fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, February 07, 2005

kontras

Hari ini, 7 pebruari jam 14.00 wib aku mencoba telepon ke salah satu teman. Dia tidak ada di tempat, sudah pulang kata operator diujung sana. Rupanya senin ini jam kantor berlaku setengah hari. Dia pulang untuk menyambut tahun baru Imlek. Aku lupa kalau dia beragama budha.

Ternyata aku tak memperhatikan sekeliling akhir-akhir ini. Di kantor-kantor, semarak warna merah angpau. Di mall ada parade, sale, lampion-lampion, jeruk emas (jin ju) dan pernak pernik hiasan lainnya. Ucapan selamat "Gong xi Fat choi" marak di koran, majalah dan melintang di jalan utama. Tak hanya itu, rupanya momen tahun baru china juga menjadi ajang promosi diskon beragam produk. Mulai dari makanan sampai IT.

Perayaan Imlek tanggal 9 feb, masih 3 hari lagi. Nuansanya sangat terasa sampai di kios-kios pasar mayestik. Di pasar tradisional itu hampir semua pedagang menjual kue keranjang. Kue khas yang muncul setahun sekali. Penjualnya pun kebanyakan bukan orang keturunan Tionghoa.

Sehari berikutnya, tanggal 10 feb adalah tahun baru Islam. Tahun baru untuk hampir 80% penduduk negeri ini. Namun semua tampak biasa-saja. Sangat bertolak belakang dengan sambutan untuk hari raya Budha yang pemeluknya mungkin kurang dari 1% dari penduduk negeri ini.

Kenapa oang-orang Islam menyambut dingin tahun barunya? Apakah islam melarang untuk bersuka cita? Atau karena belum ada kebiasaan untuk itu? Kalau iya, kenapa tidak dibiasakan, dan siapa yang harus membiasaakan? Dan apakah itu perlu?

Selama ini, yang tampak orang islam menyambut hari rayanya di masjid dan mendengar ceramah. Tak ada kegiatan lain yang berbeda. Dan mungkin kebanyakan muslim merasa sangat bosan. Kalau hanya mendengar ceramah, apa bedanya dengan dengerin kaset di kamar, kata temanku. Dia merasa tak tergerak untuk datang ke masjid.

Dia mempunyai rencana sendiri untuk menyambut tahun baru Islam. Karena tahun baru tahun ini bertepatan dengan hari raya imlek, maka dia mendekorasi rumahnya dengan pernak-pernik dari janur. Lampion-lampion dan ketupat digantung diatas pintu. Sementara untuk makan malamnya dia membuat tumpeng berbentuk babi.

Tak ada kiai atau dai yang diundang. Hanya teman-teman dekatnya saja yang akan diundang. Acaranya hanya sebatas ngobrol. Pada akhir acara dibacakan doa: ingin menjadi orang Islam total, yang tak menilai seseorang berdasarkan atribut dan simbol-saimbol yang dipakainya.

Di depan pinggir pintu, dia membagi-bagikan angpau warna putih untuk anak-anak yatim yang diundangya. Selamat hari raya Imlek, selamat tahun baru Islam. Aku akan pulang setengah hari hari ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home