fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, October 01, 2004

namsong sirelak

Kapan kita mati? Semua orang pasti menjawab tidak tahu. Tapi namsong sirelak tahu pasti kapan kematiannya. Tinggal beberapa jam lagi dia bisa menikmati hiruk pikuknya dunia. Sekelompok regu tembak dari brimob sudah siap mencabut nyawanya.

Apa yang terpikir ketika seseorang tahu, waktu hidup yang tersisa tinggal beberapa saat? Namsong sirelak tenang. Tampaknya dia terpaksa mempersiapkan kematiannya. Untuk yang terakhir kali dia minta untuk bersembahyang di vihara. Dan dia sempat bercakap-cakap dengan anak laki-laki satu-satunya, san kisuk (12). Dengan terbata dia mengatakan via telepon bahwa dirinya sekarang masih sibuk. "Suatu saat nanti ibu pasti pulang", tambahnya.

Sebagai seorang ibu, namsong di detik-detik akhir hidupnya masih memberikan harapan kepada anak yang telah 10 tahun ditinggalkanya. Harapan yang entah bagaimana san kisuk akan menyikapinya kelak dewasa. Yang jelas tinggal abu jenasah namsong yang kembali ke tanah kelahiranya di thailand.

Namsong "pergi", sehari setelah ulang tahunnya yang ke 32. Pada pesta ultah terakhirnya itu, semua penghuni penjara hadir. Pesta itu dirayakan dengan sederhana. Ada kue dan nyanyian happy birthday dari semua teman-temannya. Namsong yang jadi juru masak penjara itu disukai semua penghuni LP.

Perjalanan namsong sampai ke hadapan regu tembak dimulai sepuluh tahun yang lalu. Ketika dia dengan Ayodhya Prasad Chaubey membawa heroin 12 kg dari bangkok ke Medan. Celaka menimpanya, dia tertangkap kepolisian dan dijatuhi hukuman mati.

Tentu saja sikap pemerintah yang menghukum mati namsong itu ditentang banyak orang termasuk amnesti internasional dan lbh indonesia. Namun pro kontra itu tak membuat megawati surut untuk menolak kasasi yang diajukan pengacara namsong.

Namsong pun untuk terakir kali, meminta kepada pemerintah indonesia untuk tidak menghukum mati kepada siapapun. Dan permintaan itu tentu saja tak bisa begitu saja dipenuhi.

Masih ada 77 namsong-namsong lain yang tinggal menunggu hari untuk dieksekusi. Bisa dibayangkan menunggu waktu untuk mati. Tentu sangat berbeda dengan orang-orang bebas yang memang sama-sama "tidak tahu" kapan akan mati. Putus asa mungkin itu yang dirasakan para "pesakitan" yang dunianya tinggal seputar penjara itu.

Untuk menghadapi kematian itu, mereka semua dibimbing oleh guru-guru rohani agar mereka tenang dan siap menuju ke dunia berikutnya. Entah dunia yang seperti apa. Semoga menyenangkan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home