fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, December 29, 2004

anak-anak naik ke surga

Aceh tak henti hentinya dilanda duka dahsyat. Nyaris sepanjang sejarah tak pernah mengalami kedamaian yang sebenarnya. Sejak adanya DOM, perkelahian dengan gam, banjir, dan kini gempa dan tsunami. Dalam waktu hanya setengah jam, ribuan nyawa lepas dari tubuh. Seluruh bangunan dan benda diatas bumi musnah. Luluh lantak, rata dengan tanah.

Orang-orang panik. Mereka berlari dikejar-kejar gelombang dahyat. Berpacu mempertaruhkan nyawa dalam hitungan detik. Ibu-ibu dan anak-anak histeris. Sebagian besar yang lain memekikkan "Allahu Akbar, Allahu Akbar".

Benarkah Tuhan Murka kepada mereka? Seperti yang dikatakan pada iklan kepedulian untuk aceh di tv? Tentu saja tidak. Tuhan tetap masih maha pengasih dan maha penyayang sampai detik ini. Kenapa orang-orang Aceh begitu banyak mendapat cobaan?

Kalau kita baca sejarahnya, orang-orang aceh adalah orang-orang hebat. Tak pernah tergoyahkan mereka memegang keyakinan. Aceh adalah daerah terakhir yang berhasil ditaklukkan belanda. Zaman kemerdekaan, hanya orang Aceh yang sanggup bersama-sama mengumpulkan dana untuk membantu republik. Keyakinan orang-orang aceh tak perlu diragukan.

Saya percaya orang-orang aceh sanggup melewatkan cobaan panjang itu. Dan mereka tak pernah juga merasa Tuhan murka kepadanya. Ditengah-tengah lautan jenazah yang ditaruh di tanah lapang, Umi dengan hanya diterangi lilin, khusuk membaca Al Quran. Berdoa agar arwah-arwah korban gempa tsunami naik ke surga.

"Ini Hanya keajaiban Tuhan, saya bisa selamat. Kami dikejar-kejar air setinggi 4 meter", cerita salah satu dari mereka. Lebas dari kejaran gelombang, mereka harus berhadapan lagi dengan keadaan yang tak kalah dahsyat: kelaparan, kedinginan dan tak ada air bersih dan fasilitas umum. Termasuk mereka harus buang hajat di sembarang tempat. Dengan kondisi memilukan itu, bisa dipastikan penyakit kholera segera menyebar. Dan korban akan bertambah lebih banyak.

Duka itu tak hanya berhenti sampai disitu. Ribuan anak-anak kehilangan orang tua. Masa depan mereka nyaris tak tergambar. Jangankan untuk sekolah, untuk mempertahankan hidupnya saja nyaris tak mampu. Sementara sanak keluarga mereka sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa untuknya.

Mungkin sebenarnya kita lah yang mendapat ujian lebih dahsyat dari mereka. Bagaimana sikap kita melihat penderitaan seperti itu? Simpati saja tentu tidak cukup untuk mereka. Perlu upaya kongkrit untuk membantu mereka. Nah sekarang saatnya lah kita membuktikan diri, termasuk kelompok manusia macam apa kita ini?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home