fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, April 08, 2005

daun daun

Waktu makan siang nyaris lewat, dia belum beranjak juga dari tempat duduknya. Kedua tangannya memijit-mijit samping kanan dan kiri bagian kepalanya. Matanya terpejam kebawah. Teman-temannya menghambur keluar untuk berebut antrian di kantin sejak sejam lalu. Mereka takut kejadian kemarin terulang, kantin kehabisan makanan. Mereka tak mau harus berjalan ke seberang untuk bisa memenuhi perut mereka. Dia berada di tengah-tengah ruangan yang dilingkari meja-meja yang tak berpenghuni.

Diantara tumpukan buku, kalender meja dan tempelan catatan-cacatan di dinding dia menyapukan pandangan. Satu-satu note note dibaca ulang, mengambil yang sudah expired dan meremasnya lalu dilemparkan ke kotak sampah plastik yang berada di samping meja. Oh sudah begitu banyak sampah sampai nyaris tak muat. Dan alat penghancur kertas-kertas itu rusak, mandeg tak berfungsi. Seperti tulisan dia yang belum selesai di layar monitor.

Ide-ide mandeg. Lalu dia browsing di internet mencari bahan agar lebih cepat menyelesaikan tulisannya. Cara ini tak sepenuhnya berhasil. Ada ketakutan-ketakutan yang dia tak tahu persisnya ketika dia menuliskan kalimat-kalimat. Ketidakpercayadiriannya begitu besar. Ruangan yang berac ini semakin dingin ketika dia sendirian. Dingginnya membuat otaknya lebih beku.

Dia lalu membaca-baca ulang tips-tips yang pernah dibacanya. Ada kutipan menarik disana, "menulis itu adalah wilayah pribadi yang tak perlu melibatkan orang lain. Sama ketika kita akan membeli baju atau parfum, tak perlu meminta pendapat orang lain". Tips itu yang menjadi pemicu idenya muncul. Dia terus menulis, tapi tetap saja dia merasa kalimat-kalimatnya tak pas, tak bernas dan boros kata-kata.

Membuka-buka buku lain yang diperoleh dari temannya, mungkin ide yang lebih baik. Dalam buku tebal itu dia membaca, "Menulis itu perlu keberanian mengungkapkan, apapun itu. Selain itu perlu keseriusan yang benar. Menjadikan menulis sebagai pekerjaan dan tanggungjawab. Sehinggap apapun dan bagaimanapun keadaannya, kita harusnya tetaplah menulis. Untuk mendapatkan ide-ide dirangsang dengan mulai menulis dan seabreg tips-tips lain."

Dia lalu paham, betapa dia selama ini sangat terbebani ketika jari-jarinya menyentuh keyboard. Dia akan menyimpulkan, pembaca blognya akan mencemooh, memaki dan mencampakkan. Dia mempunyai kesan tulisanya datar dan "tak ada apa-apanya". Kesan dan kesimpulan yang diatanamkan sendiri kedalam otaknya itu tak lama berakhir. Dia menulis apa yang ingin dituliskan. Dan dia menulis bukan untuk orang-orang, tapi untuk dirinya sendiri. Kini dia menulis lebih lancar. Ide-idenya ngocor bagaikan hidung yang lagi kena flu.

Teman-temannya yang makan siang tadi sudah kembali. Ruangan menjadi riuh celutukan, ejekan dan uangkapan-ungkapan yang memberikan inspirasi.

Tulisannya nyaris selesai, tinggal paragraf terakhir untuk kesimpulan. Dan dia berangkat makan siang, berjalan keluar sendirian. Memesan makanan lalu duduk di bangku di bawah pohon trembesi (samanea saman). Daun-daun kuning trembesi jatuh sendiri-sendiri ketika angin berhembus. Daun-daun kering itu mengabarkan, ada saatnya dirinya sangat dibutuhkan ketika masih berwarna hijau untuk menyerap karbondioskida. Saat berikutnya dia akan bermanfaat menjadi pupuk yang menyuburkan sayuran. Seperti menu makan siangnya: wortel, sawi, kebang kol dan brokoli yang direbus, ditambahkan baso dan dibumbui.

"Daun, kamu merasa terbuang?", pancing dia.

"Terbuang untuk sesuatu yang baru, apa salahnya? Apalagi sesuatu itu berarti lebih besar dari sebelumnya."

"Jadi kamu jatuh dari dahan dengan rela?

"Rela atau tidak tak ada relevansinya disini. Ada proses disana. Ada angin, matahari yang turut membantu kejatuhan saya."

Percakapan keduanya makin akrab. Topik lalu beralih ke hal yang lebih pribadi.

"Daun-daun yang lain kau ajak untuk jatuh bersama-sama?"

Bedakan kebersamaan dan keinginan sendiri. Memang daun-daun itu tampak jatuh bersamaan, tapi tak ada keniatan akan bersama-sama. Semua mempunyai karakter dan pribadi unik. Dia menjatuhkan dirinya karena ingin jatuh, bukan karena daun-daun yang lain telah berserakan membusuk di tanah.

Percakapan terhenti ketika tukang capcay mengambil piring untuk dibawa pulang. Dia lalu membayar rp 5000, lalu beranjak pergi. pedagang-pedagang lain sudah pergi tanpa dia melihatnya.

1 Comments:

Blogger kucingku said...

tulisannya bikin aku bisa bayangin yang sedang terjadi :) diskripsi yang hidup. bravo!

setuju! kita nulis sebaiknya untuk diri sendiri biar lancaaarrrrrrrrrr n terasa ringan. orang lain membaca, anggap saja berkah heeehheh....

11:40 AM  

Post a Comment

<< Home