fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, September 02, 2004

kertas putih

Manusia lahir ke dunia, laksana kertas kosong putih belum ada coretan, blum ternoda, kata sebagian orang. Sebagian yang lain menambahkan, tidak hanya belum ternoda, tapi didalamnya beserta benih-benih kebaikan. Kebaikan yang akan terus berkembang. Sampai dimana tingkat kebaikannya tergantung kondisi dan alam yang melingkunginya. Tapi yang lebih penting adalah keinginan untuk sampai dimana tingkat kebaikan yang diinginkan.

Semua orang dewasa yang berakal sehat, tahu apa itu kebaikan. Yang susah adalah menerapkan dalam kehidupan keseharian. Menerapkan kebaikan itu sama dengan melakukan aktivitas yang lain. Awalnya bisa dengan latihan dengan hal-hal yang kecil, remeh. Dalam proses berjalannya waktu, kebiasaan itu akan mengalami pengalaman-pengalaman yang "mencerahkan". Dengan begitu kita bisa mengamalkan kebaikan sesuai dengan kemampuan kita.

Seberapa besar kemampuan kita itu? Tentunya sangat berbeda tiap orang, sangat personal. Seperti seberapa banyak piring makanan yang kita perlukan untuk mengusir lapar? Sangat spesifik, tidak ada yang sama persis. Dan hanya orang yang bersangkutan yang bisa mengukurnya.

Menerapkan kebaikan adalah suatu kebutuhan. Sama dengan butuhnya makanan dan minuman untuk tubuh. Menerapkan kebaikan mestinya tanpa perlu keinginan-keinginan atau tujuan agar dilihat orang lain. Biarkan saja perbuatan itu mengalir apa adanya. Persis seperti ketika kita ingin makan. Entah ada orang yang melihat, memuji atau memaki, kalau kita lapar, kita harus makan. Makan karena kita memang perlu untuk makan bukan karena sebab lain dari luar diri yang bersangkutan.

Terus kenapa ada banyak orang dewasa, pandai, berakal sehat jarang menerapkan kebaikan dalam kesehariannya? Mungkin karena orang-orang itu masih dilingkupi nafsu-nafsu jahat. Nafsu-nafsu yang dihembuskan setan dari segala arah. Sehingga bisikan itu sanggup melupakan atau mengganti kebaikan-kebaikan yang telah ada didalam dirinya menjadi nafsu-nafsu jahat.

Tapi orang-orang itu sedang menjalani proses menuju ke kebaikan. Hanya saja saat ini mereka itu sedang tak mengenali kebaikan yang ada didalam dirinya. Seandainya dia meluangkan waktu untuk bertanya pada dirinya sendiri, orang -orang tersebut pasti akan menyadari bahwa perilakunya selama ini telah keliru. Bertindak tidak sesuai dengan potensi yang melekat didalam dirinya sejak lahir.

Memang susah untuk mengerti/mengenali kemauan diri yang sebenarnya itu. Apalagi untuk saat ini. Seolah semua hal dikendalikan oleh materi dan persepsi-persepsi. Persepsi yang telah dimanipulasi atau terkontaminasi keinginan-keinginan inderawi. Indera yang menipu.
**

Hmmm... tampaknya serius sekali dan kelihatannya sok amat. Santai man. Tulisan inn adalah hasil obrolan via yahoo mesanger dengan orang yang baru saja kenal. Entah bagaimana waktu itu saya sampai pada terlibat dalam obrolan yang serius ini.

Pastinya dengan sering ngobrol dan sharing info akan terbuka wawasan dan setidaknya "disana" ada suatu pemahaman yang berbeda, walau mungkin esensinya sama. Dan semoga saja dia tidak men'stop" obrolan dengan topik yang asyik ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home