fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, January 11, 2005

pahlawan sok

Bencana itu tak selamanya duka. Orang-orang sepertiku, justru di suasana inilah aku bisa makin mendapatkan ketenaran. Di saat semua media fokus ke aceh yang mati, aku kena impactnya. Aku disorot kamera tv, ditulis di surat kabar, dan namaku menyejarah, abadi. Orang-orang akan melihat aku sangat peduli.

Mungkin kalian tidak percaya kalau kepergianku ke Aceh sebenarnya aku ingin sekali jadi orang paling pahlawan. Aku ingin orang menilaiku sebagai orang yang paling banyak bersimpati. Paling banyak yang memberikan uang, baju-baju dan makanan. Toh baju yang numpuk di lemari sudut itu sudah lama tak kepake.

Dan ternyata "dream come true. Akibat peristiwa itu, kolega, rekanan bisnis, teman dan masyarakat membaca berita tentangku. Aku semakin populer. Tau kan kalau populer kemana-mana akan menjadi pusat perhatian. Dan kalau beruntung semua urusan akan jadi lebih mudah.

Sebenarnya sih, waktu itu aku sedang nonton tv, aku pindah-pindah chanel, semua memberitakan tentang tsunami yang menerjang banyak negara. Saat itu sambil makan malam dengan menu kalkun bakar. Karena keasyikan makan, aku sampai kekenyangan. Gambar-gambar di tv belum sanggup mengusik perhatianku. Aku masih melanjutkan meminum anggur putihnya.

Ternyata dahsyat juga bencananya, tapi hanya untuk mereka yang mengalaminya saja. Ingin segera aku memanfaatkan momen itu semaksimal mungkin. Aku langsung telepon ke teman-teman. Dan mereka setuju ingin berangkat kesana. Aku juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan sesampainya disana. Karena tidak mungkin aku harus menggotong ribuan mayat yang mulai membusuk atau menyingkirkan sampah-sampah kayu yang berat. "Aku bisa gila".

Aku kesana sebenarnya cuman pengen menonton aja. Aku sadar benar kedatanganku tak ada gunanya apa-apa buat para korban yang tak punya apa-apa lagi itu, selain keyakinan kuat. Tapi aku harus melakukannya, karena ini penting untuk eksistensiku.

Aku tahu betul, aku harus bersiap-siap untuk menceritakan apa yang aku lihat. Pasti banyak wartawan yang pengen dengar komentarku. Semakin bombastis apa yang aku katakan, mereka semakin senang. Kebanyakan media kan cuman mengejar oplah. Tak pernah tahu apa sebenarnya apa yang ada di kepalaku.

Begitu juga apa-apa yang telah aku potret di sana. Aku tinggal nyerahin aja ke salah satu media. Dan minta komentar salah satu kritikus seni. Dan dimuat. Nah orang-orang akan menilai aku adalah orang yang multi talent. Syukur-syukur bisa dipajang di sebuah pameran di even yang prestisius. Puas, target terpenuhi.

Sekarang menjadi fotogtafer, lain kali aku pengen menjadi relawan. Bukan relawan yang mengandalkan otot dan berada di tempat yang kotor dan bau. Bukan pula relawan spiritual. Karena akan terlalu konyol dimata orang-orang, bisa-bisa ini malah akan menurunkan pamorku. Aku hanya ingin menjadi relawan yang tugasnya menghibur, membuat para korban melupakan kepedihannya, walau sebentar. Ya memamng sebentar saja, karena setelah aku pergi, mereka harus berjuang untuk sekuat tenaga menunda kematiannya.

Sementara aku balik ke tempatku aku sudah lupa mereka. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Belanja, absen dari satu pesta ke pesta lainnya. Dan menanti-nanti kejadian yang bisa menambah "nilai jual" diriku. Hebatnya aku.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home