fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, October 28, 2004

lebaran sebentar lagi

Hore.. hore... lebaran sebentar lagi. Setiap tahun selalu merayakan, tapi semangat lebaran itu tak pernah benar-benar hilang. Selalu saja ada nuansa exicited ketika menyambutnya. Mencari-cari tiket untuk pulang, menghitung-hitung sisa cuti tahunan dan yang lebih penting adalah menghitung bajet.

Beruntung, hari ini tunjangan hari raya telah diberikan. Memang tidak ada "surprise". Tunjangan hanya sebesar satu kali gaji, seperti yang diinstruksikan menteri tenaga kerja. Dari mana itung-itungannya kok ketemu angka 1? Tidak jelas.

Bahkan dalam instruksi tersebut, bagi perusahaan yang tidak sanggup membayar thr masih ditolerir. Asal perusahaan bersangkutan melapor minimal dua bulan sebelumnya. Tidak ada sanksi hukum sama sekali. Buruh yang mempunyai posisi tawar lebih rendah, tak bisa berbuat lebih banyak, kecuali demo.

Seperti yang dilakukan oleh 12.000 an buruh pt panarub di tangerang minggu lalu. Sebenarnya tuntutan buruh itu sangat sederhana. Hanya meminta kenaikan thr yang semula 5 % dari gaji menjadi 25%. Dan sudah empat tahun ini tuntutan ini tidak pernah dikabulkan.

Ironis. Sebenarnya kalau tuntutan itu di kabulkan pun, tak akan berdampak apa-apa pada kehidupannya. Karena walau jumlah nilai nominalnya naik, nilai riilnya mungkin tetap atau bahkan lebih rendah. Mengingat kenaikan harga-harga lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan yang diterimanya.

Tampaknya memang pemerintah tak pernah berpihak pada buruh. Pemerintah sengaja "menjual diri " kepada para investor. Selama ini selalu cuap-cuap bahwa tenaga kerja indonesia murah. Dan ini menjadi salah satu daya tarik para pemodal asing untuk berinvestasi di sini.

Sudah peraturannya buruk, ditambah banyak perusahaan yang tidak punya itikad baik untuk mensejahterakan buruh. Ngeles dengan memanfaatkan kelemahan peraturan itu. Alasan mereka tidak mau membayar adalah karena tidak mampu. Makin terhimpitlah posisi buruh.

Jadi bagaimana para buruh akan menjadi manusia seutuhnya seperti yang dicantumkan dalam UU ketenaga kerjaan jika pendapatan yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar bertahan hidup? Bahkan untuk sekedar merayakan hari raya di kampung pun susah.

Berbahagialah orang-orang yang selalu bisa merayakan hari raya bersama keluarga besar. Bercengkerama dengan teman-teman lama, mengenang masa lalu yang tak terlupakan.

Ketika pagi datang, di meja telah tersedia rapi semua menu hari raya :opor ayam, ketupat, kerupuk dan lainnya. Bapak dan ibu lebih dulu duduk di ruangan itu. Disusul kemudian anak-anak cucu dan anggota keluarga yang lain. Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Satu per satu dimulai dari anak yang tertua "sungkem" ke ibu baru ke bapak.

Saat seperti itu baru nyadar ternyata selama ini telah melalaikan mereka. Dan mereka tidak hanya selalu memaafkan tapi juga mendoakan.

Kupandangi sekali lagi slip gaji. Kembali aku menghitung-hitung dan merevisi rencana-rencana. Mencoret-coret point-point yang tidak urgent. Ramadan ini aku putuskan untuk menunda pulang. Dari ruang sebelah terdengar sayup desah yanyian ebit:
Ayah....
dalam hening sepi kurindu.....
untuk menuai padi milik kita
tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
anakmu sekarang banyak menanggung beban
.....

1 Comments:

Blogger cemoet said...

Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Maafin kantor ya mas.. seharusnya yang minta maaf itu si boss ato HRD-nya :D

5:41 PM  

Post a Comment

<< Home