fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, January 17, 2005

Qurban

Sampai sekarang ini, aku belum "mampu" melaksanakan kurban. Bukan karena tidak punya uang :), tapi katanya melaksanakan kurban belum syah kalau belum melakukan Aqiqah. (Alasan tepatnya sih ngga niat). Untuk anak cowok, di "aqiqah" in 2 ekor kambing gemuk. Untuk anak perempuan cukup 1 ekor.

Sebenarnya semua umat islam yang mampu seharusnya melaksanakan qurban. Karena dengan berkorban, katanya itu kambing, sapi itu nantinya akan menjadi pesawat untuk sampai ke surga. Makanya agar lancar, dipilih korban yang sempurna, tidak boleh cacat.

Katanya waktu itu terjadi peristiwa dahsyat, dimana nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail. Tentu saja Ibrahim tidak yakin benar, masa sih Tuhan memerintahkan untuk membunuh anaknya sendiri. Ibrahim bermimpi tiga kali berturut-turut tiap malamnya dengan perintah yang sama.

Akhirnya, Ismail mendukung Bapaknya untuk menyembelih dirinya. Perintah Tuhan apapun harus dilaksanakan, kata Ismail. Entah itu masuk akal atau tidak, toh akal manusia terlalu sempit untuk menganalisa wacana yang berhubungan dengan Tuhan.

Dan kita tahu, Ismail diganti dengan domba. Bagi sebagian orang mimpi Ibrahim itu hanyalah bisikan setan, bukan perintah Tuhan. Tapi pendapat itu tentu saja dibantanh oleh orang islam yang lain. Sampai sekarang peristiwa itu dijadikan hari Idul Qurban ( Idul Adha) dengan menyembelih sapi atau kambing.

Kenapa kita tidak boleh berkorban seribu ayam?

Tiga hari seebelum Lebaran haji, kita di sunnahkan puasa. Dan sesudah 3 hari lebaran haji kita dilarang puasa. Kenapa? Kata teman saya. Itu adalah hak preorgratif Tuhan. Sama seperti kita kalau bertanya, kenapa harus sholat lima kali sehari, kenapa gerakannya seperti itu. Hanya Tuhan yang tahu.

Tapi saya belum puas dengan jawaban itu, walau katanya juga, melaksanakan perintah Tuhan itu tak ada jeleknya. Pasti ada sesuatu hikmah yang ada dibalik perintah itu. Cuman akal manusia yang belum bisa mengetahuinya.

Hmm.. dari awal kok katanya-katanya, emang yang sejatinya itu seperti apa? Kalau katanya-katanya kan artinya belum tentu benar. Atau bisa jadi benar menurut yang mengatakan saja. Jadi bagaimana memaknai sebuah kebenaran? Jalan masih panjang untuk saya menemukannya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home