fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Saturday, September 11, 2004

masih relevan?

Kapan menikah? Pertanyaan yang sudah sering kita dengar. Basi. Masihkah relevan untuk dipertanyakan? Bahkan teman saya yang berkulit hitam mulus sampai pada taraf marah dan jengkel pada orang-orang yang menanyai. Mungkin akan berbeda jika pertanyaan itu diganti dengan "Apakah kau akan menikah?

Menikah adalah hak mutlak pribadi seseorang. Tanpa ada campur tangan pihak lain. Kalau menikah, menikahlah karena memang ingin menikah. Bukan karena faktor lain diluar diri. Kalau tidak akan menikah, ya jangan tidak menikah karena pengaruh orang lain, begitu temanku pernah mengatakan. Jadi melakukan sesuatu karena kehendak diri sendiri. Sehingga orang tersebut menjadi sebuah pribadi, bukan hanya bagian dari kolektip, tambahnya.

Menikah adalah sebuah tahap perjalanan untuk menuju suatu "keadaan" tertentu. Dan "keadaan" tertentu itu bisa dicapai dengan banyak cara, tidak hanya dengan menikah. Menikah adalah baik. Dan Tidak menikah bukan lebih jelek. Belum/tidak menikah bukanlah sebuah kekurangan.

Ada yang menganggap bahwa menikah itu wajib, harus dan tidak akan masuk surga kalau tidak melakukanya. Bagi sebagian yang lain, tujuan menikah agar segalanya lebih efisien. Sehingga kalau beranggapan jika menikah akan lebih ribet dan tidak nyaman, tidak menikah adalah suatu pilihan. Bahkan orang seperti itu disebut mempunyai keistimewaan.

Banyak orang menikah yang menderita. Banyak pengkhiatanan yang menyebabkan perceraian. Dan dari hasil pernikahan itu banyak penganiaayaan karena problem rumah tangga. Pembunuhan, anak-anak ditelantarkan. Dan masih banyak kekerasan dalam rumah tangga lainnya. Orang tetap saja menikah, walau dia tahu bahwa menikah itu belum tentu membahagiakan.

Tapi hal-hal diatas tidak tepat untuk dijadikan alasan untuk tidak menikah. Kalau memang sudah paham dan ngerti apa hak dan kewajiban sebagai orang yang telah menikah, tentu hal -hal buruk tersebut tidak akan terjadi. Yang ada hanyalah kebahagiaan sebuah keluarga yang sempurna. Benarkah?

Kebahagiaan seperti itu hanyalah persepsi-persepsi, opini-opini yang dibangun orang-orang. Pendapat yang disepakati bersama oleh sekelompok orang. Dan karena semua menyepakatinya, pendapat itu dianggap suatu "kebenaran". Keluarga yang bahagia diidentifikasi dengan dua anak, rumah mungil, seekor kucing dan kolam renang. Dan hampir semua orang sanggup melakukan apa saja agar memperoleh identitas itu.

Dari cara-cara yang biasa sampai yang ekstrim. Masih sering kita dengar orang-orang menikah hanya karena umur, uang, lingkungan dan desakan orang tua. Yang lebih menderita adalah orang yang berpura-pura menikah. Berpura-pura mencintai dan menikmati "kebahagiaan" yang dipersepsikan orang-orang. Sampai kapan mereka bertahan?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home