. Sangat mengganggu para pengendera yang bersiap-siap akan memacu kendaraanya. Dan entah apakah cara beriklan itu dibolehkan oleh pemda/polantas. Toh kedua orang yang membawa poster itu tak ada yang mengusik.

"Jangan percaya iklan". Kalimat itu tertera pada pin (emblem) yang diproduksi kunci.org, situs pengkajian budaya yang beralamat di yogya. Dan memang ada benarnya. Sebagian besar iklan itu cenderung menipu. Bahkan menyesatkan.

Seperti iklan elektronik city yang memberi diskon 90% minggu lalu. Tentu saja semua orang tertarik berduyun-duyun ingin membelinya. Dan itu menyebabkan jalanan macet total. Parahnya lagi, sampai di elektronik city, barang yang didiskon sudah habis. Orang-orang merasa tertipu. Elektronik city pun berikilah, memang barang yang di diskon jumlahnya terbatas.

Mengetahui hal tersebut YLKI ngamuk. Terbatas itu pengertianya seperti apa? Bukankah 1 itu terbatas, seribu itu juga terbatas?, katanya. Lebih jauh YLKI mengatakan bahwa tindakan elektronik citi itu adalah kriminal. Karena barang yang dijual ludes pada hari pertama, namun iklan diskon 90% tetap tertampang di pinggir jalan utama.

Kalau kita jeli, tak hanya elektronik city yang menipu. Hampir semua pengiklan menyembunyikan hal-hal yang tidak menguntungkan konsumen. Dan apakah itu memang disengaja oleh para pengiklan? Entahlah. Mungkin kita sebagai konsumen yang harus lebih cerdas dari pengiklan.

Misalnya Hipermarket Carefour yang selalu cuap-cuap untuk mem"free"kan barang belanjaan konsumen jika harga yang diberikan lebih tinggi dibanding tempat lain. Faktanya: banyak harga barang-barang di tempat lain yang dijual lebih murah daripada di Carefour. Namun Carefour tidak mau terima jika kita komplain. Alasanya: yang dijadikan perbandingan Carefur ada Hipermarket yang sejenis, bukan pedagang kaki lima.

Hmm... masihkan kita percaya pada iklan?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home