fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, April 13, 2005

melayani semua


"Apa cita-cita mak dulu waktu kecil? tanya Alit kepada emaknya yang berada diantara tumpukan cucian. Emak ingin kau pintar Alit, punya pekerjaan bagus dan tidak menderita seperti emak. Ketika besar Alit kembali mempertanyakan apa sebenarnya cita-cita hidupnya. Apakah hidup itu hanya sekedar lahir, sekolah, bekerja, menikah, lalu mati? Kalau iya, betapa hidup itu begitu egois.

Lalu aku mendatangi meja sebelah, bertanya kepada Arif, dan teman kerjanya itu hanya menjawab pendek. "Ya, mungkin hidup itu memang seperti itu, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menjalaninya dengan benar." Dia juga tak yakin dengan jawabannya sendiri.

Aku terus mencoba mencari. Dan siang ini aku bertemu dengan Dauzan Farook (79), kakek pensiunan tni yang kini menyerahkan seluruh hidupnya untuk orang-orang yang mempunyai minat besar kepada buku. Dengan uang pensiunannya yang 500 ribu, mBahDauzan tiap bulan menambah koleksi perpustakaannya yang berada di Kauman Jogja.

Jangan pernah membayangkan Dauzan hanya duduk menunggu perpustakaanya dikunjungi, tapi Dauzan setiap hari berkeliling memberikan penyuluhan pentingnya membaca buku dan meminjamkan kepada orang-orang di kampung seluruh Jogja. Niat baiknya tak selalu mendapat sambutan simpatik. Pernah Dauzan menawarkan buku-bukunya kepada seorang pemuda. Dengan sinis pemuda itu menjawab, buku tak membuatnya kenyang, kalau duit baru mau, bisa dipakai untuk menambah modal. Mendapat sambutan seperti itu Dauzan hanya bisa menjawab, Daoakan aku nak supaya saya bisa meminjamkan uang untuk modal kamu.

Usahanya berhasil membuat anak-anak, remaja, dan dewasa mengunjungi perpustakaanya yang memerlukan biaya perawatan 1 juta tiap bulannya. Sebagai purnawirawan, nombok sebesar itu tiap bulan tentu berat. Namun semua abai. Pemerintah tak pernah memberikan sumbangan. Sabar, sabar begitu jawaban pejabat ketika ketemu di jalan sambil melambaikan tangan. Menghadapi kesulitan itu dia hanya berkata pelan, ya mungkin nanti saya bisa minta ke anak saya, atau nanti gampanglah.

Ada juga mbok narti, pembantu rumah tangga sebelah yang menyerahkan seluruh gaji tiap bulannya ke panti asuhan. Saya sudah cukup bisa makan dan berlindung di rumah ini, begitu alasan yang disampaikan ketika orang-orang bingung mempertanyakan sikapnya. "Perasaan saya menjadi lebih tenteram, tambahnya.

Aku jadi mempunyai kesan, selama ini aku menjalani hidup secara basi, usang dan tak kreatif. Aku menjalani hidup seolah hanya menuruti tahapan dan rutinitas yang entah siapa yang menciptakannya dulu. Maaf aku tak menolak keyakinan yang seperti itu. Aku menghormati keputusan mereka. Tapi aku akan membuat plot hidupku keluar dari patokan-patokan yang kupegang teguh selama ini. Hidup ternyata tak sekedar menjalani rutinitas dan tahapan-tahapan.

Lantas menjalani hidup itu seperti apa?

"Aku mungkin tidak bisa menjawab dengan tepat. Yang jelas aku ingin hidup yang membebaskan. Tidak terikat dengan persepsi-persepsi yang mungkin menyimpang untuk orang-orang seperti Dauzan Farook dan mbok Narti. Sanggup menyediakan banyak cinta untuk banyak orang.

Alit kembali bertanya, tapi kepada dirinya sendiri. Sudah sejauh mana aku bisa seperti Dauzan dan mbok Narti? Hmm.. Alit baru saja menemukan jawabannya, belum memulai. Entah kapan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home