fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, September 03, 2004

yang sebenarnya

Masih peristiwa sholat Jumat yang riuh. Orang-orang bergegas menyegerakan datang, agar bisa duduk paling depan. Pekerjaan dan urusan jual beli ditinggalkan. Tentunya tidak semua. Para penjual dan pembeli yang mengelompok di area samping masjid tak terpengaruh. Mereka punya "hiruk pikuk" sendiri. Seperti yang akan sholat di masjid, mereka juga mempersiapkan dagangannya bahkan dimulai lebih awal.

Kegiatan mingguan rutin.

Apa yang sebenarnya terjadi antara kedua kelompok orang itu? Apakah yang sholat di masjid lebih baik dari pada yang menggelar dagangan? Iya jelas lebih baik sholat, di satu sisi. Di sisi yang lain, mungkin belum tentu. Cuman kebanyakan orang pasti setuju dengan argumen yang pertama. Bahwa memang secara umum orang yang sholat jumat di masjid lebih baik daripada yang berada di area pasar kaget tersebut.

Tapi kalau kita mengamati lebih jauh, kenapa ya banyak orang sholat, tapi banyak maling juga? Apakah orang-orang yang datang ke masjid itu salah satu atau banyak memang pencuri? Entah. Yang tertera di media makin banyak korupsi, makin banyak orang-orang jahat. Jadi kenapa orang-orang yang sholat itu masih melakukan tindakan kejahatan?

Hmm.. teman baruku mengatakan bahwa mereka itu hanya melakukan ritual. Ritual kepalsuan belaka. Mereka belum mengerti arti sholat yang sebenarnya. Sholat mereka telah dipalsukan. Dipalsukan untuk tujuan-tujuan jahat. Bahkan bisa jadi dipakai untuk topeng, untuk meyakinkan teman, klien dan calon pacar agar terkesan orang baik-baik.

Sayang sekali orang-orang itu, melakukan sesuatu karena pamrih tertentu. Bukan karena kehendak dan keinginan diri. Tapi apakah itu lebih baik daripada tidak sholat sama sekali?

Masih kata teman baruku: Sholat itu bisa dianalogikan orang yang akan menghadapi test. Agar lulus tes untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, tentunya diperlukan belajar. Nah belajar dalam hal ini bisa dianalogikan sebagai sholat. Dengan sholat diharapkan bisa menapaki "tingkat" kehidupan yang lebih tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah, kalau sudah lulus, mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi, apakah sholat tidak diperlukan lagi?

Embuh, akju belum tahu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home