fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, January 19, 2005

godlob

Cerpen ini ditulis tahun 1967. Ketika saya sangat belum lahir. Dan sekarang dicetak ulang, menjadi kumpulan, cerpen maret 2004. Sebegitu hebat cerpen tersebut hingga perlu diterbitkan lagi setelah 34 tahun?. Bagi generasi tua godlob adalah salah satu pencapaian puncak tertinggi cerpen masa itu.

Membaca cerpen danarto saya merasakan adanya imajinasi yang luar biasa liar. Penuh kejutan dahsyat dan merasa di dunia "lain". Pembaca diajak untuk mengubah cara pandang tentang dunia, hidup dan kematian, yang kadang-kadang bertolakbelakang dengan apa yang diajarkan guru agama.

Misalnya saja dalam cerpen yang ada tokoh namanya Rintrik. Ketika ditanya, siapa kamu, rintrik menjawab aku adalah benda mati. Yang saya tangkap adalah mungkin memang dia adalah seonggok tubuh bukan apa-apa. Karena Tuhan memberikan rahmatnya, maka dia menjadi manusia seperti ini.

Orang-orang menyebut beraliran sufisme ( Sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan). Hampir semua cerpenya memang berbicara tentang Tuhan. Tentang ketiadaan. Benarkah kita itu sebenarnya tiada?

Seseorang yang namanya fanabis misalnya. Ketika ditanya yang mana sih persisnya yang mananya fanabis, tidak ada yang secara persis benda yang dimaksud. Ketika yang ditunjuk dadanya, dada bukan fanabis. Ketika dia menunjuk kepala, ternyata kepala bukan fanabis juga. Dan fanabis itu ternyata tidak ada.

Dimana-mana tulisan danarto sudah menduania. Bahkan disebut2 danarto sudah sampai pada taraf pujangga. Dan banyak karyanya yang diterjemahkan ke banyak bahasa. Tak hanya itu bahkan diterjemahkan menjadi tari dan teater. Disamping penulis, danarto adalah pelukis hebat.

Keunikan danarto tak hanya sebatas tema cerpennya. Judul cerpennya pun ada yang berupa gambar-gambar. Sehingga orang akan kesulitan menyebutkan apa judul cerpen tersebut. Salah satu cerpennya judulnya berupa gambar panah menembus jantung dan darah menetes di ujungnya. Juga ketika waktu pameran lukisannya: kanvas kosong. Dia hanya memajang keramik-keramik warna putih.

Mungkinkah cerpen model sufism danarto sampai sekarang blum ada sastrawan generasi muda yang menyamainya? Entahlah. Bisa jadi generasi muda sudah tidak tertarik dengan tema-tema seperti itu? Atau memang setiap generasi mempunyai kekhasanya sendiri?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home