fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, May 19, 2005

malaikat yang menyamar

Jumat ini, aku harus bisa menemukan seorang malaikat. Aku mempersiapkan sejumlah uang yang akan kubagikan kepada malaikat-malaikat itu. Bukan pengen sok dermawan, bukan. Katanya sih, tiap sehabis sholat jumat banyak malaikat berkeliaran menguji kebaikan orang-orang.

Siang terik selepas sholat jumat usai, di depan masjid pondok indah orang berhamburan keluar dari lantai satu dan dua masjid terbesar itu melalui pintu-pintu di sisi kiri, kanan dan depan. Mereka seperti air yang memancar dari lubang-lubang sebuah bejana. Keluar dengan deras, saling berebut untuk segera sampai ke kavling sebelahnya (orang menyebutnya pasar jumat), untuk makan siang dan belanja bermacam jajanan dan barang-barang murah. Terlihat butir-butir air di jidat mereka.

Di pelataran masjid berjejer para pengemis, kebanyakan ibu-ibu. Ada juga kakek-kakek tua berjanggut putih berbaju dan bercelana warna hitam, mengacung-acungkan pecinya kepada setiap orang yang melintas di depannya. Tanpa alas kaki, kakek itu berdiri di atas plesteran semen yang pasti sangat panas.

Disampingnya seorang nenek dengan suaminya yang buta. "Kasihan om orang buta, kasihan om orang buta, bibir merahnya karena mengunyah sirih selalu mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Seperti kakek sebelumnya, suaminya memakai baju warna hitam dan celana hitam. Dan perempuan itu berbaju warna biru terang yang sudah sangat pudar warnanya.

Yang paling banyak adalah ibu-ibu muda dan sehat dengan dandanan lusuh sambil menggendong anak yang berumur setahunan. Kelompok ini hampir berada di seluruh pelataran. Dan dia lebih agresip, mencolek dan menarik baju orang-orang yang bergegas.

Orang-orang cuek tak mengacuhkannya. Hanya sedikit yang memberikan uang recehan. Mungkin pengunjung masjid telah memberikan infak, sodaqohnya untuk masjid. Karena sebelum sholat dimulai, diedarkan kotak amal tiap deretannya ( shaf nya). Atau mungkin juga pengunjung sudah bosan, mereka tiap jumat selalu berjubel di tempat ini.

Pernah satu kali aku melihat seorang ibu yang masih sangat muda (perkiraaanku 17 tahunan) mengajak bayinya yang masih merah. Ibu muda banget itu tampak kepayahan menggendong dan jalannya terkesan pelan dan hati-hati. Ternyata salah satu biji mata kirinya nya yang berwarna hitam, tertutup selaput putih sehingga mata itu nyaris berwarna putih semua.

Di samping kiri dan kanan jalan menuju keluar, berderet pengemis yang duduk. Pengemis ini adalah mereka yang cacat, entah kakinya tinggal satu atau tangannya yang buntung. Mereka seolah dengan sengaja memperlihatkan kelemahan mereka untuk menyebar empati. Dia hanya menengadahkan topi bututnya, tak mengeluarkan kata-kata apa-apa.

Lalu kuberjalan untuk menjauh menuju pohon besar yang ada di ujung halaman untuk mengamati gerak semua pengemis-pengemis itu. Mobil, sepeda motor, orang-orang bergerak zig-zag kearah yang tidak beraturan. Ada mobil yang keluar dari tempat parkir dan menuju jalan raya dan sebaliknya. Begitu juga orang yang akan ke kavling sebelah dan orang yang ingin keluar. Sementara jalan raya macet total, karena lampu merah yang berjarak 10 m selalu berwarna hijau hanya sebentar.

Suara mesin kendaraan berdengung dan klakson meraung-raung, beradu dengan suara pak satpam yang memberikan aba-aba parkir. Sementara para penjual asongan tak mau kalah. Ada juga pengiklan gratis yang selalu menyebarkan brosur-brosur-brosur produk mereka. Juga gadis-gadis cantik penjaja kartu perdana, rokok baru dan lainnya.

Tepat dibawah pohon itu, seorang ibu berbaju putih-putih dan berkerudung duduk sambil memangku bocah berumur 5 tahunan. Ibu itu tak tampak seperti pengemis yang kumal. Dia duduk diatas tikar yang digelarnya. Dan diatas tikar terpampang lembaran kertas yang mengabarkan bahwa anaknya lumpuh total, dan dia perlu biaya untuk menyembuhkan kaki lumpuh itu. Orang-orang memasukkan uangnya kedalam kotak yang disediakan di sebelah kirinya. Wajah ibu itu menunduk terus.

Aku jadi termangu, sekedar menerka-nerka, siapakah diantara malaikat-malaikat itu yang menyamar? Aku jelas tidak tahu, wong aku gak pernah dikasih tau ciri-ciri malaikat itu. Apakah aku akan membagikan semua uangku ke mereka? Rasanya tidak mungkin, karena aku juga masih perlu makan dan perlu beli bmw. Apakah aku akan memberikan kepada mereka secara acak saja......

0 Comments:

Post a Comment

<< Home