fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Saturday, April 16, 2005

sungha dan kumal

Menonton film Two brotehrs arahan Jean-Jacques Annaud ini, (sutradara Enemy at the Gates (2001), Seven Years in Tibet (1997), aku merasa selama ini telah menjadi pengkhianat. Setidaknya berkhianat untuk teman-temanku disini. Tapi sumpah itu aku lakukan karena aku tak ingin "jatuh" dihadapan bosku. Habis, bosku sangat suka dijilat sampai licin.

Dan aku bukanlah orang satu-satunya yang melakukan itu. Ada banyak. Ya banyak. Memang tak semua melakukan sepertiku. Setidaknya mereka-mereka itu selalu mengambil posisi, menyiapkan strategi agar tampak baik dimata semua orang, terutama bos. Jadi perlu keahlian sosialisasi tingkat tinggi untuk bisa sampai ke tahap itu, kalau memang menginginkan.

Yah namanya di tempat kerja. Idealnya memang saling kompak dan saling mendukung, toh kita kan sama-sama cari sesuap nasi dan seorang "gebetan". Tapi yang terjadi kadang sebaliknya. Penuh intrik dan taktik untuk mendepak teman-teman yang dianggap mengancam posisinya. Harus mengorbankan seorang yang dirasa gampang diinjak.

Seperti kemarin, si Coolabis, yang cakep, cerdas dan gaul itu, ternyata tak sekeren tampak luarnya. Dalamnya wah, tak terkatakan, ancur banget. Bayangin didepanku dan teman-teman aja dia bilang mendukung kita. Tapi di depan bos sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan sebelumnya. Mencla-mencle, tidak punya pendirian banget. Pintar dia bermain sandiwara.

Ada juga teman lain, waktu itu ada keputusan yang dirasa merugikan karyawan. Dia menulis email ke milis menentang dengan garang kebijakan itu. Untuk sementara teman-teman bertepuk tangan, mengangap dia pahlawan. Tapi jangan salah diam-diam dan nangis-nangis darah, dia mengirimkan email ke bos minta maaf. Perbuatan dia terbongkar. Dia lalai, email yang dia mencetak tertinggal di printer.

Tapi menurutku yang paling parah, ketika seseorang telah berani dengan sadar makan uang teman sendiri. Bagaimana tidak, uang yang dikumpulkan bulan demi selama tiga tahun bablas tak tersisa. Komentar sumpah serapah tak digubrisnya.

Namun tak semua bermental buruk tentunya. Aku salut kepada si Baik. Aku sering jalan bersama dia. Saat malam-malam, aku dan dia ngopi di warung apresiasi bulungan. Dia bercerita hanya mempunyai sedikit sahabat. Dan sahabat-sahabat dia semuanya berada di luar tempat kerjanya sekarang. Menurutnya lebih baik mempunyai satu sahabat yang bisa dipercaya, dari pada banyak tapi gak jelas.
"Aku rela mempertaruhkan nyawa, kalau memang itu perlu", kata dia suatu kletika.

Seperti Sungha dan Kumal di film Two brothers yang baru saja selesai aku tonton. Persahabatan mereka tak berkurang sedikit pun, walau harus terpisah jarak dan waktu yang lama. Sungha terjebak dalam kerangkeng milik seorang penguasa, dididik menjadi lebih kejam dan buas agar menang di satu arena pertempuran. Sementara si Kumal diperjual belikan hingga terdampar pada sebuah sirkus keliling.

Keduanya dipertemukan dalam satu arena adu macan tahunan yang diselenggarakan oleh raja. Pertarungan berlansung sengit. Namun ketika sungha terdesak dan memperhatikan sorot mata Kumal, Sungha jadi ingat peristiwa ketika mereka berdua memanjat pohon bersama dihutan. Keduanya lalu berpelukan.

Sungha tahu, dengan tidak mau membunuh "lawannya" dia akan berhadapan dengan kematian, karena sang raja selalu siap dengan senjata ditangan. Namun Sungha lebih memilih mempertahankan bersahabat dengan Kumal.

Hmm, aku jadi merasa "bangsat abis" dibanding Sungha dan Kumal. Tak ada lagi yang tersisa di diriku.....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home