fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, October 27, 2004

paradoxical

Dunia yang selalu mempunyai dua kutub asas berlawanan. Kalau kita jeli memperhatikan, banyak peristiwa/ kebiasaan yang bertolak belakang dengan yang seharusnya. Misalnya selama bulan puasa ini.


Hari-hari menuju idul fitri ini, ustad-ustad di media, di masjid, di buku-buku semua membahas keutamaan berpuasa dan hidup sederhana. Dengan berpuasa diharapkan akan merasakan dan menyadari kehidupan orang kecil yang kekurangan makanan, sehingga akan timbul simpati dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, katanya.

Tapi justru setiap orang berlebih-lebihan dalam segala hal. Bersibuk diri sejak pagi menyiapkan menu yang serba lebih untuk berbuka puasa. Otomatis pengeluaran untuk konsumsi juga lebih banyak dari hari-hari biasa. Celakanya sikap ini didukung sepenuhnya oleh supermarket, toko, mal. Semakin banyak membeli barang semakin banyak mendapatkan keuntungan/diskon.

Menginjak hari ketiga belas ini, suasana kemeriahan Idul Fitri makin terasa. Terlihat parcel sudah mulai beredaran dikantor-kantor perusahaan, instansi pemerintahan. Apa maksudnya memberikan bingkisan kepada orang yang "tidak" terlalu membutuhkan? Pekerjaan yang nyaris sia-sia.

Memang tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Tapi apakah pemberian parcel itu tulus? Tentu saja tidak. Sesedikit apapun, ada udang dibalik batu. Bahkan Komisi pemberantasa korupsi menganggap parcel identik dengan suap. Sehingga lsm ini melarang pejabat menerima parcel.

Mungkin pendapat itu tak benar sepenuhnya. Hanya saja kalau mereka itu memang benar-benar tulus memberi, kenapa tidak diberikan saja kepada orang-orang kecil yang sangat membutuhkan? Orang-orang yang tidak sanggup belanja di mal? Orang-orang kecil yang tidak pernah makan kenyang?

Banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan sekedar untuk makan mempertahankan hidup. Berjubel pengemis, anak jalanan, pemulung, tukang becak merata di setiap wilayah kumuh. Dan keadaan ini dimanfaatkan dengan cerdik justru oleh para suster dari perkumpulan katolik. Seperti di jawa timur, mereka menjual makanan buka puasa dengan Rp 500 bisa makan sekenyangnya.

Yang lebih parah lagi, ada 26 Anak di Jateng Meninggal karena Kurang Gizi. Namun tampaknya peristiwa ini tidak cukup memberi kesadaran untuk lebih berempati.

Kebiasaan orang yang ingin dipuja, adalah penghambat terbesar untuk mencapai penyadaran ini. Sehingga sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan masih tetap berlangsung. hehehehheh

0 Comments:

Post a Comment

<< Home