fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, March 28, 2005

'panis angellicus'


Dua tahun selama melarikan diri, umurku begitu cepat bertambah tua. Sebagai buronan aku berjalan dari satu lokasi asing dan terus menyusuri jalan yang tak berujung. Selalu aku mengubah nama dan penampilan di setiap tempat yang aku singgahi. Kadang aku dianggap orang yang kurang waras, ketika dipanggil, aku lupa mengingat nama-nama baruku.

Aku ingin keluar dari sesaknya udara yang kuhirup diruang sempit itu, dan merasakan kebebasan sebelumnya, berpetualang ke tempat terpencil yang masih belum dikunjungi banyak orang. Kenyataanya, yang aku rasakan sekarang ini berbeda. Hidup di luar penjara tak membuat aku merasa bebas. Aku merasa makin dikejar-kejar bayanganku sendiri, kelebatan polisi selalu membuat jantungku nyaris berhenti. Juga layar-layar tv berubah menjadi hantu yang terus aku hindari. Aku menjadi orang asing untuk semua orang.

Lonceng gereja terdengar pagi berembun itu. Orang-orang berjalan berkelompok-kelompok menuju ke satu titik. Aku mendekat. Tapi aku tidak berani untuk memasuki gereja. Aku duduk menumpang di bangku seorang tukang rokok. Aku mencoba mendengarkan kotbah pendeta. Tak begitu jelas benar, tapi aku samar-samar mendengar kotbah pendeta itu tentang Jesus yang mengorbankan diriNya dengan rela demi keselamatan manusia. Aku merasa berada ditengah oase padang pasir gurun. Tidak tahu kenapa, aku semakin ingin mendengarkan lebih dekat.

Pagi itu gerimis, menambah suasana hening dan dingin. Matahari bersembuyni dibalik awan putih. Aku berusaha merapatkan jaket yang sudah sekian lama tak pernah kucuci. Apak dan tak terdefinisikan baunya. Aku melihat iring-iringan para suster berjilbab seragam memasuki gereja. Tampak kompak saling mendukung dan taat, seperti bangau terbang membentuk V. Mereka mengikuti Ajaran Jesus. Kemudian aku teringat mother Theresa yang membaktikan dirinya untuk orang-orang miskin di Kalkuta tanpa membedakan agama. "Semua adalah anak-anak Tuhan apapun agama mereka, begitu kata dia.

Mother Theresa bisa melihat wajah Tuhan pada orang-orang papa. Begitu kuatnya panggilan jiwanya untuk melayani orang-orang papa, mother Theresia keluar dari tembok biara. Sendirian berjalan menyapa kampung-kampung kumuh. Dan Bersama dengan penghuni, orang-orang yang tinggal dekat pembuangan sampah, dari situlah dia memulai sebuah pekerjaan Tuhan. Bagaimana dia merencanakan itu semua? "Tak ada rencana, semua Tuhan yang merencanakan".

Orang-orang satu persatu keluar dari gereja. Misa pagi itu berakhir ketika hujan telah reda. Orang-orang dengan teratur keluar. Ditangannya tampak buku tebal dan rosario. Lagu Panis Angellicus masih terdengar pelan. Aku semakin mendekatkan kuping kearah sumber suara pujian itu. Lagu itu terasa begitu teduh, agung dan mendamaikan.

Aku ragu melangkah memasuki pintu gereja. Deretan kursi-kursi yang berjajar rapi tapi telah kosong. Dua lilin di samping kiri dan kanan patung Jesus baru dinyalakan. Patung Jesus tampak menonjol diantara rangkaian bunga-bunga yang berwarna warni yang didesain rapi. Oh.. ternyata hari ini Paskah. Entah tahun ini sudah paskah yang keberapa kali saya tak ikut misa.

"Pak pendeta, apakah masih ada kesempatan untuk saya?. Tiba-tiba muncul keberanian bertanya kepada pendeta yang masih berada di dalam. "Tuhan selalu terbuka untuk semua anak-anaknya. Berbuat baik mesti dimulai dari diri sendiri, jawab dia. Dia memakai kalung salib dan baju kebesaran Paskah.

Pulanglah, bersihkan dirimu.

"Saya sudah lama tidak ke rumah. Aku akan balik lagi ke penjara.

"Puji Tuhan, kamu datang pada moment yang tepat. Paskah yang selalu memberikan rahmat. Semoga Tuhan memberkati.

Aku bergegas melangkah keluar. Sepanjang mata memandang, semuanya tampak memutih, Ah aku berjalan diatas awan. Awan-awan tempat malaikat-malaikat bermain-main dan menunggu perintah. Aku ingin menuju ke awan-awan putih, berteman dan bermain-main dengan malaikat malaikat yang taat. Aku ingin menanyakan bagaimana menghilangkan seluruh kemalasanku. Boleh tidak, meminta sedikit kebaikan yang dimilikinya khusus untukku?. Belum sempat menjawab pertanyaankum awan-awan itu lenyap ketika aku sampai berada persis di depan pintu penjara. (bersambung)

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Oke banget bung... Keeps writing and stand upright.. :)

5:32 PM  

Post a Comment

<< Home