fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, April 21, 2005

bencana

Sabtu, 9 April 2005, orang-orang terhenyak. Bertanya-tanya benarkah dia yang politisi, pendidik, aktifis ham itu melakukan korupsi? Aku tak habis pikir, ingin tidak percaya. Tapi semua media mewartakannya. Kalau benar, tak ada yang tersisa lagi dinegeri ini. Bencana manusia ini telah merasuk yaris di seluruh rongga otak kanan orang-orang disekitar kita.



Terdengar dari luar ada seseorang yang mengetuk pintu. Aku keluar, ada pak rt menyodorkan proposal perbaikan jalan. Aku tidak bisa memahami angka-angka yang tertera. Begitu besar bajet yang diperlukan jika dibandingkan dengan biaya sebenarnya. Segera kusodorkan sejumlah uang, karena aku harus mampir ke kelurahan mengurus surat untuk menikah.

Sayang sekali, tempat resepsi yang aku booking di masjid untuk hari minggu akan dipakai pengajian. Padahal itu adalah pilihan terbaik yang telah disepakati dua kelurgaku. Bagaimana caranya membatalkan acara pengajian? Aku hubungi panitia masjid. Dan aku ngotot ingin mengadakan resepsi disini, panitia masjid memberikan syarart: aku harus membayar dua kali lipat dari harga tarif biasa.

Jalanan macet, apalagi di perempatan atau pertigaan lampu merah. Aku harus merogoh uang 500 an atau seribuan untuk setiap pak ogah yang menambah keruwetan jalan. Ini pertama kalinya aku datang ke kelurahan. Selama ini aku hanya minta tolong ke orang yang biasa mengurus. Mengurus sendiri surat-surat itu ternyata lama. Kata petugasnya sih bisa ditunggu sebenarnya, asal kita bisa cingcai. Oh Aku tahu akhirnya, apa maksud. Aku hanya mengangguk, setuju. Mudah dan cepat. Lalu aku meninggalkan kator kelurahan.

Seharusnya aku tidak boleh belok kiri di depan mall itu, karena ingin cepat sampai kantor, sengaja kulanggar tanda lalu lintas yang tidak membolehkan belok kanan itu. Habis kebetulan jalanan sepi. Sampai kulihat di spion aku dibuntuti polisi. Aku disuruh minggir. Pak polisi menjelaskan pasal-pasal yang kulanggar, dia menyebutkan denda sekian ribu rupiah. Aku langsung masukkan uang ke kantongnya. Pak polisi hanya berkata, "ini bukan saya ya yang meminta ya". Aku pergi sambil melambaikan tangan.

Sampai di kantor, absen sudah merah terus. Tak terlalu diperhatikan memang, dan karyawan-karyawan yang lain juga melakukan hal yang sama. Aku merasa, melakukan kesalahan kalau bareng-bareng terasa ringan juga. Dan aku sering mengulangi dan merasa tak berdosa sama sekali.

Segera aku laksanakan tugasku hari ini untuk menghubungi vendor-vendor komputer yang telah mengirimkan penawarannya. Diantara vendor itu, ada tiga vendor yang kupertimbangkan untuk kujadikan partner. Setelah aku yakinkan mereka, aku dapat komisi dari penjulanannya, kuputuskan memilih vendor yang memberikan komisi terbesar. Kadang berat menolak segalanya yang berhubungan dengan uang.

Hmm.. bencana manusia terus berlangsung tanpa akhir. Dan aku menjadi bagian dari para pembuat bencan itu, menjadikan alam akan tak lagi layak dihuni. Kalau sudah begini aku tak tahu harus kemana menghindari?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home