fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, November 01, 2004

mayat terlantar

Hampir semua orang mengira, kalau sudah mati, urusan akan selesai. Mungkin benar bagi mayat yang telah meninggalkan dunia itu. Tapi akhir kehidupan seseorang bisa-bisa menjadi awal/ petaka bagi kerabat/ orang terdekat. Ternyata seseorang yang sudah meninggal pun masih bisa menyusahkan orang lain.

Ceritanya, teman saya yang sakit parah, harus operasi tumor di deket anusnya. Karena sudah stadium lanjut, maka perlu dua kali operasi. Operasi pertama membuat anus buatan yang ditaruh di bagian perut sebelah kiri. Dan setelah kondisi tubuhnya sehat, baru dilakukan operasi pengangkatan tumor.

Menurut dokternya, tingkat operasi ini termasuk sangat sulit, karena tumor melekat di tulang belakang. Sangat beresiko. Kemungkinan terburuknya adalah dia akan lumpuh total. Bisa dibayangkan seseorang menjalani kehidupan diatas kursi roda dengan anus buatan di perut bagian kiri?

Selain itu, dia harus menanggung beban biaya operasi yang diperkirakan menghabiskan dana 25 jutaan. Dari mana mendapatkan sebesar itu? Sementara dia hanya jualan di kantin yang kecil. Sehari-harinya menunggu kantin di pojok gedung wisma metropolitan. Bersama 3 orang temannya.

Di jakarta dia tidak mempunyai saudara. Dia anak tunggal. Sejak kecil dia dibesarkan oleh kakek-nenekya. Karena orang tuanya entah kemana, merantau dan tak pernah pulang-pulang. Bahkan sampai kedua orang tuanya meninggal. Sampai sekarang dia tak pernah mengenal ibu dan bapaknya.

Sebagai perempuan mungkin dia terlalu lemah untuk menanggung semua beban itu. Dia pasrah. Dia sudah rela untuk meninggalkan semua kenangan yang dirasakan begitu pahit. Ketika terakhir bertemu di rs, dia masih semapt mengucapkan terimaksih karena mau membesuk.

Dan ketika teman-teman pamit pulang, air matanya menetes. Tak ada kata-kata terucap, hanya tanganya berusaha bergerak-gerak lemah. Tampaknya itu adalah lambaian tangan perpisahan. Sore itu menjadi pertemuan untuk terakhir kalinya.

Kepada salah satu teman, dia berpesan agar dia dikuburkan di kampung halamannya. Di bawah dua pohon kamboja, dimana kakek-neneknya dikuburkan. Semoga damai di alam "sana". Cerita tentang perjalanan hidupnya selesai.

Benar, jam 12.00 ada yang mengabarkan bahwa dia meninggal, fokus pertama adalah dari mana biaya untuk mengurus jenazah itu sampai di kampung? Hanya ada satu orang yang menunggu di rs. Dan dia tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Sampai jam 15.00 akhirnya diputuskan untuk saweran "sebesar-besarnya" dari teman-teman. Dan baru pada pukul 20.00 jenasah bisa di pulangkan.

Yang tersisa sekarang adalah tagihan dari manajemen rumah sakit. Tidak jelas siapa yang akan bertanggungjawab untuk membayar semua biayanya. Sedikit banyak pasti akan menyusahkan pihak kerabat atau teman dekat. Nah agar kejadian seperti ini tak terulang pada kita, teleponlah asuransi jiwa saat ini juga. Sehingga kalau kita mati segera, masih ada orang yang senang, hehehheh.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home