fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, November 02, 2004

pengemis dan pelacur

Keduanya sama-sama pekerja (tanpa keras). Sama -sama tak begitu memerlukan otot dan otak. Andalannya adalah tebal muka. Tak punya malu. Selebihnya menunggu. Jika beruntung, uang banyak menuju koceknya. Kalau lagi apes, paling banter digaruk petugas tramtib. Dan dua minggu kemudian dibebaskan lagi.

Tapi keduanya mendapatkan perlakuan yang sangat kontras oleh masyarakat. Apalagi pada bulan ramadan ini. Bagi pengemis bulan ini adalah bulan yang benar-benar penuh berkah. Karena semua tahu, bulan seperti ini sangat dianjurkan untuk bersedekah kepada orang tak mampu.

Rupanya dalil ini dipegang kuat para pengemis. Bulan ini di jakarta jumlah pengemis meningkat 300% dari hari-hari biasa. Mereka bukan hanya pengemis lokal, tapi banyak juga pengemis musiman dari luar jakarta. Bahkan di salah satu kampung di Cirebon, semua warganya adalah pengemis musiman.

Setiap tahun, mereka berbondong-bondong ke ibu kota. Sasaran mereka adalah masjid-masjid besar dan perempatan lampu merah. Tidak hanya orang dewasa, nenek dan anak-anak balita pun turut mengais rezeki lewat cara ini.

Mereka datang tidak sendirian. Ada koordinator pengemisnya. Setiap sore mereka harus setor sekian rupiah. Dan para pengemis itu disewakan rumah sederhan yang dipakai ber 10 aau ber 20. Rupanya peluang ini dijadikan lahan bisnis yang cukup menguntungkan. Tapi ada juga yang datang sendirian, tidak ikut satu kelompok tertentu.

Mereka menjadi pengemis sudah ahli, tahu trik. Selain pintar "berteater", kadang perlu juga pengorbanan yang tidak main-main. Misalnya saja, agar lebih cepat mendapatkan uang, mereka rela membuat luka kaki dengan membakarnya. Bahkan pengemis di India lebih tragis, mereka memotong salah satu tangan atau kakinya.

Trik-trik itu memang manjur. Terbukti banyak orang terdorong untuk memberikan recehannya. Ikhlas tanpa berpikir lagi apakah keadaanya benar-benar perlu dibantu atau sebaliknya.

Keadaan ini sangat kontras dengan para pelacur. Bulan ramadan adalah masa-masa paceklik dan penuh ancaman. Banyak pihak yang mengobarkan perang dengan maksiat. Tempat-tempat hiburan disuruh tutup, jika tidak ada pihak tertentu yang mensweeping dan menghancurkan tempat itu. Poisi dan petugas tramtib pun lebih rajin berpatroli.

Kenapa mereka memperlakukan lebih keras pada pelacur, sementara kepada pengemis lebih lunak? Kedua-duanya sama-sama merusak moral. Kalau alasannya mengotori bulan suci, Islam melarang pelacuran dan juga menghinakan pengemis. Selain itu kenapa mereka hanya mensweeping dan menghancurkan tempat-tempat hiburan dan tempat lain tidak?

Terlalu cetek, dangkal memberantas pelacur hanya sebatas menghancurkan kafe dan tempat hiburan. Saya seorang pelacur, dan saya tak pernah ke kafe, diskotik atau temapt mesum lainnya. Saya hanya cukup menaruh foto saya di friendster, facepic.com, facelink.com atau di situs yang memang sengaja saya sediakan. Bagaimana kalian akan mensweeping saya? Dan jumlah saya bisa jadi lebih banyak daripada yang berada di pinggir jalan atau tempat mesumlainnya.

Pelacur dan pengemis, dua komunitas yang keberadaanya setua peradaban manusia itu sendiri. Selagi masih ada para simpatisan pengemis dan permintaan untuk pelacur, komunitas itu tak kan pernah hilang. Bagaimana kita menyikapinya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home