fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, March 07, 2005

jeda

Sebulan absen "ngeblog", dua minggu tak sholat, ternyata makin membuat aku hidup "liar". Semula saya beralasan, untuk apa sholat terus, tapi tak membuat saya menjadi orang yang lebih baik? Dan alasan kenapa saya berhenti ngeblog, saya merasa bosan, tak berkembang, dan masih seperti dulu dulu ketika saya tak pernah berlatih menulis. Saya masih gagap melukiskan suasana, membuat karakter yang kuat dan susah mencari tema yang menarik. Menurutku, ngeblog hanyalah sekedar keisengan belaka. Latihan menulis ternyata belum pernah saya mulai.

Aku mencoba membaca ulang novel, cerpen yang pernah aku beli dan juga karya-kaya sastra baru rekomendasi teman. Sebelumnya aku hanya menikmati isi jalan cerita, sekarang aku mulai memperhatikan alur, tema dan bahasa yang digunakan. Dan semua masukan-masukan itu membuat saya merasa terlalu kerdil untuk membuat sebuah cerita yang dahyat. Semua ide-ide yang kuanggap menarik, ternyata basi belaka. Kesulitan mencari sudut pandang dari mana aku akan melihat sebuah cerita juga membuat saya ciut memulai menulis .

Cerita-cerita yang aku baca, temanya sederhana. Kehidupan sehari-hari, namun tulisan itu seolah sanggup menampar muka. Pembaca merasa dikampak, menurut istlah Kafka. Seolah diingatkan, sesuatu sedang berlangsung disekitar kita. Dan selama itu pula aku tak pernah memperhatikannya. Semua dianggap biasa, tapi kalau aku jeli, aku pasti bisa membuat cerita sederhana yang sanggup menggores perasaan seseorang.

Tak perlu muluk-muluk memang, cerita yang berhasil adalah cerita yang sanggup membuat perasaan seseorang jadi tidak biasa, kata garin. Tak perlu sebuah cerita membuat semua orang bahagia, sedih atau muak. Hanya diperlukan satu orang yang bisa mengerti sebuah cerita, tambahnya. Bagaimana kalau yang mengerti cerita saya hanya seorang pacar saya?

Tapi saya tak kan pernah angkat tangan, cerita yang dahsat tak muncul dari sebuah pengalaman yang sekejap. Banyak penulis-penulis baru berhasil menyeselesaikan sebuah cerita dalam hitungan tahun. AS Laksana, menyelesaikan cerpen "Menggambar Ayah" dalam rentang waktu tujuh tahun, kalau idenya sih sejak dari SMA, katanya. Seperti yang pernah dituturkan pada koran tempo. Tapi setelah terbiasa, dia sanggup menyelesaikan tulisan "telepon dari ibu" hanya dalam satu malam.

Banyak juga novelis atau cerpenis yang bisa menyelesaikan karyanya dalam waktu singkat, Jenar Mahesa ayu, biasa menulis sebuah cerpen dalam 6 jam. Dan Melly Goeslow tiap hari bisa menulis satu cerita. Dahsyat, lepas dari bagus tidaknya hasil karya tersebut, mereka adalah cerpenis hebat. Ide-Idenya mengalir terus tanpa henti. Dari mana dia mengail ide-ide tersebut? Benarkah sebuah cerita benar-benar fiksi, kayalan belaka? Tidak, fiksi berangkat dari sebuah peristiwa yang memicu lahirnya sebuah karya sastra, kata temenku.

Aku harus bisa menulis. Dan tulisan saya harus bisa "mengkampak muka" orang yang membacanya. Dan itu perlu pengalaman real yang bisa memicu ide-ide untuk mengembangkan tulisan menjadi minimal enak dibaca dan tak basi. Sejak itu mungkin aku akan bilang bahwa menulis itu mudah. Dan ide ada disekitar kita, tinggal kita merangkaikannya.

Satu yang aku masih belum mengerti, bagaimana mengasah kepekaan?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home