fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, November 03, 2004

mudik, buat apa?

"Mudik? kayak pembantu aja". Begitu engkau selalu sinis pada orang-orang yang sibuk mempersiapkan kepulangannya. Entah apa yang kau pipikirkan waktu itu. Tapi aku tidak sepenuhnya percaya bahwa itu adalah keluar dari hatimu. Mungkin saja waktu itu kau lagi sumpek, banyak masalah harus cepat diselesaikan.

Suara lantangmu selalu mengobarkan semangat untuk tidak pulang kepada orang-orang di sekitarmu. Kompor sana-sini. Berpindah dari satu meja ke meja lain, dengan alasan yang memang masuk akal, mencoba mempengaruhi sampai menit terakhir. Tapi seperti bicara kepada dinding, suaramu memantul kepada dirimu sendiri.

Mudik yang selalu repot. Macet, berdesakan, dan menghamburkan uang. Mending ditabung saja. Atau pulang nanti setelah lebaran. Itu yang selalu kau jadikan alasan untuk tidak pulang. Padahal kau, seperti ribuan orang lainnya masih mempunyai kampung yang telah lama kau tinggalkan. Disana ada kerabat, ada teman lama ada kenangan indah.

Rupanya kau memaknai lebaran hanya sebatas rutinitas dan pemborosan. Diangapnya pulang kampung hanyalah ajang pamer kesuksesan dan agar tidak dicap anti sosial. Benarkah kau tak merindukan suasana lebaran?.

Sewaktu kecil saya sangat menikmati suasana lebaran. Saat itu selalu ada baju baru dan uang saku. Bersilaturahmi ke rumah-rumah paman, pak dhe , embah kerabat lain dan tetangga. Kesempatan mecobai beragam makanan sampai puas. Saling maaf maafan. Tak ada amarah, semua merasa satu saudara.

Mungkin kau saat itu kebanyakan nonton teve? Mengikuti himbauan seorang pejabat agar jangan memaksakan diri untuk pulang. Himbauan yang ditujukan kepada orang-orang kecil yang kantongnya cekak. Himbauan yang salah sasaran. Mestinya dia melarang orang-orang yang berkantong tebal untuk menunda mudiknya, karena dia bisa bebas pulang kapan di mau.

Rupanya hatimu tak tergetar, melihat wajah-wajah berseri, saling berjabat tangan. Semua ceria tanpa membedakan kelas sosial. Kau sedang lupa atau sedang melupakan? Entahlah. Kini kau berbeda. Lebih suka menikmati lebaran di hotel karena pembantu tidak ada. Segala keperluan tinggal memesan dan semuanya tersedia.

Tapi semua itu ternyata tak membuat kau nyaman. Menghabiskan hari dengan isteri dan anak-anak, kalau sampai seminggu, rasanya bosan juga. Mau berkunjung ke rumah teman, enggan. Kira-kira siapa yang bisa diajak sekedar berbincang melepas kepenatan? Tidak ada.

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

hmm very interesting read ^_^ nice blog
www.shu-dohji.tk

11:03 AM  

Post a Comment

<< Home