fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, March 24, 2005

pelangi di putihnya langit


Lembutnya sapuan ac ruangan, sengaknya celetukan, hirukpikuknya perdebatan, mengajarkan sebuah kebijakan. Ada banyak manfaat muncul dari kejadian itu. Pagi ini, dia menulis email karena ketidakpuasan akan reward yang diterima.

Kurang bisanya mengendapkan, menyerap masalah yang mendera, berakhir dengan sebuah tragedi dahsyat yang tak boleh terulang: Dicap sebagai pengkhianat. Pengecut, menusuk teman dari belakang dan yang lebih parah: menganut strategi perang Sun Tzu; seolah-olah berteman, tapi membunuh musuh dengan cara mematikan dan tak diketahui lawan.

Awal mula masalah, sudah 3 minggu dia tidak libur. Hari minggu masuk, hari kerja harus menunggu pekerjaan sampai pukul 00. Dia khilaf. Merasa tertindas karena memang tak ada pembicaraan khusus untuk tugas-tugas seperti ini sebelumnya, tanpa berpikir lebih mendalam, dia langsung mengirimkan email tuntutan tersebut. Mempertanyakan reward yang dikira haknya. Karena dia mempunyai pimpiman, maka diserahkan masalah tersebut ke pemimpinnya.

Pemimpin yang beranggungjawab. Pemimpin tersebut menampung dan mencoba memuluskan usulan dia. Tapi ada kesalahan yang tak pernah dia duga sebelumnya. Dia tak pernah mengatakan, selama ini telah mendapatkan reward. Hanya saja dia tidak tahu, orang lain tak pernah mendapatkan reward. Dia merasa, reward yang diterima, masih kurang. Faktanya, dia diberi reward paling "besar". Ironis. Maklum dia juga tidak mengerti dan tak ingin ngerti seberapa besar reward yang diterima lainnya.

Tapi kenapa mereka yang kurang mendapatkan reward selayaknya diam saja? Mungkin mereka-mereka belum tahu, teriak-teriak aja belum tentu diperhatikan, apalagi diam saja? Ah, ini hanya analisa dia pribadi saja. Mungkin karena dia sedang tidak stabil moodnya. Atau bisa jadi mereka mereka memang orang yang begitu baiknya.

Sang pemimpin merasa dibohongi. Dia tidak terbuka mengenai reward ini. Dan hal ini membuat pemimpin tersebut marah, mendiamkan dan mengucilkannya. Dia bingung, email yang dikirimkan, berakibat adanya bentrokan-bentrokan. Pemimpin dengan atasan pemimpin, dia dengan teman-temannya. Kini teman-temannya cuek, tak menggubris dan mengabaikan.

Dia merasa sendirian di kantor, basa-basi mengental disetiap pembicaraan. Kesalahpahaman memang selalu mengakibatkan kemandegan. Perbincangan tak lebih hanya sampai pada sebatas hal pekerjaan. Udara kebencian, pengkarakteran jahat mengkristal menggatikan imagenya selama ini yang dianggapnya cukup baik(?).

Hari itu dia menyelesaikan pekerjaan yang semua hasilnya mengecewakan. Dia merasa seperti sedang menunggu kelahiran yang mengkhawatirkan. Waktu terasa panjang, melelahkan dan tak ada kepastian.

Dia tidak bermaksud tidak terbuka. Dan kesalahan ini tak hanya dia sendiri yang melakukan. Ketidakterbukaan itu ternyata juga dilakukan orang lain juga, Orang yang seharusnya menciptakan keterbukaan. Email dia tersebut membuat orang-orang mengerti, orang tersebut selayakya diganti. Email itu secara tak langsung membuka borok-borok orang yang selama ini sembunyi dibalik jabatan dan kekuasaanya. Untung orang tersebut itu kini sudah diturunkan.

Dia minta maaf juga kepada pemimpin dan teman-temannya. Rupanya teman-temanya menyadari, dia memang tak bermaksud jahat, menusuk teman sendiri, dari belakang. Dia menatap langit-langit kantor, lampu terang benderang. Dia melirik keluar kaca, ada pelangi di putihnya langit.

Kemudian dia duduk sendirian, matanya mengikuti arah asap yang baru saja dikeluarkan dari batang tenggorokannya. Dia menerawang. Ketidakpuasan, keserakahan, uang, muara dari segala urusan? Puncak semua kegiatan keseharian? Akhir dari sebuah perburuan? Sambil browsing, dia menemukan sebuah statemen, uang memang penting tapi bukan tujuan utama. Dia masih mencari jawabnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home