fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, January 20, 2005

harmoni

Rintik hujan pagi, lama-lama menderas juga. Aku malas berangkat kerja. Aku gapai-gapai selimut dan kembali melanjutkan mimpi. Dingin dan nyanyian hujan melenyapkan seluruh barang dikamarku. Betapa tidak, aku terlelap. Dan air sudah menyusup dari sela-sela pintu sampai setinggi 40 cm.

Banjir lagi banjir lagi. Baru beberapa bulan lalu, air sumur tak memancar, kering. Rasanya tiap tahun masalah ini tak pernah selesai. Atau memang tak pernah diselesaikan? Aku tidak mengerti, siapa yang seharusnya bertanggungjawab bencana ini.

Kepada siapa aku harus meminta ganti barang-barangku ayng terendam air? Ke pak gubernur dki, ke ibu kost atau kepada para konglomerat yang membangun perumahan di ujung ciliwung sana? Atau kepada orang-orang yang membangun gubuk-gubuk dan tinggal di bantaran kali? Aku tidak tahu.


Tapi mungkin para konglomerat yang agak paling bertanggungjawab. Seperti ayng ditulis media-media itu. Mereka membangun rumah mewah di sepanjang gunung-gunung, hulu sungai ciliwung. Mereka membabat semua hutan dan pohonnya. Konglomerat yang tak bertanggunjawab dan tak tahu diri.

Dan yang agak paling bertanggunjawab kedua mungkin pak gubernur dki, karena tidak bisa mengurus aparatnya. Kan sudah ada peraturan dilarang menghuni bantaran kali, tapi bawahan pak gubernur masih mau disuap, maka beramai-ramailah orang mendirikan gubug atau rumah. Digusur, disuap, didirikan begitu siklusnya

Orang-orang yang yang tak pernah merasa cukup.

Awal semua itu adalah keserakahan. Wajar. orang-orang tidak pernah tahu besok pagi akan seperti apa. Maka beramai-ramai lah orang menyiapkan makanan dan lainnya untuk menyongsongnya. Sayang, terlalu banyak orang-orang yang berlebihan. Bahkan ada yang berjaga-jaga agar bisa tidak habis untuk tujuh turunan.

Mereka hidup berdasarkan opini-opini, bukan realita. (ahcmad chodjim:makna kematian) Dan celakanya opini-opini yang sudah diakui bersama itu dianggap suatu kebenaran. Semakin banyak orang punya uang dianggap semakin tinggi tingkatannya. Berawal dari situlah orang menjadi rakus dan tamak. Tak peduli pada alam juga orang-orang disekitarnya.

Tak sebatas perusakan hutan, penambangan emas, gas bumi. Mereka menguras sampai perut bumi. Kerakusan dan ketamakan itulah yang menyebabkan keseimbangan alam musnah. Mereka berusaha menguasai alam. Bagaimana mungkin bisa, padahal dia sendiri adalah bagian dari alam itu.

Kapankah banjir akan berhenti? Sampai orang-orang mengerti apa itu sebuah harmoni.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home