fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Saturday, January 15, 2005

sinetron: ketika manusia menjadi bodoh

Menonton sinetron seolah berkelana ke negeri entah-berantah. Negeri dimana semua penghuninya terkesan "bodoh". Mungkin pendapat ini berlebihan. Tapi kalau mencermati, baik sinetron yang temanya drama, action, horor dan genre lain, kita akan melihat dengan gamblang tokoh-tokohnya yang bodoh.

Problema yang dihadapi tokoh dalam hidupnya hanya seputar rebutan harta, dendam, selingkuh, kawin paksa atau alam gaib. Misalnya sinetron ratapan anak tiri, kisah-kasih disekolah, inikah rasanya, abg dan hampir semua sinteron di semua stasiun tv. Konflik-konflik yang dihadirkan sangat sederhana, bahkan untuk orang-orang tak berpendidikan sekalipun.

Contohnya di sinetron tersebut tokoh-tokohnya digambarkan berpendidikan tinggi, kelas atas. Tapi tindakan dan ucapannya sangat jauh dari baik. Tokoh-tokoh dalam cerita itu hanya teriak-teriak, melotot, menangis dan berkata-kata kasar.

Dalam sinetron bidadari misalnya, isteri yang jahatnya kelewatan, suaminya selalu memaklumi dan memahami perbuatan isterinya. Walaupun dia tahu anaknya disiksa secara fisik juga dengan kata-kata yang mestinya disensor. Belum lagi para penjahat, nyaris selalu terdengar kata-kata setan, bajingan, bangsat keluar dari mulutnya.

Masih dalam cerita itu, si anak tidak berusaha keluar dari masalah yang dihadapi. Seolah dia menikmati keadaan dirinya yang menderita. Pasrah, berurai air mata dari menit ke menit. Sisi kemanusiaanya hilang, akal dan "perasaanya" entah kemana. Logika manusia "normal" tak ada disini.

Pemirsa sangat menikmati cerita-cerita seperti itu. Walau akhir cerita sudah bisa dengan gampang ditebak, hal itu tak menyurutkan minat pemirsa untuk terus menonton. Mereka tak pernah mempertanyakan, hanya menikmati.

Bisa jadi karena tak ada pembanding, penonton tahunya sinetron itu ya seperti sekarang ini.

Eros Djarot pernah mengatakan tentang selera masyarakat ini. Katanya, "Jangan pernah menganggap remeh selera masyarakat." Karena tak ada pilihan tontonan yang menarik, akhirnya masyarakat hanya memilih tayangan yang ditawarkan. Dan ini oleh pembuat rating dianggapnya masyarakat suka dengan model sinetron seperti itu. Pada hal belum tentu.

Kalau sinetron komedi mungkin bisa dimaklumi, memang tujuannya sekedar untuk lucu-lucuan, walau kadang sangat naif. Bukan berarti bodoh itu lucu dan harus di tertawakan. Hanya karena bisa menertawakan diri sendiri beban kehidupan akan terasa lebih ringan. Bajai Bajuri misalnya.

Ibu-ibu rumah tangga, remaja dan anak-anak, sinetron menjadi teman keseharian 24 jam di rumah. TV sudah menjangkau ke sudut-sudut dinding kardus orang-orang paling miskin sekalipun. Sinetron memang hanya sebatas untuk hiburan saja. Sehingga proses produksinya pun dibuat secara kilat dan asal jadi.

Ini terbukti adanya shooting kejar tayang. Untuk memenuhi tuntutan itu, penulis skenario pun dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok satu menulis episode 1-10 misalnya, dan seterusnya. belum lagi kalau ada aktor/aktris yang harus diganti, skenario pun harus diubah.

Runyam. Dan kelak kita tahu hasil dari generasi yang dididik oleh sinetron tv. Seperti apa, kita lihat saja hasilnya.

1 Comments:

Anonymous Agungk said...

Wah..entrynya sudah jadul, tapi berhubung mengena banget dengan concern saya, saya comment ya..

Pada dasarnya menurut saya, ada tiga kelompok sinetron bodoh di TV Indonesia berdasarkan kronologinya.
1. Yang paling parah, dan juga paling banyak, adalah yang bodoh dari sononya, alias mulai dari konsep sudah cemeng, kemudian direalisasi dengan skenario tolol dan disutradarai dengan asal-asalan, serta dibunbui dengan dengan akting yang kaku dan fulgar dalam visualisasi emosi. Semua sinetron abg, sinetron dengan bintang-bintang berwajah indo masuk dalam golongan ini.
2. Sinetron yang memiliki thema awal cukup menjanjikan, namun tidak ditunjang oleh kemampuan kreative personel produksi maupun aktornya serta keterbatasan sarana dan kemampuan teknis, membuat sinetron golongan ini kadang menjadi gado-gado. Maunya action, eh jadi comedi, dan sebaliknya. Sinetron yang mengangkat tema pseudo-history dan folk-mythology (bukan yang model azab kubur) menurut saya juga bisa digolongkan dalam kelompok ini.
3. Sinetron yang pada awalnya memiliki tema maupun eksekusi yang cukup ciamik, tapi kemudia loyo, kehilangan dinamika. Cerita jadi berulang itu-itu saja. Atau bahkan melebar ke domain-domain yang gak relevan. Bajay Bajuri menurutku termasuk dalam kelompok ini.

Kalau dibilang tidak ada pembanding, saya kira kurang tepat. Pelopor sinetron di TVRI sudah beberapa strata lebih tinggi dalam cerita dan akting, meskipun minim modal dan fasilitas teknis. Anda tentu masih ingat Losmen? Di situ manusia cukup manusiawi, bukannya tokoh kartun yang didempul dengan bedak tebal serta jas mentereng yang kaku.

Satu hal yang paling mengesalkan saya adalah aktor perempuan muda yang sok cantik (emang sih semua cantik), sok manja, gaya bicara sok imut seperti bayi padahal mereka sudah duduk di bangku smu. Coba bandingkan film-televisi dari negara lain. Mana ada orang sok-manja seperti itu?

Tolong takasih tau kalau punya kenalan aktor perempuan: itu menjijikkan tau! Kalau ada yang begitu rasanya saya mau ludahi tuh wajahnya.

9:58 AM  

Post a Comment

<< Home