fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, April 25, 2005

pi

Segala sesuatu itu akan terbiasa, termasuk membunuh.

Piscine Molitor Patel, nama lengkapnya. Sebelum hijrah ke Canada, dia seorang religius ketat. Penganut 3 agama sekaligus, Islam, Katolik dan Hindu. Semua agama baik, begitu dia memberikan alasan. Remaja 16 tahun yang berada dalam proses pencarian.

Lahir dari keluarga pecinta binatang. Ayahnya mempunyai kebun binatang terbesar di India. Masa kecil sampai awal remaja, pi berada ditengah-tengah binatang. Setiap pagi dibangunkan oleh auman singa-singa. Sarapannya disaksikan oleh monyet-monyet dan bermacam burung. Berangkat sekolah diiringi tatapan sayang ibu, berang-berang, bison dan orang utan. Pi sangat mengerti betul kebiasaan dan periku banyak binatang dengan detil.

Pi menolak bila dianggap merampas kebebasan binatang yang berada dikebun binatangnya. Karena kandang-kandang itu sangat disesuaikan dengan habitat aslinya di alam liar. Binatang itu sebenarnya tak ada yang ingin melarikan diri karena ingin pergi kesuatu tempat, tapi karena suatu sebab. (hal 72). Hal yang remeh bisa berakibat fatal. Selang yang lupa digulung membuat burung bangau tak hinggap di tempat biasanya. Begitupun bayangan-bayangan benda, ketinggian suatu tempat sangat menentukan bagi binatang. Ketika merasa teritorinya terancam, binatang akan melarikan diri.

Keseharian indah itu itu berakhir ketika Ayahnya memutuskan pindah ke Kanada. Dan hampir semua binatang miliknya diangkut menggunakan kapal barang Tsimtsum. Tanpa sebab yang jelas kapal itu tenggelam. Yang selamat hanyalah pi dan seekor harimau dewasa.

Kehidupan Pi dan harimau di atas Samudera Pasifik inilah inti cerita buku Life of Pi, buku ketiga yan martel. Buku laris, pemenang The man Booker Prize ini di Jakarta diterbitkasn oleh gramedia. Jika tidak tahan dengan hal yang menjijikkan, mungkin tak perlu membaca buku ini, karena petualangan Pi dalam mempertahankan hidupnya sangat menjinjikkan.

Setelah perbekalan biskuit dan air dalam locker sekoci habis, Pi harus melakukan hal yang tak dibayangkan sebelumnya sebagai seorang vegetarian. Pi mulai mulai terbiasa membunuh ikan dorado (ikan terbang), kepiting dan penyu lalu memakan mentah-mentah. Daging ikan segar ternyata rasanya manis.

Menemukan air tawar tak kalah sulitnya. Hanya tampungan air hujan yang dipakai persediaan minum dirinya dan juga Richard Parker, nama harimau tersebut. Pi tidak kurang akal, dia menemukan air tawar segar pada tulang belakang dorado. Dia lalu menghisap-hisapnya sampai habis. Bosan dengan ikan dorado, Pi membantai penyu-penyu sisik yang kebetulan naik ke dalam sekoci. Menurut buku panduan yang ditemukandi locker, darahnya tidak berbau apa-apa, hangat dan hewani (hal 290).

Suatu ketika semangat dan tubuhnya makin lemah, dan tak ada ikan yang bisa dimakan, Pi hampir menyerah. Lalu dia melihat Richard Parker tergolek juga lemah sambil mengejan dan mengeluarkan kotoran berwarna hitam. Pi lalu memasukkannya ke dalam cangkir dan menambahkan air kedalamnya.

"Kututupi dan kubiarkandulu sementara. Liurku menetes saat menunggu. Ketika sudah tak sabar lagi, kumasukkan kotoran itu dalam mulutku... (lupa hal berapa)"

Mau muntah.... ? Kita akhiri cerita di bagian ini.

Hubungan unik Pi dengan harimau dewasa seberat 225 kg, menarik. Harimau yang pada saat-saat tertentu mengerikan, mengancam jiwa Pi, disaat yang lain memberikan inspirasi untuk tetap hidup. Entah apakah dia bisa bertahan seandainya dia sendirian di tengah samudera. Sayang setelah selamat sampai daratan mexico, perpisahannya dengan Richard Parker hanya begitu saja.

Kira-kira seperti apa ya, perpisahan binatang buas dengan manusia yang telah hidup bersama berbulan-bulan dalam satu sekoci? Tampaknya pembaca dipersilakan berimajinasi sendiri.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home