fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, May 09, 2005

berbincang dengan arwah-arwah

Wah judulnya kok serem dan serius. Mungkin kau tak akan percaya apa yang akan kuceritakan ini. Peristiwa magis yang aku saksikan seutuhnya, tanpa penggalan-penggalan iklan seperti di teve. Aku secara tak sengaja menyaksikan peristiwa malam minggu itu. Karena tak ada kencan rutin, aku menerima tawaran temenku, namanya Luggas untuk menemani pergi kerumah saudaranya. Kata dia ada acara kumpul-kumpul, sekedar makan-makan malam.

Di rumah yang cukup besar itu, jam menunjukkan pukul 21.00. Saudara-saudara dekat yang diundang sudah hadir. Saya kenal semua yang datang, karena saya kenal dekat dengan keluatga besar Luggas. Hanya satu orang asing yang baru aku lihat malam itu. Laki-laki kurus berambut gondrong, yang kemudian aku tahu namanya Obaiman. Dia tetangga sebelah yang pengrajin kaligrafi aluminium. Dia mempekerjakan sekitar sepuluhan orang, semuanya perempuan.

Aku dan Luggas datang telat malam itu. karena hujan mengguyur sangat lebat. Jalanan macet, taksi tak ada yang mau menuju ke daerah situ. Sejak masih berada dalam perjalanan, Pak Gede, nama orang yang punya hajat sudah menelpon-nelpon terus, menanyakan sudah sampai dimana, disuruh untuk segera sampai, kasian yang lain menunggu.

Setengah jam sampai juga ke rumah Pak Gede. Tampak sekitar dua puluh orang telah berkerumun di ruangan yang beralaskan karpet merah maroon itu. Kusapukan mata kesekeliling, aku menemukan seikat kecil padi berikut tangkainya digantung diatas pintu utama bagian dalam. Lalu ada juga bungkusan kain warna putih yang sudah kusam, bentuknya kotak sebesar penghapus karet yang biasa aku pakau sewaktu kelas satu sd dulu. Ada juga tulisan arab di tempel diatasnya.

Aku dan Luggas langsung masuk ke rumah dan bersalaman dengan orang-orang yang datang lebih dulu. Tapi aku tak sempat salaman dan mengenalkan diri dengan Obaiman. Karena dia duduk diujung paling pojok. Ternyata dia yang akan memimpin acara ini. Acara pengajian, mengirim doa kepada lelulur, agar keluarga besar pak Teguh selamat. Minggu ini pak gede akan mengadakan dua pesta pernikahan.

Aku disuruh untuk menutup pintu gerbang dan memastikan untuk menguncinya. Karena acara akan dimulai. Pak Gede secara basa basi menyampaikan maksud adanya acara malam ini. Lalu Obaiman mulai melakukan pembacaan ayat alquran yang diikuti oleh bacaan basmalah sampai akhir sebanyak kurang lebih tiga kali, aku lupa-lupa ingat, karena aku mengamati beragam makanan yang disediakan dalam mangkok-mangkok kecil begitu banyak.

Ada apel merah, ketan (jadah), jeruk, jajan pasar yang terdiri dari kue-kue kering lima ratusan rupiah yang biasa terdapat diwarung rokok, agar-agar yang biasa untuk anak kecil, tempe dan ayam goreng, dan semacam sayur kacang merah mirip sayur gudeg krecek, emping dan kacang tanah garing yang masih terbungkus kulitnya. Setiap jenis makanan tersebut berjumlah tiga biji, kecuali agar-agar dan emping. Masing-masing satu piring penuh.

Tak hanya makanan yang komplet. Minuman pun tak kalah banyak ragamnya. Coca cola, fanta, sprit, teh, kopi manis, kopi pahit, es degan, dan air putih. Mirip dengan apa yang ada di resepsi pernikahan. Tapi masing-masing minuman tersebut hanya satu gelas. Ada juga rokok berbungkus-bungkus: sampoerna hijau, Mild, Gudang Garam merah, Djisamsoe, A mild. Dan yang paling menyolok diantara semuanya adalah dua baskom yang berisi pisang raja, dan ditengah-tengahnya tampak telor asin warna khas telor asin.

Ada sebaskom bermacam-macam bunga, melati, pacar dan bungan kenanga yang dibiarkan menyatu tanpa air.

Sambil mengucapkan ayat-ayat suci, Obaiman yang mengenakan peci itu menyulut 3 batang rokok yang berbeda. Lalu rokok-rokok tersebut secara bergantian diletakkan dalam sebuah piring ceper kecil yang telah diisi dengan arang yang menyala redup. Disamping piring arang yang mulai berasap, ada semacam bubuk. Saya mengira bubuk tersebut adalah dupa. Semacam bahan bakar agar arang tetap menyala redup dan menghasilkan asap putih.

Aku mencium aroma dupa, aromanya persis sama dengan dupa yang dibakar para pedagang-pedagang china glodok di depan toko-tokonya. Lalu serempak semua peserta yang hadir mengikuti ucapan-ucapan ayat suci yang diucapkan Obaiman. Semakin lama-semakin cepat sampai Obaiman tampak nafasnya tersengal-sengal. Dalam hati aku panik. Acara macam apa ini? Aku menduga pasti akan terjadi sesuatu yang tidak biasa. Orang-orang berpandangan, kecuali asisten Obaiman.

Dan benar saja tak berapa lama, Obaiman mengeluarkan suara tangis yang begitu penuh penyesalan. Nangis senangis-nangisnya. Dia trance. Persis seperti orang-orang Aceh yang tampak di layar teve yang kehilangan semua-muanya. Aku makin takut, tapi tetap diam tak berani bergerak. Aku hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya.

Salah satu ibu-ibu dari kerabat pak Gede ketakutan. Dia merapatkan tubuhnya dan memegangi pundakku. Dengan berbisik pelan dia bertanya apakah aku sudah sering mengalami hal yang seperti ini. Tenti saja aku jawab apa adanya, belum pernah. Aku meminta untuk tenang saja. Lalu dia duduk lemas sambil memegangi guci besar yang ada di pinggir ruangan.

Tiba-tiba saja tubuh Obaiman ambruk menelungkup ke karpet. Lalu tubuh kurus itu bangkit dan memeluk orang yang paling dekat. Orang yang dipeluk pertma adalah isteri pak Gede. Asisten Obaiman lalu memberi isyarat kepada pak Gede untuk segera menyambut kedatangan roh dan minta maaf. Pak Gede lalu menyambut tangan Obaiman dan menciumnya. Pak Gede dengan santun dan mirip pesakitan yang minta dikasihani bertanya. Suaranya agak takut.

"Maaf eyang Siapa yang datang ini, Eyang Xxxx?"

"Kau ternyata tak mengenaliku", mulut Obaiman menjawab dengan mata terpejam dan gusar. Nafasnya makin memburu, persis kayak habis lari marathon.

"Maaf ini Eyang yyyyyyy, dia menyebut salah satu neneknya yang telah meninggal.

"Gede Gede, ini simbok kamu. Aku mengucapkan terimakasih banyak, kalian semua telah datang kesini. Saudara memang harus saling rukun. Hati-hati hidup di jakarta yang keras."

Lalu Obaiman berjalan, masih dengan mata terpejam, sehingga dia menabrak-nabrak orang-orang yang duduk berderet melingkari "makanan" persembahan. Lalu orang-orang berdiri serentak. Aku ngga tahu mereka takut terinjak atau memang sengaja menyambutnya dengan hormat.

Obaiman semakin gesit memeluk orang-orang satu persatu sambil memberikan bisikan nasehat, agar berhati-hati dalam menjalani hidup. Orang-orang tampak merasa akan mendapat giliran dipeluk dan di nasehati. Aku berada di urutan yang paling ujung. Pada saat itu, Obaiman terlalu lama memeluk salah satu ayng hadir, sehingga ada bapak-bapak yang berusaha melepaskan, sambil mengucapkan ayat-ayat. Tiba-tiba, Obaiman dengan kasar melemparkan tangan bapak-bapak tersebut, sambil berbicara keras. Kali ini mata Obaiman menatap nyalang.

"Aku bukan orang gila. Aku orang yang bersih. Jangan sentuh aku."

"Oh Maafkan saya mbah, jawab bapak itu." Lalu keduanya bersalaman.

Ini adalah pengalaman pertamaku melihat seorang yang membaca ayat suci mengalamai trance.

Setelah semua mendapat pelukan dan bisikan nasehat, kira-kira setengah jam Obaiman lalu duduk. masih dalam keadaan trance, dia sepertinya menunggu pertanyaan dari para peserta. Ini aku ketahui setelah sang asisten mempersilakan untuk bertanya.

"Silakan mas kalau mau tanya. Dia tahu kok mas isi hati kalian-kalian."

Aku diam saja. Sejenak semua diam. Tak ada pertanyaan sama sekali. Barangkali semua berimajinasi atau berpikir apa sebenarnya yang telah terjadi. Roh-roh yang merasuk ke tubuh Obaiman yang baru saja terjadi adalah roh ibunya pak Gede. Padahal ibunya pak Gede masih segar bugar dan menjalani hidup tuanya yang sendirian di kampung halamannya dekat pesisir laut selatan.

Tiap orang menyimpan banyak pertanyaan di rongga otak keluarga besar pak Gede ini. Tapi tak ada yang bersuara. Seolah mereka tersihir dengan apa yang baru saja terjadi. Mulut Obaiman berguman, mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Lalu dia minta kopi pahit. Lalu asisten mengambil salah satu gelas yang berisi kopi hitam dan menyorongkan ke mulut Obaiman. Obaiman meneguk, lalu memuntahkan ke karpet. Rupanya asisten mengambil gelas yang berisi kopi manis. Lalu dia secara acak mengambil rokok di piring yang telah dinyalakan sebelumnya. Matanya berkerjap-kerjap lalu dia mengelus mukanya dilanjutkan menyapu seluruh rambutnya kebelakang.

Rupanya roh-roh sudah pergi dan sekarang Obaiman sudah sadar. Dia tak tampak kecapaian atau badanya berkeringat. Dia normal-normal saja, tak tampak sama sekali dia baru saja kemasukan roh. Roh-roh yang kemudian aku tahu dari ceritanya, bisa dipanggil dan diajak bicara. Lalu dia menceritakan, minggu lalu dia melakukan ritual yang sama di tempat keluarga lain. Karena semua anggota keluarga tersebut percaya, sudah yakin-seyakinnya dengan ritual yang dilakukan Obaiman, makan waktu itu perbincangan dengan roh bisa berlangsung sampai dua jam.

Di rumah pak Gede, malam itu hanya ada satu roh yang datang. Menurut Obaiman, karena banyak anggota keluarga pak Gede yang kurang mempercayainya. Maka roh-roh enggan datang dan bercakap-cakap dengan anggota keluarga.

Lalu Obaiman memerintahkan semua untuk memakan dan meminum semua hidangan. Satu persatu makanan diedarkan untuk dicicipi sesendok, agar cukup untuk semua yang hadir. Aku mau muntah ketika harus meminum es Degan dengan sendok yang sudah masuk ke mulut mulut orang itu. Aku menolak minum dan makan. Setiap gelas atau mangkok yang sampai ke giliranku, langsung aku operkan ke orang ada di sampingku. Dan dia juga menolaknya.

Aku menjadi semakin merasa aneh saja ketika Obaiman menyuruh kedua calon pengantin untuk mandi dengan kembang yang disediakan, kalau bisa nanti tengah malam pukul 00.00. Yang aku bayangkan, selain dingin yang sangat, juga sangat aneh. Aku saat itu merasa dianggap bodoh banget. Persis kayak sinetron-sinetron horor yang marak di tv. Tapi aku tak membantah atau mengiyakan.

Selanjutnya, kini acara makan yang sebenarnya. Perasaan sangat lapar, karena terburu-buru belum sempat makan. Aku melahap opor dan gudeg yang disediakan. Acara malam itu berakhir pukul 02.00 dinihari.

Sejak itu aku tak pernah lagi kerumah pak Gede. Kabar terakhir Dia terpaksa menjual mobil karena harus membayar semua kegiatan ritual yang telah dijalaninya, demi keselamatan. Obaiman diusir ketika dia mencoba memberikan sebuah batu yang katanya sakti. Pak gede harus membayar sejumlah uang "mahar" untuk mendapatkan batu yang berwarna kemerahan itu. Dan ternyata batu itu hanya batu kali biasa. (bersambung)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home