fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, May 10, 2005

ketika harus minta maaf

Minta maaf memang mudah diucapkan. Dan sejak kecil aku diajari untuk selalu memaafkan. Pak harto kini nyaris meninggal, hampir semua tokoh menyerukan untuk memaafkan sekaligus melupakan perkara-perkara hukum yang kini masih mengendap di pengadilan. Kira-kira apa yang kau rasakan ketika mendengar seruan mereka?

Memang mestinya kita memaafkan. Banyak tokoh dpr yang dulu pernah menjadi korban pak harto juga telah memberikan maafnya. Aku kira wajar saja, tokoh-tokoh di dpr itu memberi maaf dengan mudah. Karena kini hidup mereka lebih nyaman duduk sebagai wakil rakyat.

Kalau kau tanyakan bagaimana aku menyikapi, baiklah akan aku ceritakan sepenggal pengalamanku yang berhubungan dengan pak hartoism. Ketika itu aku sebagai reporter di salah satu media yang menjadi trendseter keberanian sebuah media. Tentu saja membanggakan, hari hari selalu berbunga-bunga. Ide, impian, keinginan, semangat saat itu sedang mekar-mekarnya. Tapi tak berlangsung lama. Semuanya berakhir ketika ada surat dari deppen bertanggal 24 Juni . Media itu diberangus. Alasanya sepele saja, laporan utamanya dikatakan tidak benar.

Lemes banget saat itu. Bagaimana tidak, semangat kerja sedang puncak-puncaknya. Belum lagi impian-impian untuk menjadi novelis akan segera terwujud, karena tak perlu lagi mikirin keuangan. Saat itu sudah ada rencana akan pemberian kredit rumah, tinggal tanda tangan. Juga fasilitas-fasilitas lain yang saat itu begitu mewah kurasakan dibanding saat ini. Aku baru menyadarinya sekarang-sekarang ini saja.

Lalu saya ikut menentang kesewenang-wenangan itu. Aku dan orang-orang yang merasa teraniaya itu demo ke depan deppen. Dengan memakai celana dan kaos hitam-hitam, aku turun kejalanan dan masuk dalam rombongan paling akhir. Saat sampai di depan Sarinah, ada yang mengabarkan para demonstran diinjak-injak dan digebukin sama tentara. Mereka berlarian ke lapangan monas yang waktu itu belum dipagari. Aku sangat kuatir, karena adikku ikut rombongan yang paling depan. Sampai keseokan harinya aku tidak bisa menghubungi dia. Belum musim hp waktu itu, harganya masih mahal sekitar tujuh jutaan.

Kekuatiranku terjawab ketika esok paginya, foto dia nampang di headline koran Jakarta Post. Dia baik-baik saja. Yang celaka adalah mas Gendut (sekarang sudah meninggal) dia digebuk kepalanya bagian depan. Kaca matanya hancur dan mata kirinya sobek. Untung bisa lari dan tentara juga tak mengejar. Lebih malang lagi seniman Semsar Siahaan (almarhum) kakinya hancur di injak dan digebukin di dekat stasiun gambir.

Tiap hari ikut demonstrasi. Minggu-minggu pertama masih terasa enak. Karena selalu disediakan makan siang Mac Donald dan air putih. Membawa spanduk-spanduk hitam, nyanyi-nyani lagu-lagu perjuangan, saya jadi inget kayak karnaval tujuh belasan waktu masih sekolah. Enaknya, kali ini masih mendapat gaji penuh dari perusahaan. Tapi uang makan sudah di stop.

Bulan berikutnya, praktis gak ada p emasukan lagi dan tiga bulan berikutnya ada phk. Tak ada gaji, tak ada kerjaan dan nyaris tanpa harapan. Luntang-lantung tanpa tujuan yang jelas. Sampai aku terdampar di tempatku sekrang ini.

Tapi sudahlah aku, aku lebih suka melupakan. Masih ada ribuan orang saat itu yang lebih kehilangan daripada saya. Nganti Wani, anak widji thukul (seorang aktifis kebudayaan yang sempat terkenal dengan puisinya, "hanya satu kata: LAWAN". Sampai sekarang entah kemana raibnya. ) dan beribu-ribu orang yang terputus penghidupan dan cintanya hanya karena menyuarakan sesuatu yang berbeda.

Kini sang penguasa itu lunglai dalam pembaringan, terbungkus selimut putih bergaris-garis dan tak punya kekuatan lagi. Untuk bernafas saja harus dibantu selang-selang. Untuk berbicara pun susah, walau sekedar ucapan maaf untuk terakhir yang terakhir. Segala benda-benda yang dikumpulkan dan diinginkan waktu berkuasa kini tak mampu membantunya.

Apakah orang-orang yang telah menjadi korbannya itu akan dengan ikhlas memaafkannya? Semoga saja mereka berbesar hati, walau harus dengan berurai airmata, teringat ketika pak harto begitu sistematis menguasai seluruh lini kehidupan negeri ini. Dialah yang waktu itu bisa menentukan hidup matinya seseorang. Hanya dia yang bisa membungkam suara-suara aktivis yang menyerukan keadilan dengan senjata.

Aku sendiri yang juga salah satu korban pak Harto, akan memaafkan. Tapi dengan syarat yang tak bisa diubah. Syarat itu hanya satu: Dia harus menyatakan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat indonesia dan orang-orang yang pernah dilukainya. Juga dia harus mengembalikan kekayaan yang telah dirampoknya. Tak perlu jujur-jujur amat berapa uang yang telah diambil, tapi cukuplah itu untuk membantu membayar utang negara, atau memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak yang tak mampu sekolah. Aku yakin, pasti dia akan dimaafkan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home