fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, January 03, 2005

persembahan untuk Tuhan

Berbondong-bondong orang memberikan santunan untuk Aceh. Hampir semua orang berduka, tapi duka penderitaan mereka lebih dari apa yang kita bayangkan. Karena kita tak pernah mengalami dan merasakan kondisi nyata yang mendera mereka.

Rumah dan apa yang mereka miliki rata dengan tanah. Anak-anak, orang tua, kerabat, dan masa depan anak-anak lenyap disapu gelombang. Airmata sudah tak cukup untuk mengekspresikan kesedihannya. Satu generasi musnah.

Duka kita hanya "terwakili" oleh makanan, pakaian (bekas pantas pakai), dan sejumlah uang. Ini tampak menumpuknya kardus-kardus dan banyak no rekening di banyak bank di posko peduli. Masyarakat dan mahasiswa turut mencari dana di sepanjang jalan/perempatan untuk aceh. Juga masyarakat dunia.

Tak ketinggalan doa-doa bersama digelar di masjid dan di jalan-jalan. Di banyak tempat merebak lautan warna putih. Kata-kata suci diucapkan bersama-sama seluruh masyarakat. Hanya satu tujuannya agar mereka diberi kekuatan dan ketabahan dalam menapaki perjalanan selanjutnya.

Kepedulian yang mengharukan. Semua bersama-sama dalam satu kepatuhan kepada Tuhan. Namun disayangkan, ada juga orang-orang yang hanya terlibat sekedarnya. Seperti yang terjadi kemarin, dari sekian banyak baju-baju yang terkumpul, ada sebagian yang tidak layak pakai.

Ajang aceh dijadikan tempat buangan pakaian yang layak masuk sampah. Untuk orang yang memang memerlukan, mungkin sedikit melegakan. Cukup untuk sekedar menutup badan, melindungi hembusan angin. Tak pernah berpikir sampai estetika untuk penampilannya.

Suara dari langit mengingatkan, jangan berikan kepada orang lain apa yang kamu sendiri tak suka. Jadi harus yang terbaik, karena itu sama artinya persembahan untuk Tuhan. Tuhan yang akan menerima lebih dulu, sebelum bantuan itu sampai ke penerima. Seandainya mereka-mereka tahu.......

Bukankah sejarah telah banyak mengisahkan tentang sebuah persembahan? Dari zaman batu sampai zaman blog. Mulai dari buah-buahan, binatang sampai pada pengorbanan ketulusan (ikhlas)?. Tidakkah belum cukup untuk memberikan penyadaran kepada mereka?

Tahun baru, semoga ada kesadaran baru untuk menuju segalanya lebih baik.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home