fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, February 03, 2005

akhir bulan ini

Hari ini mulai bulan baru lagi. Hari yang selalu ditunggu-tunggu. Dan ho ho ho ternyata transferan sudah masuk. Lumayan. Kok cuma lumayan? Bukankah dengan uang itu bisa cukup untuk hidup satu bulan? Bisa jadi cukup, bisa jadi tidak.Bisa aja karena keinginan yang tak berbatas, bisa juga karena uang yang ditransfer cukup kecil.

Mari kita berhitung. Sebagai orang urban, tak ada yang gratis di jakarta. Semua harga-harga mahal, kecuali harga diri. Kebutuhan minimal yang diperlukan adalah tempat kost. Setelah itu, berturut-turut transport, makan, sekali-sekali menyenangkan diri: nonton, belu buku, beli bokep, hanging out atau sekedar ngobrol. Beruntung masih ada saldo di buku tabungan.

Tak ada anggaran untuk hal-hal yang tak terduga, sakit atau keperluan lain. Apalagi anggaran untuk di transfer ke rekening-rekening sosial macam dompet duafa, pundi amal, peduli kasih dan lainnya. Juga tak ada untuk nyawer pengamen, peminta-minta atau pun kotak-kotak amal masjid di hari jumat.

Jadi impas deh. Tak ada sisa. Kadang-kadang malah kurang. Wah kemana harus mencari tambahan? Side Job? Selama ini semua tenaga, ide tercurah hanya kepada pekerjaan satu ini saja. Tak ada waktu cukup untuk kerja diluar. Kalaupun ada harus bisa pintar-pintar menyusun target.

Apakah ada cara instant untuk mendapatkan uang tambahan? Syukur syukur uang tambahannya lebih banyak dari penerimaan rutin bulanan.

Apakah harus menghalalkan segal cara untuk menutup keinginan yang selalu haus? Ada tiga jawaban dari teman-teman yang aku tanya pakai ym: tergantung, kenapa tidak, dan ada yang menolak. Jawaban-jawaban itu saya kira hanya jawaban verbal aja. Tak taulah apa kata di dalam hati sebenarnya.

Bukanmaksud saya berprasangka. Coba tengok di sekitar kita. Sudah banyak cerita, orang yang pendiam, tampak manis, tapi ternyata ULAR. Tak segan ngakalin teman sendiri dengan segala cara. Kalau sampai intriknya terbuka, akan ditaruh dimana itu muka? Mending bunuh diri aja. Andai aja itu terjadi di Jepang sana.

Tapi apa mau dikata, mungkin teman-temannya lah yang berlapang dada, penuh permakluman. Cukup mencukein dan tak sampai menggamparnya. Kalau sindiran kata-kata sudah tak terasa, apalagi yang tersisa dari dia?

Tak semestinya uang memenjarakan kita. Tapi apa daya, keinginan itu selalu ada ada dan ada lagi. Dan memang tak akan ada batas untuk ini, kecuali kita bisa mengukur sendiri. Sebenarnya setiap kita melangkah selangkah, ini berarti kita sudah dekat selangkah ke perut bumi. Tapi jarang yang menyadari.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home