fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, March 31, 2005

pulau Tuhan

Jam di kamarku menunjukkan pukul 23:20. Aku mulai bersiap merebahkan badan, ada teve yang selalu "menyala". Dengan begitu aku meraasa mempunyai teman. Ketika mata nyaris merem, metrotv menyiarkan breaking news gempa dahsyat di Nias. Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada orang-orang tulus itu?. Akankah kau timpakan juga kepada aku yang disini?

Hiruk pikuk perbincangan cetak biru baru saja diserahkan ke kepala daerah Aceh untuk disosialisasikan. Belum seratus hari sejak tsunami Aceh, bencana itu datang lagi. Dan lebih dahsyat. Namun tidak seperti sebelumnya, aku tak merasa tergugah untuk segera memberikan bantuan apapun. Doa sekalipun tidak.

Ada perasaan simpati yang hilang dari diriku. Aku tidak tau kenapa tapi aku menyadarinya. Mungkin dengan seringnya bencana, hingga tak lagi memberikan kesan apa-apa. Orang-orang juga tak segera membuat posko, membuka rekening bantuan atau mengumpulkan makanan siap santap dan obat-obatan.

Atau mungkin energi dan dana orang-orang itu sudah habis seluruhnya untuk tsunami Aceh? Entahlah.

Di kantor, orang-orang masih tetap bekerja seperti biasa. Geempa nias tak cukup menarik untuk dijadikan topik pembicaraan. Koran-koran pagi membeberkan banyak warga yang kehilangan keluarga dan rumah. Jaringan komunikasi hancur. Jalan terbelah, jembatan putus tak bisa dilalui. Nias menjadi kota mati.

Televisi menyiarkan jumlah mayat yang selalu bertambah. Orang-orang asing dari luar negeri lebih sibuk. Pasukan Australia yang belum sampai ke negerinya dari Aceh, langsung mengirimkan kembali rumah sakit terapungnya ke Nias. Juga Singapura bergegas memberikan bantuan. Tapi Malaysia tidak.

Gempa dengans skala 8, 7 skala richter melumat pulau dan penghuninya. Saat itu orang-orang lelap. Anak-anak berada dalam dekapan ibunya, berlindung dari dinginnya malam. Malam pekat tanpa bintang, air laut juga tak menunjukkan gejala pasang.

Sebenarnya dari Badan Meteorologi sempat memprediski gempa itu akan terjadi. Entah mereka abai atau memang informasi itu tak sampai atau tak disampaikan. Paginya mayat-mayat bergelimpangan diantara reruntuhan. Dan sampai saat ini gempa sekali-sekali masih terjadi di setiap dua/tiga jam. Dan terus berlangsung sampai enam bulan ke depan.

Aku akhirnya menduga-duga, apakah mungkin hanya karena Nias mayoritas warganya nasrani, aku dan orang-orang menjadi sedemikian tak mempunyai empati? Aku berharap dugaanku keliru belaka. Aku lalu membuka website niasisland.com, aku menemukan artikel/komentar yang kental dengan nuansa kristen. Misalnya seruan dari Kris Suramaha: "NIAS ADALAH PULAU TUHAN YANG TERLANTAR, BANGKITLAH!!!. Juga disebutkan, Nias adalah pulau indah yang ditelantarkan. Sayang sekali aku tidak mempunyai teman satupun dari pulai kecil disebelah barat Sumatera itu.

Apakah Tuhan mengajarkan kita berbuat kebaikan hanya hanya untuk orang-orang sekelompok, se ras, sekeyakinan? Atau Tuhan itu banyak? Apakah Tuhanku dan Tuhan mereka berbeda?. Betapa miskinnya keyakinan-keyakinan itu. Aku tiba-tiba ingin seperti Pi (Life of Pi, Yann Martel) yang mempunyai banyak agama. Pi yang berkeyakinan, semua agama berasal dari Tuhan. Dan Tuhan itu baik.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home